Kamis, 24 April 2014

/ Travel

Menengok Masjid-Masjid Bersejarah di Aceh

Kamis, 27 Agustus 2009 | 08:46 WIB

Baca juga

BANDA ACEH, KOMPAS.com -Pertama kali mendapat pengaruh Islam, Aceh memiliki banyak peninggalan bersejarah, terutama masjid-masjid berusia ratusan tahun.

Baik di masa Kerajaan Samudera Pasai --kerajaan Islam pertama di Nusantara, maupun di masa penjajahan, masjid-masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, melainkan juga sebagai tempat kegiatan sosial, termasuk pendidikan. Bahkan juga sebagai pusat kebudayaan Islam.

"Untuk itu Direktorat Nilai Sejarah, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, berusaha mewujudkan kesadaran sejarah masyarakat yang akhirnya mampu memperkokoh integrasi bangsa dengan cara mempublikasikan fungsi dan peranan masjid-masjid bersejarah tersebut," kata Direktur Nilai Sejarah Depbudpar, Sabri, beberapa waktu lalu.

Untuk memperkenalkan kembali masjid-masjid bersejarah di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu, Depbudpar mengajak sejumlah wartawan mengunjungi masjid-masjid tua di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, kabupaten Aceh Barat, dan Kota Sabang.  

Wisata Spiritual

Keberadaan masjid pascabencana tsunami, 26 Desember 2004, seperti sebuah keajaiban yang diperlihatkan Sang Pencipta. Bayangkan, ketika bangunan di sekitar rubuh dan hanyut dihantam gelombang tsunami, namun masjid berdiri kokoh, hanya sedikit mengalami kerusakan.

Warga yang berlindung di masjid, selamat dari gelombang tsunami. Masjid Raya Baiturahman dan Masjid Baiturrahim, di pusat Kota Banda Aceh, misalnya, sampai sekarang sudah menjadi tujuan wisata.

Tidak hanya di Kota Banda Aceh. Di kota/kabupaten lain di Provinsi Aceh, juga memiliki kekayaan khasanah bangsa berupa masjid tua. Masjid-masjid kuno di Aceh selain menarik digali dan dikaji sejarah dan arsitekturnya, juga bisa dikembangkan sebagai obyek wisata spiritual.

Provinsi Aceh memiliki banyak masjid bernilai sejarah, berusia ratusan tahun. Perlu digali kesejarahannya dan dikaji arsitekturnya untuk pengetahuan masyarakat. "Juga menarik untuk dijadikan obyek wisata spiritual," kata Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Bupati Aceh Besar Bukhari Daud, secara terpisah di Indrapuri mengatakan, bahwa masjid tua di Aceh Besar, yakni Benteng Masjid Indrapuri, yang dibangun abad ke-10 Masehi, juga menginspirasi arsitektur masjid Muslimin Pancasila di berbagai daerah di Nusantara. bahkan, masjid tertua dan terkenal di Demak pun mencontoh arsitektur Benteng Masjid Indapuri.

Berubah bentuk

Di Desa Manjing, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Aceh Barat, didapati masjid tua yang dimakan rayap, yakni Masjid Tuha Manjing. "Masjid ini sangat layak dijadikan benda cagar budaya dan direkonstruksi," kata Dahlia, Kasi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Aceh.  

Sedang di Sabang, masjid Jamik Baiturrahman, masjid tempat calon jemaah haji Indonesia dikarantina sebelum diberangkatkan dengan kapal ke Mekkah, di masa-masa sebelum 1924, karena kurang sosialisasi tentang benda cagar budaya (BCB), sudah berubah bentuk.

Masjid ini sangat bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Ketika orang Indonesia naik haji ke Mekkah, yang dulu satu-satunya dengan perjalanan laut, calon jemaah haji dari berbagai daerah di Indonesia dikarantina di Masjid Jamik Baiturrahman, sebelum diberangkatkan dari Pelabuhan Sabang. Di seputar masjid terdapat penginapan-penginapan, kata Jamin Seda, sfat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang.

Direktur Nilai Sejarah Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, sangat menyayangkan kondisi Masjid Jamik Baiturrahman sudah berubah bentuk.

"Ini akibat kurang tersosialisasinya Undang-undang tentang Benda Cagar Budaya di Provinsi Aceh . Mestinya, kalau kalau ingin membangun masjid, jangan merubah dan menghancurkan masjid tua yang sudah bisa dikategorikan BCB. Tetapi bangun masjid baru berdampingan dengan masjid tua," papar Sabri.

Jika di Sabang masjid tua sudah berubah bentuk, maka di Kabupaten Pidie, masjid tua tengku Chik di Pasi, yang dibangun abad ke-17 di Gampong Guci Rumpong, kecamatan Peukan Baro, tetap terpelihara baik. Di sisi kanan dibangun masjid baru yang lebih luas.

Walaupun terpelihara baik, namun sangat disayangkan juga, karena terjadi perubahan mencolok seperti pengecatan seluruh unsur-unsur bangunan, yaitu dinding, tiang, dan pola hias pada balok-balok pengikat.

Di depan masjid di sisi utara, terdapat dua buah guci Siam dengan warna glassir coklat tua, yang diletakkan dalam sebuah cangkup, merupakan hadiah dari Kerajaan Cina. Air y ang diambil dari guci, menurut warga setempat, diyakini bisa mengobat segala penyakit. Masjid tua ini banyak dikunjungi warga Aceh dan juga wisatawan luar negeri, terutama Malaysia.

Hal yang sama juga terjadi di Masjid Gunong Kelang, di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Masjid tua yang dibangun abad ke-20 ini (belum terdata tahun pembangunannya), juga dicat seluruh bangunannya.


Editor :