KOMPAS.com - Kuda-kuda berlarian dengan rumbai warna-warni. Laki-laki sumba dengan ikat kepala menyala, mulut merah karena sirih tegak gagah di atasnya. Mereka membawa tongkat kayu yang dijadikan lembing. Bersahut-sahutan. Saling serang dengan kelompok diseberangnya. Begitu berani tanpa sama sekali menggunakan alat pelindung. Ya, momen seperti inilah yang akan ditemukan pada festival perang-perangan, Pasola.
Pasola bagi orang-orang di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebuah festival yang menunjukkan betapa beraninya para kesatria Sumba. Dalam perhelatan ini setiap laki-laki yang ikut serta berusaha menunjukkan ketangkasannya mengendalikan kuda dan melempar lembing kayu.
Jika ada yang berdarah dalam prosesi ini maka tidak boleh ada dendam, bahkan mereka percaya bahwa darah yang mengucur membawa pertanda baik. Tahun ini hasil panen dan mungkin tangkapan ikan di laut akan lebih baik. Luka yang timbul pun membuat jalannya pasola menjadi semakin seru karena setiap peserta ingin membalas lawan di depan sana.
Hampir sebagian besar tempat di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya menyelenggarakan pasola. Namun yang dianggap paling ramai, paling seru dan paling besar adalah Pasola Wanukaka. Dua pekan lalu, Sumba mendadak ramai. Seluruh penerbangan pun penuh. Ya, di Wanukaka akan diadakan Pasola. Orang-orang pun berdatangan ingin menyaksikannya. Saya pun dan kawan-kawan tak ingin ketinggalan festival sekali setahun ini. Walaupun panas dan macetnya minta ampun.
Di Wanukaka, pasola diadakan dua kali. Subuh hingga pagi di pantai dan berikutnya di tanah lapang hingga sore hari. Saya Cuma sempat menyaksikan pasola yang diadakan pagi hingga sore hari. Apa yang membuat pasola Wanukaka begitu ramai? Tanah lapang yang sempit membuat kontak antar para peserta pasola menjadi lebih mudah. Beda mungkin dengan Pasola di tempat lain yang tempatnya satu padang yang begitu luas. Artinya di Wanukaka lebih sering ada yang berdarah terkena lembing kayu dibanding tempat lain. Tidak cuma peserta namun juga penonton. Dan jika ada penonton yang terkena lembing maka hal itu dipercaya bahwa ia pernah melakukan kesalahan di masa lalu.
Jika banyak yang menganggap pasola Wanukaka adalah trade mark pasola di Sumba, saya justeru mendapatkan pengalaman berbeda saat tanpa sengaja menyaksikan pasola di Gaura. Sebuah tempat yang lumayan jauh dari pusat keramaian, mungkin bisa disebut terpencil dengan medan yang lumayan sukar dijangkau kearah utara Waikabubak. Saat itu kami datang untuk melakukan survey terhadap nyamuk anopheles dan kebetulan besoknya adalah hari pasola. Kami pun menginap di rumah salah satu tetua kampung di dusun Mambang, Gaura.
Yang saya saksikan malam itu adalah semua orang larut dalam persiapan menyambut pasola. Semua rumah memasak ketupat untuk dibawa ke acara pasola. Tamu-tamu yang hadir dan hendak menonton pasola dijamu istimewa. Tuan rumah pun memotong ayam bahkan hingga puluhan ekor. Nampaknya pasola bagi mereka adalah momen yang sangat penting.
Saat esok tiba orang-orang pun bergegas ke arena pasola. Hampir semuanya menggunakan kain sumba. Dan laki-lakinya menggunakan ikat kepala. Bukan cuma peserta pasola, namun juga yang cuma datang menonton. Kata pak tetua kampung adatnya harus seperti itu. Berbeda mungkin dengan Pasola Wanukaka yang telah lebih berat nuansa entertainment-nya hingga banyak orang sumba sendiri pun yang datang menonton tidak lagi merasa harus menggunakan kain sumba.
Setiap orang yang datang dan singgah di rumah pak tetua kampung di berikan ketupat. Ada juga yang singgah untuk menyerahkan ketupat. Uniknya jumlahnya selalu empat biji. Tak boleh kurang kata pak tetua kampung. Ketupat adalah simbol persaudaraan katanya. Mereka yang diberi ketupat umumnya kemenakan atau orang yang dianggap kemenakan. Jika ada yang kelupaan diberikan ketupat pada saat pasola maka saat ada acara-acara adat mereka tidak akan datang. Katanya malu tidak lagi dianggap sebagai kemenakan. Jadi jika satu keluarga punya banyak kemenakan berarti dia harus mempersiapkan ketupat sebanyak kemenakannya dikali empat.
Dan kata seorang kepala kampung di tempat lain masih di gaura juga. Ketupat pada saat pasola juga menjadi alat perdamaian. Setiap orang saling berbagi ketupat sebelum meninggalkan arena. Mereka makan sama-sama. Diharapkan tak ada lagi dendam yang dibawa pulang ke rumah. Begitu mengagumkan dan luar biasanya nilai-nilai yang dikandung dalam ketupat ini. Jadi mungkin kawan-kawan harus sesekali berkunjung ke Sumba untuk menyaksikan prosesi yang eksotik ini suatu saat nanti. (Joko Hendarto)
Artikel lainnya bisa dilihat di http://wisata.kompasiana.com


