Jumat, 18 April 2014

/ Travel

Pasar Terapung

Senin, 1 Februari 2010 | 15:22 WIB

Baca juga

Lebih dari 40 tahun yang lalu, ketika pertama kali berkunjung ke Bangkok, salah satu atraksi wisata yang paling mengesankan bagi saya adalah pasar terapung. Pada waktu itu, pasar terapung Bangkok berlokasi di sekitar Wat Arun. Ratusan pedagang menjual dagangannya dari perahu-perahu kecil yang dikayuh pelan hilir-mudik di sekitar kawasan itu. Ini memang benar-benar pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk setempat.

Sayangnya, tahun demi tahun, floating market yang dulu kondang di Bangkok ini semakin merosot mutunya sebagai atraksi pariwisata. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika saya “terbujuk” oleh pengemudi taksi air untuk berkunjung ke floating market, ternyata saya diantar ke sebuah pasar tradisional di dekat Wat Sai, Bangkok. Memang, di situ ada sebuah pasar darat yang cukup ramai. Tetapi, yang beroperasi menjual dagangan dari sampan kecil di anak sungai Chao Phraya itu bisa dihitung dengan jari. Jualannya pun tidak mengesankan.

Ada seorang perempuan setengah baya berperahu dengan cooler box yang terus merayu-rayu wisatawan untuk membeli bir. Ada lagi beberapa perahu yang menawarkan kartu pos dan benda-benda suvenir. Saking sedikitnya sampan pedagang, justru kami yang harus mengejar-ngejar sampan yang diperkirakan berfungsi sebagai toko berlayar.

Sejak dasawarsa terakhir ini, pengelola pariwisata Thailand sudah “menciptakan” floating market baru di Damnoen Saduak – sekitar satu jam bermobil ke sebelah Barat Bangkok. Skalanya sangat besar, sehingga menjadi daya tarik pariwisata yang memang mengesankan. Di samping itu, penyelenggara pasar terapung ini ternyata berhasil benar-benar mengoperasikannya sebagai pasar sesungguhnya yang memang merupakan tempat transaksi sehari-hari bagi warga masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Setiap hari, puluhan bus pariwisata datang ke Damnoen Saduak membawa ribuan wisatawan. Mereka kemudian naik sampan-sampan kecil dan menyusuri sungai yang penuh dengan sampan-sampan pedagang. Kebanyakan para pedagang di pasar terapung menjual bahan-bahan makanan untuk dimasak di rumah. Tetapi, beberapa perahu juga menjual masakan untuk dinikmati di tempat. Di sepanjang sungai pun banyak didapati warung-warung dan toko-toko dengan berbagai jualan.

Di pasar ini, penduduk setempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, sedangkan para wisatawan berbelanja benda-benda suvenir maupun sarapan berbagai makanan-minuman yang dijajakan di sana. Bahkan mereka yang sudah sarapan di hotel pun pasti tergoda untuk mengudap lagi di sana. Penjual mi kuah, pad thai (mi goreng), buah potong, pisang goreng, dan berbagai kudapan yang disajikan secara menarik.

Saya sempat mencicipi mi bebek yang enak, dari sebuah sampan yang ditambat. Rupanya, karena mi bebek ini sangat terkenal, ia tidak sempat lagi hilir-mudik mengayuh perahunya. Sampan-sampan lain mengantre untuk membeli mi bebek. Bagusnya, untuk mengatasi kemacetan, sampan-sampan wisatawan tidak boleh “parkir”. Lalu, bagaimana mengembalikan mangkuk mi? Gampang! Pengemudi sampan nanti akan mengembalikannya bila lewat tempat itu lagi.

Sungguh, sebuah atraksi yang sangat menarik dan interaktif dengan penduduk lokal.

Rose garden

Karena Damnoen Saduak jaraknya agak jauh di luar Bangkok, maka sebuah objek pariwisata lain pun diciptakan untuk “menangkap” wisatawan yang berkunjung ke kawasan Barat Bangkok ini. Tempat ini dikenal dengan nama Rose Garden. Awalnya tempat ini merupakan venue penyelenggaraan sebuah konferensi anggrek internasional.

Rose Garden dibangun dengan konsep sebuah taman bunga yang asri, sehingga mampu menjadi tempat persinggahan yang menarik. Di sini juga ada fasilitas hotel, tempat makan semacam food court yang mampu menampung beberapa bus pariwisata sekaligus, maupun restoran fine dining yang cukup bagus.

