Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 03:48 WIB
PGI: Jawaban JK-Wiranto Kurang Memuaskan
Caroline Damanik | Senin, 8 Juni 2009 | 13:01 WIB
|
Share:

LIN
Calon presiden Jusuf Kalla saat hendak meninggalkan kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di kawasan Salemba, Senin (8/6). JK bersama pasangannya, Wiranto, bersilaturahmi dengan PGI terkait pencalonannya dalam Pemilihan Presiden mendatang.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) AA Yewangoe membantah bahwa keterbukaan mereka terhadap kedatangan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dapat diartikan sebagai suatu bentuk dukungan terhadap pasangan calon ini dalam pemilu presiden mendatang.

"Tidak. Kami tetap pada sikap bahwa gereja itu netral. Kedatangan mereka atas permintaan mereka sendiri. Kami tidak bisa tutup pintu. Setiap orang bebas datang," tutur Yewangoe di ruang kerjanya seusai bertemu dengan pasangan JK-Win, Senin (8/6).

Buktinya, besok, Selasa (9/6), pasangan Megawati dan Prabowo juga akan melakukan kunjungan serupa ke PGI sekitar pukul 09.00. Oleh karena itu, pihaknya menyiapkan masukan-masukan yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk disampaikan kepada setiap pasangan calon yang datang.

Yewangoe menegaskan, masukan-masukan ini hanyalah bentuk tanggung jawab gereja dalam kehidupan berpolitik dan bernegara. Namun, Yewangoe sekali lagi menegaskan bahwa gereja tetap berpegang pada komitmen untuk tidak berpolitik praktis.

Menurut Yewangoe, hasil pertemuan dengan seluruh pasangan calon orang nomor satu dan dua di negeri ini nantinya akan disebarkan kepada jemaat melalui surat sebagai bahan pertimbangan jemaat dalam menentukan pilihan. Namun, belum dipastikan formatnya. Lagipula, baru dua pasangan yang sudah memastikan datang. Pasangan SBY dan Boediono belum.

Menanggapi jawaban dan tanggapan JK dan Wiranto dalam silaturahim tadi pagi, Yewangoe masih merasa kurang puas terkait komitmen mereka dalam bidang-bidang yang menjadi masukan PGI. "Jawaban beliau kurang tegas. Masih normatif," tandas Yewangoe.