
YOGYAKATA, KOMPAS.com - Tingkat hunian hotel di Yogyakarta mencapai 70 hingga 80 persen pada musim liburan tahun ini. Jumlah ini naik sekitar 10 sampai 20 persen dibanding periode bulan Januari-April yang hanya mencapai 55-60 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia DIY Istidjap Danunegoro, Kamis (2/7), mengungkapkan kenaikan tamu tid ak hanya terjadi pada hotel berbintang, tetapi juga kelas melati. Mereka adalah orang-orang yang sengaja datang untuk berwisata ke Yogyakarta, ataupun alasan mengikuti kampanye calon presiden dan wakil presiden.
Kebetulan Yogyakarta memang menjadi tujuan wisata ke dua di Indonesia setelah Bali. Sehingga kunjungan wisatawan sangat terasa. Bahkan, ada hotel yang menolak tamu karena memang sudah penuh atau terpesan, ujarnya. Jumlah hotel bintang 5 di Yogyakarta ada 17 buah, bintang 1-2 sebanyak 30, dan sisanya 120-an hotel kelas melati.
Menurut Istidjap kunjungan wisatawan masih akan ramai hingga pertengahan Agustus. Setelah tanggal 20 Agustus hingga satu bulan ke depan kunjungan akan turun karena alasan puasa. Wisatwan akan kembali ramai setelah lebaran, meski tingkat huniannya tak akan seramai musim libur.
Waspada Flu Babi
Dihubungi terpisah, Sumarto Ketua Satuan Tugas Flu Burung dan Flu Babi DIY meminta pihak perhotelan waspada terhadap tamu, terutama yang berasal dari Bali karena di pulau dewata itu di nyatakan kondisi luar biasa flu babi (H1N1). Selama ini banyak wisatawan melanjutkan perjalanan dari Bali ke Yogyakarta.
Himbauan ini, menurut Sumarto bukan tanpa alasan. Selama ini termoscaner atau pemantau suhu badan di Bandara Adisutjipto Yogyakarta ha nya berada di pintu kedatangan penumpang dari luar negeri. Pintu kedatangan dari dalam negeri (domestik) tidak diberi piranti tersebut.
Potensi penularan melalui wisatawan yang punya riwayat berasal dari daerah yang terjangkiti flu babi cukup besar. Hal i tu sudah terjadi di luar negeri, seperti wisatawan di Australia yang baru saja dari Meksiko (negara di mana awal virus ini ditemukan), ujarnya.
Menurut Sumarto pihaknya tidak mungkin melakukan sweping atau pemeriksaan ke hotel-hotel, karena DIY belum dalam kondisi luar biasa. "Untuk itulah kami mengingatkan pihak hotel. Salah satunya segera menghubungi pihak terkait jika ditemukan ada tamu yang sakit mencurigakan," katanya.