BATAM, KOMPAS.com - Pengurus Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau (Kepri) meminta pemerintah provinsi (pemprov) setempat dapat segera membebaskan lahan di sekitar masjid demi kenyamanan beribadah di masjid bersejarah tersebut.
"Harapan kami pemprov bisa membebaskan lahan di sekitar masjid yang di kiri-kanan sudah dipadati rumah-rumah warga," ujar Ketua Pengurus Masjid Sultan Riau, Raja Haji Abdul Rahman di Pulau Penyengat, Senin (26/10).
Menurut dia, saat ini warga sekitar mulai kesulitan mendapatkan tempat jika melaksanakan shalat berjamaah khususnya shalat Jumat atau shalat hari raya di masjid yang dibangun pertama kali pada tahun 1832 itu.
Masjid yang memiliki panjang 19,8 meter dan lebar 18 meter itu tidak lagi dapat menampung jemaah meski sudah memanfaatkan halaman depannya. "Harapan kami pemprov bisa membebaskan lahan di kiri-kanan masjid ini, sehingga kawasan masjid bisa diperluas agar mampu menampung jemaah yang dari hari ke hari terus bertambah," katanya.
Selain itu ia juga berharap Pemprov Kepri memperhatikan kondisi bangunan masjid yang sudah tua dan di sana-sini mulai terjadi pelapukan. Pemprov juga diharapkan dapat menyediakan genset untuk penerangan serta tenda untuk tempat berteduh jemaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid.
Menanggapi harapan tersebut, Asisten Administrasi Umum Setdaprov Kepri Arifin mengatakan, pengurus masjid semestinya dapat menyampaikan seluruh persoalan yang dihadapi kepada badan yang telah dibentuk untuk itu.
Menurut dia, seharusnya persoalan seperti itu disampaikan ke Badan Pengelola Pulau Penyengat, tidak perlu langsung ke pemprov. "Tapi mungkin ada masalah di sana, sehingga salurannya menjadi tersumbat dan pemprov tidak pernah mendapat laporan tentang persoalan masjid itu," katanya.
Masjid Raya Sultan Riau masih berdiri dengan megah di pulau seluas 3,5 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 2.600-an jiwa itu.
Untuk mencapai masjid yang dibangun atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahman (Marhum Kampung Bulang) itu dibutuhkan waktu sekitar 60 menit perjalanan dengan menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Punggur di Pulau Batam ke Tanjungpinang ditambah perjalanan selama 10 menit menggunakan kapal cepat dari Tanjungpinang.
Masjid tersebut ditopang empat tiang beton dan di tiap penjuru terdapat menara tempat bilal menyeru adzan. Selain menara, juga terdapat 13 kubah.
Konon masjid tersebut dibangun dengan campuran pasir, tanah liat, kapur dan putih telur untuk memperkuat beton menara, kubah dan sejumlah bagian bangunan tertentu lainnya.


