Rabu, 17 September 2014

/ Travel

Kuliner Baru di Solo

Jumat, 15 Januari 2010 | 14:10 WIB

Berita Terkait

Peta kuliner Solo berubah lagi. Seperti telah saya duga sejak beberapa tahun yang silam, pelan-pelan tetapi pasti, Solo sedang menyejajarkan dirinya dengan Yogyakarta sebagai tujuan wisata - khususnya wisata kuliner. Perubahan dan pembaruan yang dilakukan Walikota Joko Widodo telah menjadi pemicu yang efektif bagi dinamika peta kuliner Solo.

Memang, ada beberapa yang mati – seperti Kafe Solo dan Hughess di Jalan Dr. Rajiman. Tetapi, yang tumbuh baru jauh lebih banyak daripada yang hilang.

Saya awali laporan ini dengan kunjungan ke Soga, sebuah fine-dining restaurant yang berada di samping belakang Museum Batik Danarhadi (juga merangkap toko batik dan demo produksi batik) di Jalan Slamet Riyadi.

Restoran ini merupakan bangunan samping dari Dalem Wuryaningratan – sebuah rumah pangeran yang dibeli oleh pemilik Danarhadi, dan dipugar secara elok. Dalem Wuryaningratan sendiri merupakan showcase yang perlu dikunjungi, dan sering dipakai untuk perhelatan pribadi. Bulan Desember yang lalu, Santosa Dullah – pemilik Danarhadi, yang juga bergelar Kanjeng Pangeran – mengundang 400 temannya ke Dalem Wuryaningratan untuk merayakan ulang tahunnya.

Soga ditata dengan arsitektur interior yang cantik dan berselera tinggi. Renate, manajernya yang cantik dan anggun, membuat para tamu semakin betah berlama-lama menikmati kemewahan restoran itu. Selain sajian internasional, Soga juga menyuguhkan masakan Jawa. Yang sempat saya cicipi adalah gado-gado sebagai appetizer, dan rawon bakar sebagai main course.

Gado-gadonya ditampilkan dengan cantik. Tauge, kacang panjang, dan irisan wortel dibungkus dalam gulungan kol, sehingga penampilannya mirip lumpia atau popiah. Setelah dipotong diagonal, disiram sambal kacang yang legit. Penampilan maupun citarasanya perlu diacungi jempol.

Rawon bakarnya juga unik. Ini tampaknya terinspirasi oleh sop buntut goreng dan sop buntut bakar yang kini sedang naik daun. Daging rawon irisan besar diangkat dari kuahnya, lalu di-grill sebentar. Garing di luar, mak nyuss di dalam karena empuk dan resapan bumbunya yang mantap. Kuah rawonnya pun patut dipuji.

Ternyata, hanya beberapa bulan sebelum Soga hadir, sebuah fine-dining restaurant lain sudah terlebih dulu meramaikan cakrawala kuliner Solo. Namanya Goela Kelapa, berlokasi di dekat Stadion Manahan.

Harus diakui, dari segi penataan eksterior, interior, maupun table setting, Soga setingkat di atas Goela Kelapa. Di pintu depan Goela Kelapa, para tamu disambut oleh seorang serdadu kompeni lengkap dengan senapan laras panjang antik.

Makanan yang disajikan Goela Kelapa pun menu djadoel. Ada semur lidah yang di masa lalu merupakan hidangan istimewa di rumah keluarga-keluarga kaya. Ada pare yang ditumis dengan teri. Garang asemnya pun cukup autentik, mengikuti gagrak Kudus yang tanpa santan. Padahal, di Solo biasanya garang asem diberi sedikit santan, atau malah ditambah kocokan telur ayam.

Kehadiran dua restoran fine dining ini semakin melengkapi Solo sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia. Sayangnya, Kafe Solo yang mendahului zamannya (avant garde) telah hilang dari peta kuliner Solo. Semoga saja geliat baru wisata kuliner di Solo akan kembali membangkitkan Kafe Solo di dekat Pasar Kembang.

Peta kuliner baru

Dalam kunjungan terakhir ke Solo, saya juga menemukan banyak rumah makan dan restoran baru. Di sepanjang Jalan R.M. Said, misalnya, tampak beberapa rumah makan laris yang sebelumnya tidak pernah saya lihat. Salah satunya adalah Raja Kepiting. Sukses Raja Kepiting rupanya memicu lahirnya sebuah rumah makan seafood, tidak jauh dari Raja Kepiting.

Sekalipun Solo letaknya jauh dari laut, tetapi seafood ternyata merupakan makanan kegemaran. Di daerah Manahan dan sepanjang jalan utama (Jalan Slamet Riyadi), banyak terlihat tenda-tenda penjual makanan hasil laut gaya Lamongan. Rumah makan seafood yang paling terkenal di Solo adalah Mbak Mar.

