Icip-icip Racikan Rahasia RA Kartini - Kompas.com

Icip-icip Racikan Rahasia RA Kartini

Kompas.com - 10/05/2009, 08:20 WIB

MINGGU, KOMPAS.com - Tak banyak hotel yang memberi perhatian pada peringatan Hari Kartini seperti Hotel Tugu Kota Malang, khususnya dalam seni kuliner Nusantara. Apalagi dalam satu satu buku yang ditulis oleh penulis Belanda disebutkan bahwa RA Kartini selain gemar membatik dan membuat ukiran, ia juga gemar memasak.

Racikan pahlawan wanita Indonesia itu banyak dipengaruhi oleh gaya kuliner dari Belanda, Arab di samping Jawa Tengah. Aneka menu resep wanita Jepara itu dikenalkan pada para tamu yang datang ke hotel, khususnya di Melati Restorant.

“Resep-resep masakan kegemaran RA Kartini yang tersusun dalam Bahasa Jawa itu telah menjadi beberapa buku yang berjudul Lajang Panoentoen Bab Olah Olah,” terang Crescentia H, Executive Assistant Manager Hotel Tugu Malang.

Bagi kita yang berada di abad 21 ini, resep-resep itu terasa sangat unik dan sederhana. Untuk itu pihaknya tetap merasa memiliki ‘kewajiban’ untuk mengenalkan resep-resep sebagai bentuk ikut melestarikan budaya. “Ketika pertama kali dilaunching, animo tamu sangat tinggi,” kata Bu Cres, panggilan akrabnya.

Titik utama dari menu ini adalah pada sego atau nasi. Sebab tiap jenis nasi, rasanya berbeda. Begitu juga pengolahannya. Ini yang menjadi daya tarik karena biasanya nasi disajikan dengan rasa tawar. Beberapa menu yang disiapkan untuk program ini adalah Sego Langgi, Sego Wuduk, Sego Liwet Ayam, Sego Goreng Iboe Ngasirah, Sego Rames Kardinah, Sego Brongkos, Sego Bogana dan Sego Kebuli.

Ny Toshiko Ohmatoi, warga Jepang yang tinggal di Kota Batu sempat mencicipi cita rasa salah satu resep Kartini itu. “Enak juga unik?” komentar Toshiko ketika menikmati Sego Langgi. Yang membuat unik pada penampilan setiap nasi ini adalah kemasannya.

Tugu meletakkan makanan itu pada piring tanah liat besar. Menu Sego Wuduk misalnya, nasinya berupa nasi gurih (nasi yang dimasak dengan santan) dengan lauk cumi bumbu merah, petai, sambal goreng tempe kentang petai, tumis daun pepaya dan sambal bajag dibungkus daun. Kemudian rempeyek teri dalam ukuran besar diletakkan di sisi bungkusan nasi itu. Hmmm sungguh membuat kemecer.

Enak sekali apalagi ketika dimakan pada siang hari sambil menikmati es teh jeruk dalam ukuran besar. Entah mengapa rempeyek yang disajikan dibuat dalam ukuran besar. Malah mungkin rempeyek itu bisa dimakan untuk tiga orang.

“Rempeyek itu dibuat di wajan yang besar. Kalau rempeyeknya dibuat besar, mungkin biar benar-benar menikmati makanan itu dalam suasana santai,” cerita Bu Cres.

Bagaimana ‘isi perut’ Sego Langgi? Isinya tentu saja nasi dengan dadar telur, sate daging manis, balado teri dan kacang, lalapan mentimun, kemangi, sambal terasi, bacem tempe tahu dan krupuk samiler.

Sedang Sego Liwet Ayam, lauknya ada plecing kangkung, sambal jeruk limau, ayam goreng bumbu dan krupuk puli. Sedang Sego Goreng Iboe Ngasirah berupa nasi goreng dengan sate daging kelapa, krupuk udang dan sambal terasi. Sego Rames Kardinah adalah nasi dengan dendeng ragi Trunojoyo, udang goreng kering, tempe goreng, perkedel kepiting, sambal goreng tempe petai bertabur kacang goreng.

Sedang Sego Brongkos berisi nasi dengan empal gepuk, paru goreng, sambal ijo, tahu bacem, lalapan bendoyo dan rempeyek teri. Sego Bogana berisi nasi dengan sate kambing, acar nanas dan kacang panjang. Sego Kebuli berisi nasi dengan ayam goreng Jawa, serundeng, sambal goreng kentang, paru goreng, sambal bajak, timun, kemangi dengan pindang telur. “Semua jenis masakan ini enak dimakan untuk pagi, siang atau malam hari,” pungkasnya. Mau icip-icip resep RA Kartini di Malang? sylvianita widyawati

Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM