Kamis, 30 Oktober 2014

/ Nasional

Trans 7 Buat Film Polisi Pariwisata Anak di Bali

Selasa, 13 Januari 2009 | 17:18 WIB

MEMPERKENALKAN profesi sejak dini dan mendekatkan anak terhadap cita-cita yang ingin dicapai setelah lulus dari bangku sekolah, Trans 7 kembali membuat film anak yang dramatis.
Kali ini filmnya mengisahkan sekelompok anak yang bercita-cita ingin menjadi polisi pariwisata. Tentu saja tujuannya untuk menciptakan rasa aman buat para turis baik lokal maupun mancanegara yang datang ke Bali.
 
Uniknya, ide cerita berawal dari renungan seorang pamen (perwira menengah) Polri, saat ia berada di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Waktu itu, ia ingin menumbuhkan jiwa kepolisian kepada anak-anak dan ingin sekali menunjukkan bahwa polisi bukanlah sosok menakutkan. Sebaliknya, anggota Polri menjadi sahabat setia dan menempatkan masyarakat bukan sebagai obyek, melainkan sebagai subyek yang harus diayomi, dilayani, dan dilindungi.
 
Siapa pria itu? Dia adalah Kombes Pol Gde Sugianyar, mantan Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Bumi Turangga Balikpapan yang sekarang menjadi Kabid Humas Polda Bali. "Inspirasinya datang saat mau bertugas dan pulang kampung ke Bali. Waktu itu saya sedang melakukan kontemplasi di Bandara Sepinggan Balikpapan," kenang Gde saat di konfirmasi melalui telepon.
 
Ia mengungkapkan, ide awalnya sederhana. Saat mengobrol bersama dengan beberapa teman wartawan yang mengantarnya di bandara, tercetuslah ide bagaimana menumbuhkan jiwa polisi kepada anak-anak dan mendekatkan anak-anak yang ingin menjadi polisi kepada cita-citanya.

Obrolan semakin panjang dan rupanya koresponden Trans 7 Kaltim, Albertus Prayudia, diam-diam tertarik dengan topik perbincangan yang kemudian menyampaikannya kepada Gatut Mukti, seorang pencipta program anak di Trans 7.
 
Ide sederhana itu dianggap luar biasa sampai kemudian Delvi Yandri salah seorang produser kawakan program anak di Trans 7 mengeksekusinya dengan membawa Syarah Rabiah  (kamerawan) dan Yuni Estuningtias (reporter) ke Bali.
 
Inspirasi ini lalu dituangkan dalam media visualisasi dengan pemeran anak-anak lokal dari daerah Tuban yang mempunyai karakter akting luar biasa. Dan sudah barang tentu ini menjadi episode Cita-citaku Jilid 2. Jilid pertama berisi cita-cita ingin jadi polisi dibuat di Kalimantan Timur dengan melibatkan anak-anak Grogot dan Balikpapan.
 
Sinopsis cerita film Cita-citaku Ingin Jadi Polisi Pariwisata berawal dari empat orang siswa (Faisal, Putu, Komang, dan Kadek) kelas 5 SDN No 6 Tuban, Bali, sedang bermain di Pantai Kuta. Tak disengaja mereka melihat seorang pencopet yang dikejar polisi pariwisata setelah menjarah seorang turis asing. Dan anak-anak ini kemudian ikut mengejar sampai akhirnya si penjahat tertangkap.
 
Aksi kejar-kejaran akhirnya membekas dalam diri anak-anak yang kemudian mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi polisi pariwisata yang gagah di mata mereka. Lalu anak-anak ini pun diajak untuk mengikuti pendidikan bersama para polisi pariwisata di Polda Bali.
Anak-anak ini akhirnya ikut belajar Bahasa Jepang, mengetahui tempat wisata di Bali dan latihan bela diri.
 
Selanjutnya, polisi dewasa mengajak polisi cilik berkunjung ke Call Center Polda Bali melihat layar CCTV yang terpantau dari 32 titik di Pulau Bali. Saat berada di Call Center tersebut, Faisal mencoba melayani pengaduan dari masyarakat. Faisal menerima laporan orang tenggelam di Nusa Dua, Bali.

Anak-anak yang sudah bertugas sebagai Polisi Pariwisata segera meluncur ke TKP untuk berkoordinasi dengan Balawista Nusa Dua menyelamatkan korban, dibantu oleh beberapa polisi pariwisata dewasa. Proses penyelamatan dengan menggunakan perahu karet berakhir setelah korban ditemukan dalam kondisi lemas. Ingin tahu kelanjutan cerita dan aksinya,  saksikan saja di Cita-citaku yang akan ditayangkan di Trans 7, Rabu 14 Januari 2009 pukul 15.00 Wita. (BEC)


Editor :