Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 02:09 WIB
Wow... Asyiknya Naik "Hardtop Bugis"
| made | Kamis, 18 Maret 2010 | 21:26 WIB
|
Share:

ANDI ZULKIFLI NURDIN
Menurut Pak Bedu, sebenarnya anak-anaknya sudah protes kalau ayahnya tetap meneruskan profesinya sebagai kusir bendi atau Hardtop Bugis ini.

TERKAIT:

KOMPAS.com — Bendi atau kereta yang ditarik oleh seekor kuda sampai saat ini masih tetap beroperasi di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Meskipun Pak Bendinya, panggilan untuk pengemudinya, sudah tergolong berusia lanjut. Maklum, saat ini para generasi muda tidak ada lagi yang mau melirik profesi ini. Mereka pikir daripada ngurusin kuda mendingan nyicil motor buat dipakai ojek.

Padahal, dulu kendaraan ini merupakan favorit masyarakat, sampai-sampai mendapat julukan "Hardtop Bugis" dari warga. Dengan kondisi geografis kota yang banyak tanjakan maka kendaraan ini sangat cocok. Pas buat ke pasar dan sangat digemari ibu-ibu rumah tangga.

Dulu sempat ada kebijakan agar keberadaan "Hardtop Bugis" ini dimuseumkan saja. Alasannya, kotoran kuda serta bau yang tidak sedap bisa mengganggu pemandangan kota. Apalagi, pada saat itu lagi gencar-gencarnya Program Adipura. Pro-kontra pun terjadi, akhirnya didapatkan solusi agar semua pemilik kendaraan tersebut diwajibkan menyediakan tempat kotoran bagi kuda. Kebijakan ini ternyata efektif dan bisa menyelamatkan keberadaan kendaraan khas ini hingga sekarang.

Sekarang bendi menjadi kendaraan untuk bernostalgia. Berkeliling kota naik bendi bersama keluarga memang sangat mengasyikkan.

La Beddu, salah satu Pak Bendi yang biasa mangkal di seputaran kota, mengakui kalau profesi ini dilakoninya semata-mata karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan. "Sebenarnya anak-anak saya sudah protes kalau ayahnya tetap meneruskan profesinya, di samping karena alasan umur dan fisik, juga faktor psikologis," katanya sambil memberi makan kuda kesayangannya.

Untuk merawat dan memelihara seekor kuda betapa repotnya. Tidak ada lagi padang rumput serta lahan yang luas buat pengembangbiakannya. Berganti dengan perumahan di sana-sini. Walhasil, kendaraan ini tinggal menunggu waktu dari kepunahan dan hanya bisa menjadi memori bagi warga yang pernah merasakan asyiknya naik bendi. (Andi Zulkifli Nurdin)

 

Artikel lainnya bisa dilihat di http://wisata.kompasiana.com

Sumber :