Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 03:40 WIB
Pemandu Wisata di Yogyakarta Masih Kurang
Lukas Adi Prasetyo | Rabu, 18 Februari 2009 | 19:35 WIB
|
Share:

YOGYAKARTA, RABU - Jika melihat tantangan dan peluang pariwisata Yogyakarta, jumlah pemandu wisata saat ini masih kurang. Rekrutmen memang rutin dilakukan dan peminatnya cukup banyak, namun untuk mendapat pemandu berkualitas, bukan perkara mudah.

Saat ini terdapat 412 pemandu wisata di DIY. Mereka rata-rata menguasai Bahasa Inggris dan satu bahasa asing secara aktif. Namun persebaran penguasaan bahasa asing selain Bahasa Inggris, sesuai lisensi yang mereka peroleh, tidak merata.

Pekan depan, kapal pesiar yang berisi 300-400 turis asal Jerman akan merapat di Semarang. Agenda mereka juga mendatangi Yogyakarta. Namun dari 412 pemandu hanya 15 orang yang menguasai Bahasa Jerman secara aktif. ujar Andi Mudhiuddin, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DIY, Rabu (18/2).

Padahal, menurut Andi, sangat mungkin satu wisatawan asing meminta dibantu oleh satu pemandu selama bepergian. Kekurangan jumlah pemandu di Yogyakarta, selain pada Bahasa Jerman, juga terjadi pada pemandu b erbahasa Rusia, Italia, Spanyol, dan Arab.  

"Pemandu yang memegang lisensi Bahasa Rusia, misalnya, tak lebih dari 10 orang. Padahal, cukup banyak orang Rusia yang berlibur ke Yogyakarta," ujarnya.

Pemandu wisata, lanjut Andi, adalah ujung tombak pariwisata. Sebab m ereka adalah orang yang berhubungan langsung dengan para wisatawan asing. Citra daerah dan negara, separuhnya berada di tangan mereka.

Kemampuan pemandu tak semata pandai berbahasa asing secara oral dan tulis. Namun juga harus berwawasan luas mengenai negara bersangkutan dan daerah tujuan wisata, beretika, dan memiliki kemampuan berkomunikasi.

Rekrutmen selalu diadakan periodik, biasanya setiap tiga tahun sekali. Peminatnya lumayan banyak, namun hanya sebagian yang tersaring. Itu pun, seiring waktu, hanya sebagian yang bisa memegang lisensi dan bertahan, katanya.

Tidak semua orang yang terlihat menjelaskan sesuatu pada turis asing, adalah pemandu. Namun sayangnya, kondisi ini masih sering ditemui di jalanan, seperti di Malioboro. Hal itu akan memperburuk citra pemandu wisata. Karenanya peran dan profesi guide perlu direposisi, dan pemerintah daerah harus membantu.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta Hadi Muhtar menyambut baik usulan HPI DIY. Kami tentu akan mengusahakan suasana kondisif bagi pemandu. "Mereka ujung tombak pertama untuk menunjukkan apa itu Yogyakarta dan pariwisatanya," tutur Hadi.