Beberapa jenis ikan laut dan ikan darat sudah digoreng tiga-perempat matang, dan disajikan di meja dalam jumlah yang membuat orang ngiler. Setelah dipesan, ikan digoreng lagi sebelum disajikan. Bandeng, bawal, cumi, udang, lele, dan berbagai jenis seafood tidak henti-hentinya digoreng untuk melayani tamu yang antre.

Di “sektor” per-kepiting-an, ada Pak Petruk yang populer. Buka sore hari, Pak Petruk ramai dikunjungi pelanggannya. Raja Kepiting memasuki “sektor” ini dengan penampilan yang lebih bergaya Jakarta – dengan penataan tempat yang lebih berkelas menengah. Sajiannya pun lebih beragam, dengan menampilkan berbagai menu Tionghoa halal.

Berbagai masakan kepitingnya setara dengan rumah-rumah makan sejenis di Jakarta. Yang paling istimewa dan unik di Raja Kepiting, menurut saya, adalah sriping goreng. Sriping adalah scallop, digoreng dengan setengah cangkangnya. Empuk-empuk gurih! Mak nyuss! Tiada dua.

Satu lagi yang baru di Solo adalah hadirnya beberapa cafe yang berjualan kopi model waralaba Starbucks. Semula saya heran ketika beberapa tahun melihat sebuah gerai serupa di dekat Manahan. Solo ‘kan tempatnya wedangan lesehan yang populer dengan sebutan hik. Apa mungkin cafe yang berjualan “wedang” akan laku?

Ternyata, karena hik hanya buka malam hari, maka ada celah yang harus diisi di siang hari. Peningkatan kesejahteraan juga membuka peluang untuk tempat “ngopi” yang lebih nyaman. Sekarang, menurut hitungan saya, sudah ada 16 cafe serupa (di luar Starbucks dan Coffee Bean) di seluruh penjuru Solo. Ini agaknya seirama dengan munculnya kopitiam (warung kopi gaya peranakan) di sekitar Jakarta. Sekarang, bahkan Killiney Kopitiam dari Singapura pun sudah hadir di Jakarta, setelah didahului oleh versi lokal seperti Lau’s Kopitiam, Kopi Lay, Kopitiam Oey, Kopitiam Auntie Lie, dan lain-lain.

Solo adalah gudangnya ayam goreng. Mulai ayam goreng Madukoro, Adem Ayem, Bu Better, Kleco, dan lain-lain. Bahkan ayam goreng dari penjual jongkok di Pasar Gede Harjonagoro saja enaknya bukan kepalang. Di Jalan Honggowongso, belum lama ini mulai hadir sebuah rumah makan baru dengan papan nama Dapur Sreng. Sreng adalah bunyi sesuatu yang digoreng, sehingga asosiasi kita pastilah langsung ke arah makanan gorengan.

Dapur Sreng menampilkan sesuatu yang gimmicky. Yang dikedepankan di sini adalah cara menggoreng dan membakar makanan secara ban berjalan (conveyor belt). Saya langsung teringat masa kecil, ketika saya terkagum-kagum melihat mesin otomatis pembuat donat di sebuah toko roti di Jalan Tunjungan, Surabaya. Conveyor belt penggoreng dan pemanggang makanan di Dapur Sreng ini adalah satu-satunya di dunia. Di-desain sendiri oleh pemiliknya yang memang memiliki keahlian mekanik.

Mesin penggorengnya memakai keranjang-keranjang besi yang digantung pada rantai berputar, melalui “kolam” minyak goreng panas. Mesin pemanggang berbentuk mirip, bedanya tidak memakai “kolam” minyak goreng. Dalam hati saya berpikir, sebelum Dapur Sreng mencapai volume penjualan yang cukup tinggi, pastilah penggunaan minyak gorengnya sangat boros.

Yang digoreng dan dibakar adalah ayam dan empal daging sapi dengan berbagai citarasa: keju, barbeque, dan lain-lain. Saya tidak mengharap banyak ketika memesan ayam goreng keju dan empal bakar barbeque. Saya pikir, gimmick seperti itu belum tentu ditunjang oleh citarasa yang berkualitas.

Ternyata saya salah. Ayam maupun empalnya mak nyuss! Crew TransTV yang ketika itu berkunjung bersama saya, bahkan datang kembali untuk kedua kalinya menikmati ayam goreng keju Dapur Sreng.

Satu lagi pilihan masakan ayam sebagai alternatif bila berkunjung ke Solo.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Heru Margianto