Jumat, 25 Juli 2014

/ Plesir

Napak Tilas Pelabuhan di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2009 | 12:12 WIB

Kompas.com - Lahir sebagai kota pelabuhan yang sibuk di awal abad 16,  Sunda Kalapa memiliki pelabuhan bernama sama, Sunda Kalapa saat berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda. Saat dikuasai oleh Fatahillah pada 1527 pelabuhan itu berubah nama menjadi Pelabuhan Jayakarta. Saat VOC menguasai Jayakarta dan nama kota diubah menjadi Batavia pada 1619 nama pelabuhan itu pun ikut berubah menjadi Pelabuhan Batavia. Setelah itu, nama Sunda Kelapa digunakan lagi hingga kini.

Pada tahun 1883 Batavia sudah memiliki dua pelabuhan, yaitu Pelabuhan  Batavia atau Sunda Kelapa dan Pelabuhan Tanjungpriok. Pelabuhan Tanjungpriok ini dibangun setelah terusan Suez dibuka pada 1819 sehingga hubungan melalui laut semakin ramai dan bongkar muat barang menjadi lebih singkat.

Akibatnya Pelabuhan Sunda Kelapa tidak mampu menampung kapal besar dari berbagai penjuru dunia maka kemudian diputuskan membangun pelabuhan lain di sebelah timur Sunda Kelapa, ya Tanjungpriok tadi. Dalam buku Sejarah Teluk Jakarta milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI disebutkan, pembangunan pelabuhan memakan waktu antara tahun 1877 dan 1883.

Memasuki abad 20, ternyata pelabuhan ini pun tak cukup lagi menampung kapal yang datang sehingga selama kurun waktu 1910-1917 pelabuhan ini diperluas. Fungsi pelabuhan pertama yang terletak di sebelah barat berdekatan dengan stasiun keretaapi dipergunakan oleh kapal-kapal dari Koninklijk Paketvaart Maatschappij dan Burus Philip Line. Sedangkan pelabuhan kedua khusus kapal pengangkut penumpang dari maskapai Nederland Rotterdamsche Loyd Ocean.

Di masa itu perahu-perahu kecil, tongkang, menjadi alat pengangkut barang dari pelabuhan ke luar yaitu ke tempat tujuan. Tongkang itu menggunakan Kali Ciliwung dan Ancol sebagai jalur yang juga sibuk.

Di tahun 1975 Pelabuhan Sunda Kelapa akhirnya menjadi pusat kegiatan bongkar muat kayu, meski Tanjungpriok juga melayani bongkar muat kayu. Pada 1990 Pelabuahn Sunda Kelapa ditetapkan sebagai pelabuhan tradisional yang mengacu pada upaya pelestarian kegiatan khususnya kegiatan bongkar muat kayu.

Selain dua pelabuhan besar itu, Jakarta masih punya pelabuhan lain, sekitar 2,5 km di sebelah timur Pelabuhan Tanjungpriok, yaitu Pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan ini semual tak bisa digunakan untuk tambat karena tak memiliki dermaga dan alurnya dangkal. Lumrah karena diperuntukkan bagi kapal kecil. Namun kemudian Pelabuhan Tanjungpriok dan Pelayaran Rakyat (Pelra) membangun dermaga untuk Kalibaru.

Di tahun 1952 mulailah orang menetap di kawasan ini. Perahu yang semula membawa barang dagangan seperti ikan, kelapa, jeruk ahirnya didominasi oleh kayu. Kala lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak masih ada, pelacur pun merambah ke perahu-perahu di sini.

Untuk melengkapi napak tilas pelabuhan di Jakarta, Pelabuhan Marunda tak boleh tertinggal meski pelabuhan ini terbilang baru. Pelabuhan kayu Marunda semula adalah desa pantai dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Sebelum 1977, di sini terdapat pelabuhan pendaratan ikan.


Editor :
Sumber: