JAKARTA, SELASA — Usaha pariwisata yang renewable dan juga bersifat universal sudah selayaknya ditangani dengan spirit industry foresight, terintegrasi, dan berorientasi masa depan. Namun, dibandingkan negara lain, Indonesia bisa dikatakan masih gagal dalam memanfaatkan potensi pariwisata.
"Kalau dikelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin pariwisata menjadi sumber devisa terbesar. Malaysia aja bisa mendatangkan 20 juta (wisatawan) lebih tahun 2007, masak kita tahun lalu hanya enam jutaan (wisatawan). Padahal, Indonesia punya banyak tempat wisata yang menarik, keragaman budaya yang kaya. Namun, karena tidak dikelola dengan baik, (tempat itu) menjadi kurang menarik," ujar anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Joko Santoso, di Jakarta, Selasa (24/2) dalam diskusi soal pariwisata yang diselenggarakan oleh Solusi Bangsa Center.
Menurut Joko, kesalahan para pemimpin bangsa ini terjadi karena menganggap pengelolaan pariwisata sebagai cost center dan bukan sebagai investasi yang bermuara pada pemasukan devisa.
