Titik Nol (166): Negeri Para Petarung (2) - Kompas.com

Titik Nol (166): Negeri Para Petarung (2)

Kompas.com - 25/03/2009, 06:55 WIB
[Tayang:  Senin - Jumat]

 

 

Saya baru tahu betapa susahnya mencari orang Kandar. Bukan hanya medan gunung yang berat melintasi titik-titik rawan longsor, tetapi juga saya tak tahu bagaimana wujud orang Kandar.

Sekarang Farman, kawan seperjalanan saya, ingin membuat saya terkesan dengan perjalanan lintas gunung ini. Setiap kali kami berpapasan dengan orang yang bersurban atau berjenggot lebat, Farman langsung bilang, “Dia orang Kandar! Dia orang Kandar!”

Saya tidak percaya. Masa cuma surban dan jenggot yang menjadi karakteristik orang dari negeri petarung?

Benar saja, seorang pemuda malang langsung menjerit, “Bukan! Aku bukan dari Kandar!” Farman terpingkal-pingkal.

Kami singgah di sebuah rumah. “Selamat datang, ini adalah rumah pertama orang Kandar yang kita jumpai,” kata Farman bak seorang pemandu wisata. Sebagai seorang turis yang sama sekali buta pelosok gunung ini, saya cuma bisa mengamini.

Empat orang pria sedang sibuk bekerja. Ada yang menggergaji, ada yang memotong kayu. Semua berpakaian celana shalwar dan jubah kamiz. Kepalanya dibungkus surban putih, yang cara memasangnya pun tak lazim. Ujung lilitan surban tak panjang, menyerong ke atas seperti menantang langit.

Tiba-tiba seorang kakek tua yang melihat saya memotret-motret, dengan garang menerjang ke arah saya, mencoba merampas kamera yang saya pegang. Saya terkejut sampai terlompat.

Farman menghalangi si kakek yang walaupun sudah putih semua jenggotnya tetapi masih kuat cengkramannya itu. Farman membujuk kakek tua itu pergi menjauh. Mereka tertawa lepas, membahana, diiringi gaung dari gunung-gunung.

          “Kamu lihat sendiri kan betapa ganasnya orang Kandar?” Farman seolah mengejek saya.

Di mata saya, semua insiden tadi lebih nampak seperti drama yang dibikin oleh Farman untuk membuat saya terkesan. Sekali lagi, saya hanya seorang turis bodoh di sini, yang cuma bisa mendengar penjelasan seorang guide yang kredibilitasnjya patut dipertanyakan.

Serpihan kayu beterbangan ditiup angin. Deru mesin membahana mengisi kesepian gunung-gunung. Keempat orang ini kembali lagi ke kesibukannya setelah puas membuat saya pucat pasi.

          “Mereka membangun rumah. Bukan rumah sementara, tetapi rumah permanen. Bahan bangunannya ini dari saya. Dan mesin pemotong kayu ini juga punya saya,” kata Farman bangga. Kayu gelondongan yang kasar berubah menjadi balok-balok kurus dan rapi setelah melewati mesin ini.

Farman ternyata bukan orang sembarangan. Setahu saya ia adalah seorang korban gempa yang menerima santunan bahan bangunan dari organisasi tempat saya bekerja. Ternyata dia sendiri juga punya organisasi kemanusiaan yang mendistribusikan kayu dan mesin ke penduduk di puncak pegunungan. Entah mengapa orang sekaya Farman masih masuk dalam daftar penerima santunan korban gempa.

Dari cara bicara keempat orang ‘Kandar’ itu, nampak jelas mereka sangat berterima kasih terhadap Farman. Cara bicara mereka yang kasar, teriakan yang terus bergaung bersaing dengan deru mesin pemotong, wajah yang keras, cara berpakaian yang sangat jantan, semuanya berubah menjadi harimau jinak di hadapan Farman. Hormat dan santun.

Seorang pemuda di antara keempat penduduk desa itu menunjukkan tangan kanannya yang kehilangan sepotong jarinya. “Ini karena kebiasaan orang Kandar, kebiasaan dezim-dezim,” jelasnya. Dezim-dezim adalah onomatopoeia, tiruan bunyi orang berkelahi. Saya lebih percaya kalau dia bilang jarinya hilang karena kecelakaan mesin pemotong kayu yang sangat berbahaya.

Saya sudah siap menggeret Farman lagi untuk meneruskan perjalanan mencari desa Kandar yang sesungguhnya. Farman nampak malas sekali. “Kita istirahat satu menit ya. Kamu kan juga lelah.”

‘Satu menit’ yang dimaksudnya, ternyata molor sampai satu jam. Istri kakek tua menghidangkan telur dadar yang minyaknya melimpah ruah. Farman berbasa-basi menolak makanan itu, tetapi akhirnya malah menghabiskan separuh jatah saya. Saya tak heran kalau misalnya sebentar lagi ia akan mengandung bayinya yang keempat dalam perut tambunnya.

Kami meneruskan pendakian. Jalan gunung ini semakin lama semakin susah. Terkadang harus melewati daerah longsoran. Terkadang harus melewati jembatan sempit dan rapuh di atas sungai yang mengalir deras. Terkadang, kita harus melewati batu-batu besar yang menghalangi jalan sempit di tepi jurang. Bagi orang Kashmir, jalan seperti ini adalah menu sehari-hari. Orang Kandar bisa turun ke Noraseri dalam hitungan berapa puluh menit saja. Sedangkan saya, rasanya enam jam pun tak cukup untuk mencapai puncak gunung.

Farman menggeleng, “Kalau kamu jalan seperti ini terus, sampai besok pun kita tidak akan sampai ke Kandar.”

Di tengah kesusahan pendakian ini, saya melihat seorang pria berpakaian shalwar kamiz meloncati batu-batu besar di lereng tebing dengan setumpuk kayu di atas kepalanya. Loncatannya lihai, namun teramat santai. Sedangkan saya harus merangkak dan meraba menyusuri tebing.

Kami akhirnya tiba di desa kedua. Apakah ini Kandar? Saya masih belum yakin. Di sini tiga orang pria sedang beristirahat dalam tenda. Rumah mereka sudah dikutuk menjadi hamparan batu berserakan. Kini mereka mulai membangun rumah kayu, masih dalam tahap memasang patok-patok.

          “Kami memang suka berkelahi,” kata seorang di antara mereka, “karena dezim-dezim sudah bagian dari hidup kami. Cuma kami tidak pernah ber-dezim-dezim di hadapan tamu, apalagi orang asing.” Walaupun demikian, sifat kasar orang sini sudah jamak diketahui semua orang. Bahkan seorang tenaga sukarelawan perempuan dari Inggris, yang pernah bekerja di desa ini, sampai minggat karena frustrasi. “Padahal kami tidak berkelahi sama sekali waktu dia membagi-bagi makanan. Kami baru berkelahi setelah dia pergi. Kok bisa frustrasi ya?” pria itu masih keheranan sendiri.

Tak tahulah. Saya juga bingung dengan orang-orang aneh ini.

(Bersambung)

_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus  Wibowo di Kompas Forum. Buruan registrasi!


Editor

Close Ads X