TAK hanya menggiling kopinya sendiri, warung kopi Purnama di Jalan Alkateri, Bandung, juga menyediakan café untuk pencinta kopi yang ingin mencoba kopi khas Purnama. Warung kopi Purnama bertempat di bangunan yang sudah ada sejak tahun 1920-an. Kebanyakan bangku dan meja kayunya pun belum diganti sejak tahun 1930-an. Bangunan kuno yang dipakai hanya beberapa kali mengalami renovasi dengan tidak mengubah arsitektur aslinya. Lily Josana (45), generasi ketiga warung kopi Purnama yang kini menjadi pengelola, sengaja mempertahankan ciri kuno warung, “Saya memang suka yang kuno-kuno, kalaupun dibangun atau direnovasi pasti tetap dengan desain kuno,” katanya. Lily tak sendiri, ia dibantu Evy Josana (40) untuk mengelola warung sehari-hari.
Meskipun dari luar tampak tua, tapi warung kopi ini masih kerap didatangi pelanggan setianya. Jika datang pagi-pagi di waktu sarapan, banyak warga keturunan yang berkumpul dan sarapan sambil minum kopi. Lily pun mengaku tak pernah takut kalah saing dengan warung kopi modern yang mulai bermunculan di mal-mal. Ia menganggap, kekunoan warungnya merupakan nilai lebih yang tak ada di tempat lain. “Sering kali anak-anak muda dari Jakarta sengaja datang ke sini karena penasaran. Kadang-kadang juga mereka sambil foto-foto,”.
Warung kopi Purnama diwarisi Lily dari sang ayah, Allen Josana sebagai generasi kedua. Warung itu sendiri didirikan oleh kakeknya, Yong A Tong pada 1900-an awal. Saat pertama kali berdiri, namanya Ching Sang Shu (bahasa Khek) yang berarti ‘silakan mencoba’. Lokasinya pun bukan di Bandung melainkan di Medan, Sumatra Utara. Nama terpaksa berganti di tahun 1960-an setelah pemerintah yang berkuasa saat itu melarang penggunaan nama-nama asing.
Setelah sempat pindah ke Jakarta, akhirnya sang kakek menetap di Bandung bahkan menikah dengan gadis Bandung. Saat pertama kali pindah, warung dibangun di jalan Otto Iskandar Dinata, lalu pindah ke Pecinan Lama, hingga akhirnya menetap di jalan Alkateri hingga sekarang. Ching Sang Shu dibangun kakeknya berdasarkan kebiasaan orang Medan minum kopi di pagi hari sambil makan roti. Menu khas mereka yang terkenal lainnya memang roti kukus dengan selai srikaya khas warung kopi Purnama. Kata Lily, rahasia kelezatan selai srikaya buatan mereka adalah pada gula merah yang mereka gunakan. Selai yang menjadi resep turun-temurun ini juga tidak menggunakan bahan pengawet karena mereka selalu membuat yang baru setiap hari.
Selain roti selai srikaya, roti gulung telor sosis juga jadi favorit para pelanggan setia warung kopi Purnama yang sudah buka sejak pukul 6 pagi. Rahasia kekhasan rasa kopi Purnama, adalah dari biji kopi pilihan yang ‘diimpor’ langsung dari Medan. “Sejak jaman kakek saya sampai sekarang kami tetap membeli biji-biji kopi dari Medan, memang sudah langganan,” katanya. Biji-biji itu kemudian disimpan terlebih dahulu untuk menciptakan aroma yang lebih kuat. Setelah itu, biji digiling menggunakan mesin penggiling yang juga warisan sejak jaman kakeknya.
Penggilingan itu dilakukan di rumah tinggal Lily, sehingga tak ada pegawai warung yang tahu, “Itu memang rahasia perusahaan,” ujarnya sambil tertawa. Selain itu, Lily punya cara khusus dalam menyeduh kopi. Setelah gelas yang berisi bubuk kopi dituangi air mendidih dan ampasnya mengendap, air seduhan direbus lagi, baru dituangkan ke gelas untuk disajikan. “Efeknya bikin orang ketagihan.” Untuk memenuhi permintaan pengunjung muda, Lily menambahkan Coffee Float ke daftar menu.
Lily sendiri tidak menjual kopi dalam bentuk bubuk karena mereka ingin berfokus pada warung kopi. Dengan harga kopi berkisar di bawah Rp 10 ribu dan makanan yang harganya tak lebih dari Rp 25 ribu, omzet yang ia dapat setiap bulan tak terlalu besar, tapi cukup untuk menghidupi 8 orang pegawainya.
Meskipun banyak tawaran kerjasama, Lily tak tertarik. Ia dan sang adik yang mengaku tak ingin dipisahkan hanya ingin serius mengurus warung kopi peninggalan orangtua mereka. “Yang terpenting kualitas tetap terjaga,” katanya mantap.


