YOGYAKARTA, KOMPAS - Keberadaan diskotek tidak memengaruhi kunjungan wisatawan. Ada atau tidak ada diskotek, wisatawan tetap berkunjung ke Yogyakarta. Diskotek juga bukan bagian dari keunggulan komparatif yang dimiliki kota budaya dan pendidikan.
Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, dalam kegiatan tanya jawab dengan pers tentang berbagai persoalan yang muncul di Yogyakarta akhir-akhir ini, Jumat (29/1), mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir ini tidak ada diskotek baru di Yogyakarta. Dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Izin Gangguan, tidak membolehkan pendirian diskotek baru kecuali di hotel berbintang.
"Dulu ada peraturan daerah. Sebelum perda itu keluar, diskotek sudah jalan di Yogyakarta. Sejak ada perda, tentu izin baru diskotek tidak ada lagi. Jadi, kondisi diskotek sejak 2002 stagnan, kecuali mereka yang memperpanjang izin," ujar Herry.
Keberadaan diskotek di Yogyakarta kembali mengemuka setelah pertengahan Januari ada sejumlah pelajar asal Yogyakarta dan Bantul terjaring razia saat mengikuti pesta hip hop di Jogja Jogja Diskotek. Diskotek yang berada di Jalan Magelang itu pun akhirnya ditutup. Alasannya, diskotek tersebut beroperasi tanpa izin selama hampir tiga tahun terakhir.
Menurut Herry, tidak mungkin Yogyakarta bisa menyaingi kota lain, seperti Jakarta maupun kota-kota lain di luar negeri, yang menyuguhkan hiburan untuk segmen tertentu yang bersifat hura-hura. Yogyakarta identik dengan pariwisata yang bersifat budaya dan keluarga.
"Jadi, pola pikir yang salah jika diskotek ditutup, kemudian seolah-olah pariwisata menjadi berkurang. Pariwisata Yogyakarta tumpuannya tidak seperti itu, itu bukan keunggulan komparatif Yogya," kata Herry.
Herry tidak menampik bahwa tempat hiburan malam, terutama di kota besar lainnya, penuh hal negatif yang tidak sesuai budaya bangsa. Harapannya, itu tidak menjadi bagian cor bisnis di Yogyakarta.
Sebaliknya, ada sejumlah kegiatan malam yang diharapkan tumbuh di Yogyakarta. Herry berharap, banyak distro dan kafe bisa tumbuh di Yogyakatra, terutama di trotoar ruas jalan utama, seperti Malioboro. Begitu pula berbagai pertunjukan musik luar ruang diharapkan bisa mengobati kehausan masyarakat akan hiburan malam. (WER)
