KOMPAS/A PONCO ANGGORO
Sejumlah warga membersihkan sumber air Waiselaka di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Minggu (7/3). Di lokasi ini terdapat ratusan belut yang disebut morea . Morea-morea berukuran raksasa itu dikeramatkan oleh warga sehingga tidak boleh ditangkap.
KOMPAS.com - Belut sepanjang satu meter teronggok lemas di atas bebatuan karang di sumber air Waiselaka, di Waai, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Di sela-sela bebatuan karang di bawahnya, sebuah belut lagi yang berukuran tiga kali lipat lebih besar juga terlihat membeku.
”Ratusan tahun lalu, tombak sakti yang dilemparkan dari pegunungan Salahutu menancap di lokasi ini. Saat tombak dicabut, muncratlah air. Sejak itulah, morea (sebutan warga atas belut) hidup di sana,” tutur pawang Waiselaka, Minggus Bakarbessy, Minggu (7/3/2010).
Cerita mengenai munculnya mata air Waiselaka ini tertera pula dalam buku Sejarah Asal-usul dan Terbentuknya Negeri-negeri di Pulau Ambon terbitan Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku tahun 1996.
Di buku itu disebutkan, sekitar abad ke-17, warga tujuh kampung di pegunungan Salahutu berniat memindahkan permukimannya ke tepi pantai. Pemindahan itu atas anjuran Pendeta Honden Horen yang menyebarkan injil di Salahutu. Pertimbangannya, di pinggir pantai semua kebutuhan hidup dapat terpenuhi.
Kuatnya nilai historis Waiselaka mendorong warga mengeramatkan belut dan ikan mas yang hidup di sana. Tidak seperti sungai-sungai lain di Ambon yang belut ataupun ikannya diburu oleh warga, belut dan ikan mas di Waiselaka sama sekali tidak boleh diambil.
Terlepas dari benar atau tidak asal-usul Waai yang dikumpulkan dari tokoh-tokoh masyarakat di Waai itu, yang pasti sampai sekarang Waiselaka masih menjadi tumpuan hidup masyarakat Waai yang berjumlah 4.763 orang.
”Maklum, Waiselaka merupakan satu-satunya mata air di Waai,” kata Raja Negeri Waai Zacharias Bakarbessy.
Jadi, tak heran jika setiap hari terlihat warga Waai mengambil air bersih di dekat mata air, mandi di kolam di sekitar mata air, dan mencuci pakaian di dekat pintu air yang memisahkan kolam dengan sungai yang membawa air sampai ke laut.
Meskipun air Waiselaka telah disalurkan menggunakan pipa ke sejumlah rumah, warga tetap saja memilih mengambil air di sana. ”Air yang disalurkan saat sampai di rumah kondisinya tidak sebersih seperti di sini, jadinya kami lebih memilih datang ke Waiselaka,” kata Lea Salamoni, warga Waai.
Ikut menjaga
Tidak sekadar mengeksploitasi air yang keluar dari Waiselaka, mereka pun ikut menjaga kelestariannya. Pepohonan di sekitar sumber air tidak boleh ditebang. Bahkan warga tidak segan menanam bibit pohon baru guna mengganti pohon yang tumbang karena usia.
Kebersihan kolam tempat air keluar pun mereka jaga. Setiap hari Minggu, sepulang dari gereja, sejumlah warga membersihkannya. Seperti yang terlihat Minggu (7/3) pagi, dengan alat ala kadarnya, seperti pacul, dayung, dan sapu lidi, mereka mengeluarkan kotoran yang mengendap di kolam.
Kemudian ketika Raja Negeri Waai menitahkan warga untuk menguras kolam, tanpa pikir panjang, warga langsung gotong royong membersihkan kolam.
Suasana sekitar Waiselaka yang masih asri, rerimbunan pohon yang menaungi dari teriknya matahari, dan jernihnya air Waiselaka juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Apalagi didorong beredarnya informasi, siapa pun yang minum atau mandi di sana bisa sembuh dari berbagai penyakit.
”Saya sendiri tidak memercayai itu karena setiap hari saya mandi dan minum air Waiselaka. Namun, banyak wisatawan yang datang yang mengatakan kalau air ini berkhasiat,” ucap Teny Pattimukai, warga Waai lainnya.
Setiap hari, menurut Minggus Bakarbessy, 20-50 wisatawan datang ke Waiselaka. Mereka tidak hanya dari Ambon atau kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga turis-turis asing seperti dari Belanda dan Amerika Serikat
”Banyak yang penasaran akan kisah belut raksasa,” kata Minggus.
Kedatangan wisatawan ini mendorong sejumlah warga untuk membuat warung makanan dan minuman. Bagi Minggus sendiri, kedatangan wisatawan itu menguntungkannya karena dia bisa mempertontonkan atraksinya dengan morea-morea itu dengan harga Rp 35.000.
”Morea-morea itu jinak dan bisa dipegang setelah saya beri telur ayam. Wisatawan pun bisa melihat morea keluar dari karang setelah memberikan telur ayam,” tambahnya. (A Ponco Anggoro)


Severity: Notice
Message: Undefined variable: output
Filename: libraries/Globalfunc.php
Line Number: 748
