Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 03:34 WIB
POTENSI BUNGA
Hati Petani Tomohon Berbunga-Bunga
| Selasa, 22 Juli 2008 | 03:00 WIB
|
Share:

YURNALDI

Kalau bukan karena Festival Bunga Tomohon (Tomohon Flower Festival), entah kapan orang di luar Pulau Sulawesi mengenal keberadaan Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara. Padahal, masyarakat Tomohon sudah sejak 30 tahun lalu menjadi petani bunga. Karena bunga, prospek pariwisata Kota Tomohon diperkirakan akan cerah dan kesejahteraan petani juga meningkat.

Tengoklah Oscar Liuw (61), ketika sekitar 20.000 wisatawan Nusantara dan mancanegara menyaksikan Tomohon Flower Festival pada 3 Juli 2008 dan membuat kota seluas 147,22 kilometer persegi tersebut macet, ia tetap sibuk memetik bunga di kebunnya, di pinggir jalan di Desa Kakaskasen.

”Ini (Tomohon Flower Festival) sumber berkah baru, yang membuat saya, dan mungkin juga petani bunga lain, hatinya berbunga-bunga. Petani bunga punya prospek yang semakin cerah,” katanya.

Liuw mengaku dari lahan seluas 50 meter x 40 meter, hampir setiap hari ia bisa panen bunga. Dan setiap kali panen, sekali sepekan, ia bisa mengantongi uang sedikitnya Rp 400.000. ”Dalam sebulan, pendapatan dari panen bunga jauh melebihi nilai kalau tanam padi sawah, yang biaya produksinya tak jauh beda dengan biaya hasil panen. Artinya, keuntungan setiap kali panen tak mencapai 50 persen dari hasil sekali panen bunga,” ujarnya.

Liuw melukiskan, satu kuntum bunga sedap malam harganya Rp 2.500, sekuntum aster Jepang harganya Rp 500, bunga taikoko satu kuntum juga Rp 500, sedangkan bunga aster dengan akarnya Rp 1.000. Bahkan, bunga endemik Tomohon, anggrek kelapa (Phajus thankervillae), harganya bisa Rp 7.500 per kuntum.

”Itu harga dalam kondisi normal. Jika saat Natal, harganya naik beberapa kali lipat. Ketika permintaan meningkat, harga naik. Hampir tidak ada bunga yang terbuang percuma di Tomohon,” lanjut Liuw.

Sejumlah petani bunga lain yang dihubungi terpisah juga mengatakan hal senada. Berapa pun banyaknya bunga yang diproduksi petani tetap ada penampung atau pembelinya. ”Harga Rp 500 sampai Rp 7.500 per kuntum tergantung dari jenis bunganya. Itu adalah harga di kebun. Kalau dibeli di toko-toko penampung yang juga banyak di pinggir jalan utama Tomohon, harganya sudah di atas itu,” kata A Supit, petani bunga.

Lokal jadi prioritas

Ketika ditanyakan apakah ada produksi bunga yang diekspor, Liuw dan Supit mengatakan, kebutuhan lokal masih jadi prioritas. ”Kecuali kalau panen melimpah dan melebihi kebutuhan lokal, mungkin bisa jadi dikirim ke kota-kota lain atau diekspor ke negara tetangga,” ujarnya.

Panitia Tomohon Flower Festival melaporkan, pesta dan pawai 46 kendaraan hias menghabiskan 14 juta kuntum bunga. Satu mobil hias membelanjakan Rp 30 juta untuk pembelian bunga.

”Itu baru biaya beli bunga, upah pekerja, dan belum termasuk sewa mobil beberapa hari,” kata Sekretaris Koperasi Tani Bunga Phajus Simon Rampengan, yang mengerjakan pembuatan kendaraan hias Kota Palu.

Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar mengatakan, dari sekitar 100.000 jiwa warganya, ada sekitar 5.000 keluarga petani bunga. ”Kondisi alam yang berhawa sejuk dan tanah yang subur di ketinggian 400 meter-2.000 meter di atas permukaan laut membuat ribuan warga memilih menanam bunga daripada bertani padi sawah,” ujarnya.

