Bayang mentari sudah lenyap di balik gunung cadas yang menjulang bak tembok raksasa di kiri dan kanan. Lembah Chapursan diselimuti gelap.
Di bagian lain Pakistan, jangankan berada satu ruangan dengan kaum perempuan, memandang dan bercakap pun tak boleh. Orang Pakisan memang ramah tamah dan suka menerima tamu, tetapi kalau sudah urusan mengajak ke rumah biasanya agak berat, karena repotnya menjaga perempuan anggota keluarga agar jangan sampai terlihat orang luar. Tetapi di Chapursan, Karimabad, Sost, dan desa-desa lain di Lembah Hunza dan Gojal, aturannya jauh lebih longgar.
Barang yang terbungkus adalah selembar kertas sobek-sobek yang sudah menguning, umurnya ratusan atau mungkin bahkan sudah ribuan tahun. Saya tak berani menyentuhnya. Bahkan bernafas di dekatnya pun takut menghancurkan barang berharga itu. Di bagian atasnya tertulis huruf-huruf dan simbol aneh, melenggak-lenggok berbentuk seperti huruf Tibet, hanacaraka, atau Sanskerta. Mengharap saya menerjemahkan sandi-sandi ini sama muluknya dengan meminta saya menerjemahkan kakawin Majapahit.
“Dulu tempat ini didiami orang Budha,” katanya, “tetapi sekarang semua sudah memeluk agama Islam. Tak ada lagi orang yang bisa membaca huruf Sanskerta, padahal saya butuh sekali informasi untuk buku saya.” Ia membungkus kembali kertas kuno itu perlahan-lahan.
Budhisme pernah merambah tempat-tempat terpencil di lekukan gunung tinggi ini. Biksu China Hsuantsang dari dinasti Tang, yang lebih tersohor sebagai guru dari Kera Sakti dalam Legenda Perjalanan ke Barat, sesungguhnya pernah melintasi tempat ini dan mencatat tentang kehidupan umat di sini. Sekarang, Budhisme adalah masa lalu yang terputus. Kejayaan peradaban yang kini menjadi misteri. Orang sekarang meraba-raba masa lalu mereka dari serpihan yang tersisa.
Ahli linguistik masih gemar mempelajari bahasa Baltit di daerah Baltistan, tak jauh dari Gilgit, yang konon berkerabat erat dengan bahasa Tibet. Di Skardu ada batu besar berukir gambar Budha sedang bertapa. Di Lembah Swat, juga pegunungan tinggi di utara Pakistan, ada gunung yang berukir patung Budha berukuran raksasa. Di kota Taxila, tak jauh dari Islamabad, pernah ada kota Budha yang modern di zamannya.
Turun di mana? Benar-benar tak terpikir. Semula saya kira Chapursan adalah nama satu desa. Ternyata di sini ada puluhan desa. Noorkhan tak percaya kalau saya sama sekali tak tahu tujuan saya. Ia kemudian menyebut sederet nama desa, yang semuanya asing di telinga saya. Benar-benar tidak tahu harus memilih yang mana. Saya pun bukannya mau membeli kucing dalam karung. Apalagi gelap gulita sudah menyelimuti bumi, ke mana saya harus mencari-cari penginapan di desa-desa asing ini?
Noorkhan dan Aziz serempak tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu, kamu ikut kami saja, turun di rumah sepupu Aziz. Sepupu Aziz nanti akan membawa kamu jalan-jalan. Dia travel guide yang jagoan,” saran Noorkhan.
“Terima kasih... tetapi, saya tak punya banyak uang untuk membayar guide,” saya sedikit ragu dengan tawarannya.
“Jangan kuatir,” kata Aziz sambil menepuk pundak saya, “kamu adalah mehman – tamu kami. Kamu tahu kan artinya mehman?”
(Bersambung)
_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus Wibowo di Kompas Forum. Buruan registrasi!


