Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:26 WIB
Mencicipi Nasi dan Tahu Goreng di Kongens Nytorv
Inggried Dwi Wedhaswary | mbonk | Senin, 25 Januari 2010 | 09:55 WIB
|
Share:
KOMPAS.COM/INGGRIED DWI WEDHASWARI Restaurant Bali di Kongens Nytorv, Kopenhagen, Denmark. Meskipun memakai nama "Bali", restoran ini dimiliki dan dikelola oleh seorang berkewarganegaraan Singapura dengan chef dari China.

KOPENHAGEN, KOMPAS.com —– Saat mengunjungi Kopenhagen pada bulan Desember tahun lalu, saya menemukan—tepatnya teman saya, Goris Mustaqim, yang menemukan—sebuah restoran yang namanya membuat saya penasaran. "Restaurant Bali" begitu nama restoran yang terpasang pada kanopi depannya.

Juru masaknya dari China. Tak ada orang Indonesia yang terlibat di sini.

Restoran itu terdapat di Kongens Nytorv, Kopenhagen, Denmark. Persisnya, tak jauh dari Stasiun Kongens Nytorv dan tepat di seberang Kongens Nytorv Square. Wow, orang Indonesia buka usaha kuliner di Kopenhagen! Itu kesan pertama yang terlintas di kepala.

Rasa penasaran mencicipi masakan Indonesia di negeri orang pun langsung menyeruak. Maka, kami pun memasuki resto yang didekor penuh dengan pernak-pernik Bali dan khas Indonesia itu, seperti kursi rotan dan patung-patung Bali.

Ketika membuka pintu, seorang pelayan pria (bule) langsung menghampiri. “Dari Indonesia?” katanya menebak. Ia langsung menyodorkan dua buku menu. Tapi, bukan menu yang bikin penasaran.

“Apakah yang mengelola restoran ini orang Indonesia?” tanya saya.

Olala, ternyata bukan! Restoran yang berdiri lebih dari 10 tahun itu dimiliki dan dikelola oleh seorang warga Singapura. Masih menurut sang pelayan (maaf, saya lupa namanya), bosnya yang bernama Roland itu malah belum pernah menginjakkan kaki di Bali.

Barang-barang yang menjadi dekor restoran, katanya, didapatkan Roland dari sahabatnya yang ada di Jakarta. Dan (lagi-lagi), semua pelayannya adalah warga Kopenhagen dan sekitarnya. “Juru masaknya dari China. Tak ada orang Indonesia yang terlibat di sini,” katanya sambil tersenyum.

Sayangnya, pemilik restoran, Roland, tak memiliki waktu untuk sekadar berbincang singkat mengenai mengapa ia memilih membuka restoran Bali dengan masakan-masakan khas Indonesia di Kopenhagen. Ia hanya sempat menyapa kami, kemudian pergi untuk suatu keperluan yang tak bisa ditinggalkan.

Masakan Indonesia ternyata cukup digemari masyarakat Eropa di sana. Menurut pelayan itu, restoran selalu ramai pada malam hari. “Biasanya pada pesan nasi goreng,” ujarnya.

Saat saya berada di sana, ada tiga bule yang juga tengah memesan makanan. Saya tersenyum simpul ketika mendengar mereka memesan Mie Goreng.

Nasi dan tahu goreng

Setelah mengetahui sekilas sejarah restoran itu, perhatian saya pun tertuju pada deretan menu yang ada pada buku. Berbagai nama masakan Indonesia terpampang di sana. Ada yang tertulis asli dalam bahasa Indonesia, ada pula yang sudah dialihkan dalam bahasa Inggris dan Denmark.

Menu yang tersedia di antaranya Nasi Goreng Ayam/Sapi/Babi, Nasi Goreng Nanas, Kari Ayam, Sate Ayam, Mie Goreng, Tahu Goreng, Tempe, Sop Buntut, Sop Ayam, dan puluhan menu lainnya. Minumannya relatif standar, seperti teh, kopi, dan minuman ringan.

Akhirnya, pilihan jatuh pada Nasi Goreng Nanas dan Tahu Goreng. Satu porsi Nasi Goreng Nanas dihargai 105 kroner (sekitar Rp 210.000) dan Tahu Goreng 55 kroner (sekitar Rp 110.000). Lebih dari setengah jam menunggu, makanan pun datang. Sambil menunggu, kami disuguhi kerupuk udang dalam wadah rotan.

Pesanan pun datang. Porsinya lumayan besar, cukup untuk makan berdua. Nasi goreng disajikan dengan dua lumpia di atasnya. Campuran pada nasi goreng ini di antaranya cumi, nanas, wortel, kacang polong, taoge, dan kubis.

Rasanya? Dari suapan pertama, hmm... lumayan, ada cita rasa Indonesia yang kuat dengan berbagai bumbu. Tak ada rasa pedas. Tetapi, satu mangkok kecil sambal merah sudah siap untuk  jadi pelengkap rasa. Not bad.

Bagaimana dengan Tahu Goreng? Sebenarnya, ini yang lumayan mengejutkan. Saya pikir, tahu goreng yang dimaksud adalah tahu yang digoreng. Ternyata malah lengkap dengan bumbu kacang dan aneka sayuran. Jadi ingat tahu magelang.

Bumbu kacang yang disiram di atas tahu rasanya juga lumayan oke. Rasa manisnya pas. Hanya saja, tahunya agak sedikit keras. Entah karena terlalu sering dipanaskan atau kelamaan di kulkas.

Berdasarkan cerita, tahu-tahu ini didatangkan dari Belanda. Katanya, di Belanda memang tak susah menemukan berbagai jenis bahan baku atau makanan Indonesia, seperti tahu dan tempe. Oya, sayuran yang melengkapi sajian tahu goreng adalah wortel dan kol, dengan irisan halus buah timun di atasnya.

Sebutir telur rebus yang dibelah dua juga menjadi teman makan tahu goreng. Meski tak ada sentuhan tangan orang Indonesia, rasanya bisa dibilang cukup masuk dengan lidah kita. Nama “Bali” dan masakan Indonesia ternyata punya nilai jual di luar sana!