KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Keliling "Kota Mutiara" Naik Bajaj....
Minggu, 29 November 2009 | 16:36 WIB

Oleh: Budiman Tanuredjo dari Hyderabad

KOMPAS.com -  Pesawat Silk Air dari Bandara Changi, Singapura menuju Hyderabad India, Sabtu (28/11) malam tak terlalu penuh. Namun, kebetulan  banyak penumpang yang membawa anak-anak balita, dan banyak dari mereka yang menangis. Ya, niat untuk beristirahat dalam penerbangan yang memakan waktu 4,5 jam ini pun sirna, terganggu tangis anak-anak tadi.

Kunjungan saya ke Hyderabad kali ini adalah untuk menghadiri Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia (WAN) dan Forum Pemimpin Redaksi Dunia (WEF) 30 November-4 Desember 2009. Pada tahun 2008 silam, saya pernah menghadiri pertemuan serupa di Goteborg, Swedia. Kala itu saya datang memenuhi undangan dari International Center Federation Journalist (ICFJ). Kini, saya hadir atas biaya Kompas.

Minggu dini hari, saya bersama Abun Sanda dari Kompas tiba di Hotel Hampshire Plaza, hotel resmi yang ditunjuk Panitia Kongres. Kecelakaan kecil sempat terjadi ketika kopor saya tak bisa dibuka. Padahal nomor sandinya masih saya ingat dengan persis. Saya coba kombinasi angka-angka namun tetap gagal. Huh, karena lelah mencari-cari terpaksa kopor itu saya bongkar.

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 waktu Indonesia Barat, ketika saya mencoba untuk tidur. Beda waktu antara Hyderabad dengan Jakarta adalah 90 menit.  Tapi, belum puas tidur, istirahat saya sudah harus terganggu klakson mobil dan bajaj berbunyi keras. Maklum, hotel saya menginap dekat sekali dengan jalan raya. Klakson mobil hampir tak pernah berhenti di kota ini.

Minggu pagi tadi (29/11), saya putuskan untuk menghadiri misa pagi. Ternyata tak mudah mencari gereja Katolik di Hyderabad. Atas bantuan dan petunjuk Sanjay K, Duty Manager Hamsphire Plaza, kami naik bajaj mencari gereja Katolik. Tarifnya 20 Rupee kata Sanjay.

Di tengah jalan, sang sopir menaikkan penumpang. Ternyata, teman yang dinaikkan itu teman sang sopir untuk membantu kami menterjemahkan percakapan ke bahasa Inggris. Bajaj kemudian berhenti, dan sang sopir mengatakan, "Itu gereja".

Kami melihat papan nama, "Gereja Methodis". "Bukan, kami cari Gereja Katolik," kata saya pada si sopir.  Setelah bertanya pada seorang jemaah gereja Methodis ditunjukkan jalan ke Gereja St Joseph. Ongkos taksi yang awal 20 Rupee membengkak jadi 500 Rupee. Tapi, kami menolak dan akhirnya hanya bayar 100 Rupee.

Misa di gereja St Joseph tak lama. Hanya satu jam, beda dengan misa-misa di Jakarta yang makan waktu hampir 90 menit, bahkan ada yang dua jam. Usai misa, kami memutuskan untuk mencarter bajaj selama lima jam dengan tarif 600 Rupee. Jadilah, kami mengelilingi pelosok kota Hyderabad dengan bahasa "tarsan" karena sang sopir tak bisa berbahasa Inggris.

Di pelosok kota kami menyaksikan wajah kemiskinan yang akut. Banyak penduduk yang masih tertidur di pinggir jalan. Infrastruktur jalan rusak. Bau tak sedap tercium dari mana-mana. Suasana Idul Adha masih terasa. Hewan korban, kambing dan sapi, masih tersedia di pinggir jalan. "Ini wajah Makassar tahun 70a-n," kata teman saya Abun Sanda yang memang berasal dari Makassar.

Meski infrastruktur jalan kurang memadai -terlebih untuk perjalanan dengan bajaj- kami sempat menyaksikan tempat-tempat menarik seperti Golkonda Fort, Charminar, Mesjid Mecca. Hyderabad adalah ibukota dari provinsi Undra Pradesh. Hyderabad dikenal sebagai tempat penjualan mutiara yang terkenal.

Lelah keliling kota karena debu dan bau, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke hotel. Sebelumnya, kami mampir untuk makan siang di McDonald. Ya, kami kembali satu jam lebih awal dari perjanjian semula dengan sopir bajaj. Tak heran, sang sopir bajaj tersenyum dan menjabat erat-erat tangan Abun, ketika menerima uang 600 Rupee. Ia tersenyum dan berterima kasih....

Penulis: BDM   |   Editor: Glo Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.