Tetapi, atraksi utama Rose Garden bukanlah taman bunganya. Di tengah kawasan ini dibangun sebuah panggung yang mampu menampung sekitar seribu tamu. Panggungnya sendiri sangat luas, replika dari sebuah pusat desa. Di panggung ini dipertunjukkan kehidupan sehari-hari rakyat Thailand dalam koreografi yang memikat. Diawali dengan arak-arakan penduduk kampung – lengkap dengan beberapa ekor gajah yang memang selalu merupakan bagian dari proses semacam ini – yang sedang mengikuti acara meminang pengantin.

Kemudian, upacara perkawinan pun digelar, lengkap dengan berbagai tari-tarian. Penampilan atraksi di Rose Garden ini mengingatkan saya pada atraksi serupa di Saung Angklung Mang Ujo, di pinggiran Kota Bandung. Menurut saya, Mang Ujo juga berhasil menyuguhkan koreografi yang bagus dan alamiah untuk menampilkan kehidupan masyarakat kita.

Phra Pathom Chedi

Selain Rose Garden, atraksi pariwisata lain di sebelah Barat Bangkok ini adalah Phra Pathom Chedi – candi tertinggi di dunia. Stupa utamanya setinggi 127 meter. Candi ini letaknya di kota kecil Nakhon Pathom. Sayangnya, Phra Pathom belum cukup populer dibanding atraksi pariwisata Thailand lainnya.

Di Delta Sungai Mekong, di pinggiran Ho Chi Minh City (Saigon), juga ada sebuah atraksi wisata sungai yang sangat mungkin mendapat inspirasi dari sukses Thailand menyelenggarakan pasar terapung Damnoen Saduak ini. Tetapi, dengan pintar mereka mengubah atraksinya agar tidak 100 persen menyontek.

Di Delta Sungai Mekong ini, wisatawan diajak naik sampan-sampan kecil yang dikayuh oleh para ibu-ibu menyusuri sungai kecil di sela-sela hutan rumbia, menuju sebuah desa kecil yang masyarakatnya hidup dari perkebunan buah naga. Di sini para wisatawan dijamu dengan berbagai jenis buah-buahan khas Vietnam, serta melihat berbagai pertunjukan tentang kesenian desa.

Setelah menikmati suasana kebun buah di desa, para wisatawan dipandu naik kereta kuda menuju desa yang lain. Di desa itu, wisatawan melihat industri rumahan kerajinan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat. Ada demonstrasi pembuatan dodol, dan berbagai jajanan lokal.

Kemasan semacam ini memang sangat menarik, karena hanya dalam waktu beberapa jam saja para wisatawan dapat menyerap cara hidup dan budaya masyarakat setempat.

Banjarmasin

Kita sebenarnya juga memiliki pasar terapung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang pernah kita banggakan. Sayangnya, pasar terapung satu-satunya di Indonesia ini sekarang semakin terancam kepunahan. Supermarket adalah tempat belanja bagi masyarakat modern. Siapa yang mau belanja dengan turun ke sungai?

Lho, bukankah di RCTI kita masih sering melihat klip video tentang keindahan pasar terapung itu? Ternyata, menurut informasi yang saya peroleh, ketika melakukan shooting, RCTI (atau griya produksi yang membuat klip video ini) harus mendatangkan bertruk-truk buah-buahan dan sayur-mayur, serta mengerahkan puluhan sampan. Dengan kata lain, pemandangan yang kita lihat di layar RCTI itu adalah “panggung” yang ditata secara spektakuler.

Kenyataannya, ketika terakhir berkunjung ke sana tahun lalu, sudah semakin sedikit pedagang yang berjualan di pasar terapung Banjarmasin ini. Hanya ada beberapa sampan berisi pisang, jeruk, kelapa, daun singkong – itu pun tidak penuh – lalu lalang sejak subuh di sekitaran pasar. Pembelinya tidak seberapa banyak. Wisatawan yang datang pun hanya segelintir.

Harus diakui, kehadiran pasar terapung sebagai kebutuhan sehari-hari memang semakin berkurang. Tetapi, seandainya dilakukan redefinisi – misalnya dengan membuatnya sebagai pasar terapung yang hanya buka pada akhir pekan – mungkin sekali kita dapat menghidupkan kembali pasar-pasar terapung seperti ini. Tidak hanya di Banjarmasin, melainkan juga di beberapa kota yang memiliki sungai.

Saya sering membayangkan hadirnya ruas sungai di Jakarta – mungkin di sisi Masjid Istiqlal, seruas Jalan Latuharhary, atau sepanjang Jalan Gajah Mada yang dulu bernama Molenvliet – ditata dengan baik dan dijadikan kawasan wisata sungai, maka warga kota akan diuntungkan oleh kehadiran tempat rekreasi murah yang menyenangkan. Tentu tidak mudah. Tetapi, saya tidak percaya bahwa bangsa kita tidak punya putra-putra yang mampu menerima tantangan ini.


Editor : mbonk