Ia melukiskan, produksi bunga lima tahun lalu 1,5 juta sampai 2,5 juta kuntum per tahun untuk jenis bunga aster. Belum termasuk beberapa jenis bunga lain. Artinya, setiap kali panen warga bisa menikmati hasil panen dengan memuaskan.

Dengan luas tanam sekitar 90 hektar dan luas panen sekitar 70 hektar, produksi bunga mencapai sekitar 7 juta kuntum atau tangkai. Untuk masa mendatang, diyakini jumlah petani akan terus bertambah karena bunga sudah menjadi ikon dan trademark Kota Tomohon.

Menurut Jefferson, Tomohon Flower Festival 2008 bertujuan untuk mempromosikan potensi Tomohon sebagai Kota Bunga beserta industri pendukungnya agar dapat menjadi pusat industri bunga di Indonesia timur, sekaligus menjadikan Tomohon sebagai tujuan wisata, baik ekowisata maupun agrowisata.

Magnet baru

Saking ingin tahunya wisatawan tentang Festival Bunga yang mirip Pasadena of Roses hingga pukul 20.00 WITA arus kendaraan di Kota Bunga itu macet. Ribuan wisatawan memadati areal pameran 46 kendaraan hias bunga dari 46 kota di Lapangan Rindam, di pusat Kota Tomohon.

”Saya sangat terkesan dengan antusias masyarakat dan ini peristiwa pariwisata yang sangat menarik. Masyarakat agar tetap menjaga citra Kota Tomohon sebagai Kota Bunga,” kata Mufidah Jusuf Kalla yang membuka festival tersebut.

Menurut Rita, yang menjabat Direktur PT Agathis, walaupun ini yang pertama, kemeriahannya dengan sekitar 12 acara lain sudah luar biasa. Ini akan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Tomohon. Mungkin ke depan festival ini akan menjadi salah satu agenda wisata Indonesia yang menarik.

”Agenda wisata ini, jika rutin tiap tahun digelar, akan memosisikan Tomohon sebagai Pasadena-nya Indonesia. Pasadena dengan event Pasadena of Roses sudah dikenal di dunia. Wisatawan akan mencatat, setelah Pasadena, untuk festival bunga, ada Tomohon di Sulawesi Utara, Indonesia,” ungkap Wali Kota Tomohon Jefferson.

Dia mengatakan, tahun 2009 Pemerintah Kota Tomohon akan menggelar Tomohon Flower Festival yang lebih besar lagi, mungkin akan banyak kota Indonesia yang terlibat dan kota-kota di Asia Tenggara.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, Sulawesi Utara dengan beragam potensi, seperti yang ditampilkan salah satu potensi Kota Tomohon dengan agenda Tomohon Flower Festival, akan jadi daerah tujuan wisata alternatif setelah Bali.

”Tahun 2008 target wisatawan asing 6,4 juta orang. Namun, saya optimistis bisa melampaui target menjadi 7 juta orang. Tahun 2007, dari 5,5 juta wisatawan asing, 1,7 juta orang di antaranya mengunjungi Bali. Sulut baru didatangi sekitar 50.000 wisatawan asing. Ke depan kunjungan ke Sulut akan meningkat pesat. Dengan catatan, bupati/wali kota semakin kreatif menggali potensi dan terus menggalakkan sadar wisata dan sapta pesona,” ungkapnya.

Tomohon Flower Festival, lanjut Jero Wacik, diharapkan bisa menjadi kekuatan dan magnet untuk menarik wisatawan berkunjung ke daerah ini. Pemerintah telah menetapkan Sulawesi Utara sebagai destinasi utama tahun 2008.

Menurut Jefferson, perdagangan bunga telah meningkatkan pendapatan masyarakat Tomohon. Hal ini terlihat jelas dari meningkatnya indeks pembangunan masyarakat tahun 2005 dari 73,3 menjadi 74,7. Pertumbuhan ekonomi Kota Tomohon tahun lalu mencapai 4,1 persen dan saat ini diprediksikan 6,8 persen. Peningatan ini antara lain dari bunga.