Sebenernya igo bukan nama makanan dan juga bukan singkatan. Igo adalah sebuah permainan yang berasal dari Jepang yang sifatnya seperti catur alias sebuah
Tapi, igo berbeda dari catur yang memainkannya sesuai tugas dari bidaknya. Igo menggunakan ratusan biji yang terbuat dari batu dan tujuannya bukan menjatuhkan raja lawan, melainkan memperluas daerah kekuasaan.
Igo sendiri mulai populer di kalangan remaja Indonesia melalui
Permainan yang tadinya hanya dimainkan kakek-kakek kini mulai
Komunitas igo di Indonesia ini ada sejak tahun 1980-an. Tapi, baru satu tahun belakangan ini menjadi Federasi Igo Indonesia.
Setiap anggota memiliki alasan tersendiri mengapa mereka mau masuk ke komunitas ini walaupun kebanyakan mereka mengatakan tertarik karena membaca
Igo berbeda dari permainan strategi lainnya, seperti catur. Seperti yang dikatakan Edwin Halim (28) yang merupakan Ketua Federasi Igo Indonesia, ”Igo memiliki kemampuan melatih tidak hanya strategi, tapi juga emosi dari pemainnya. Mereka harus tahu kapan menyerang, kapan bertahan, dan kapan mengibarkan bendera putih alias menyerah,” katanya.
Di Indonesia, komunitas igo ada sejak tahun 1980-an. Sayangnya, pasang surut sponsor yang mau mensponsori membuat komunitas ini sulit berkembang.
Rencana komunitas igo dalam jangka pendek adalah memasukkan permainan igo sebagai induk organisasi olahraga di bawah KONI.
Sampai sekarang anggota resminya mencapai 50 orang, walaupun sebenernya pemain igo di Indonesia sudah mencapai ribuan orang. Prestasi yang pernah mereka raih salah satunya juara empat
Selain di Japan Foundation, komunitas igo juga bisa ditemukan di sekolah-sekolah dan universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. Misalkan komunitas igo yang ada di SMA 77 dan SMAK 1, tidak lupa menyebutkan Universitas Indonesia yang belum lama ini mengadakan turnamen igo antaruniversitas.
Igo merupakan permainan sederhana untuk ukuran peraturannya. Namun, yang membuatnya menjadi rumit adalah cara bermain atau teknik-teknik yang bisa dimainkan dalam igo.
Tidak seperti catur yang bidaknya masing-masing sudah memiliki fungsi dan langkah yang ditentukan, gerakan dari igo bisa mencapai ribuan variasi karena setiap bijinya tidak memiliki fungsi tertentu.
Untuk para mudaers, permainan ini juga membantu dalam mengembangkan otak kanan dan otak kiri secara seimbang karena memerlukan strategi dan imajinasi dari para pemainnya.
Adapun kekurangannya, permainan ini sangat menyita waktu. Permainan igo sendiri terbagi atas beberapa tingkatan, baik amatir maupun profesional. Dalam permainan igo terdapat 35 tingkatan.
Untuk waktu permainannya, semakin tinggi level pemain, maka semakin lama pula waktu permainannya. Bayangkan saja, pada final permainan igo level
Menilik sejarah igo, menurut legenda, permainan ini digunakan sebagai alat bantu belajar setelah Kaisar Tiongkok Yao (2337-2258 SM) merancangnya untuk Danzhu, anaknya, yang dianggap perlu belajar disiplin, konsentrasi, dan keseimbangan.
Sumber lain mengatakan igo lahir dari tangan ahli perang dan jenderal Tiongkok yang pada zaman dahulu kala menggunakan batu-batu untuk merencanakan posisi penyerangan. Ada juga yang mengatakan dulu peralatan igo berhubungan dengan peramalan atau pengendalian banjir.
Sebelum zaman industri di Tiongkok, igo dipandang sebagai permainan para aristokrat, sedangkan xiangqi (catur Tiongkok) dianggap sebagai permainan rakyat jelata.
Igo dulu dianggap sebagai salah satu seni kaum terpelajar Tiongkok, bersamaan dengan kaligrafi Tiongkok, seni lukis Tiongkok, dan bermain guqin. Keempatnya dikenal sebagai Empat Seni Kaum Terpelajar Tiongkok.
Di Jepang permainan igo sudah dijadikan profesi. Di Indonesia, permainan ini masih sebatas penyalur hobi semata.
Selain itu, pemain-pemain igo di Indonesia juga belum terjaring dalam wadah organisasi. Kalo mau bertemu dengan mereka sekaligus belajar bermain igo, para mudaers bisa menemui mereka tiap Jumat pukul 5 sore di Japan Foundation yang terletak di Gedung Summitmas Lt 2, Jalan Jend Sudirman Kav 61-62 (


