Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 03:56 WIB
Pariwisata Indonesia Harus Berkonsep "Green Tourism"
Asep Candra | Sabtu, 21 Februari 2009 | 11:57 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Wisatawan bisa menyewa perahu yang ditambatkan di pinggir Danau Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat, seperti terlihat Selasa (23/12).

TERKAIT:

PADANG, SABTU — Pariwisata Indonesia seharusnya memiliki konsep yang matang untuk mendatangkan wisatawan mancanegara salah satunya adalah konsep wisata hijau atau green tourism.

Pandangan itu disampaikan Direktur Biro Perjalanan Sumatera and Beyond, Ridwan Tulus, di Padang, Sabtu (21/2), di sela-sela rangkaian kunjungan sejumlah artis nasional ke Sumatera Barat (Sumbar).

Menurut dia, dalam konsep green tourism ada empat hal yang harus dipikirkan. Pertama, terhadap orang yang datang bisa diberikan sejenis ketentuan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tak boleh. Dengan demikian, masyarakat akan senang menerima pengunjung yang datang, demikian juga bagi orang yang datang akan merasa nyaman.

Kedua, seperti program yang digagas dalam penanaman terumbu karang. Hal ini dimaksudkan untuk memperkaya dan memperindah alam, artinya, kegiatan pariwisata bukan merusak lingkungan atau alam.

Selanjutnya, ketiga, bagaimana sebuah konsep wisata yang memberikan keuntungan langsung kepada masyarakat yang berada pada kawasan obyek wisata itu. Selama ini konsep pengembangan pariwisata malah menggeser masyarakat di sekitar kawasan wisata dan bukan melibatnya. Jadi, kata Ridwan, melalui green tourism masyarakat diajak ikut terlibat langsung dalam pengembangan pariwisata, dalam artian memerhatikan kearifan lokal.

Keempat, berkaitan dengan koservasi lingkungan pariwisata sehingga melalui konsep tersebut Padang dan Sumatera Barat ke depan bisa menjadi daerah tujuan wisata di dunia. Selama ini, katanya, pandangan orang dalam pengembangan pariwisata butuh investasi besar, sebetulnya tidak.

"Kita sangat yakin dengan program green tourism, karena sudah dilakukan dengan sekolah-sekolah di Inggris. Program kita menang di Inggris menyaingi sejumlah negara di antaranya Malaysia, Thailand, China, dan Korea, karena program yang digagas bisa menyentuh anak-anak sekolah," katanya.

Sumber :
Antara