Sabtu, 22 November 2014

/ Travel

Setelah Bunaken, Tomohon...

Sabtu, 1 Mei 2010 | 10:25 WIB

Oleh Jean Rizal Layuck dan Ferry Santoso

”Rakyat Sulawesi Utara benar-benar beruntung, banyak tempat (wisata) yang indah. Kalau sedang di Manado, rasanya saya tak ingin pulang,” kata Duta Besar Amerika Serikat Cameron Hume di Gardenia Country, Tomohon, Mei tahun lalu.

Dalam lanskap pariwisata nasional, Sulawesi Utara (Sulut) merupakan salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia. Sebanyak 503 obyek wisata alam, budaya, dan kuliner tersebar di 15 kabupaten/kota.

Banyak orang mengagumi keunggulan alam di provinsi paling utara Indonesia itu, termasuk Cameron Hume. Bahkan, ia merasa kurang puas dengan dua kali kunjungan dan menjelajahi titik penyelaman baru di kawasan Siladen, Mantehage, dan Naen yang berada di gugusan Pulau Manado Tua dan Bunaken. Tiga titik penyelaman itu tak kalah indah dengan Taman Laut Bunaken yang telah lebih dulu tersohor.

Setelah menyelam, Hume menikmati lokasi pendakian Gunung Api Mahawu berketinggian 1.311 meter di Kota Tomohon yang memiliki danau kawah amat indah, seperti Gunung Bromo, Jawa Timur. Tomohon masih memiliki danau kawah Gunung Api Lokon (1.580 meter) yang konon lebih eksotik.

Dari pusat kota, pengunjung bisa menyaksikan keindahan Gunung Lokon dan Mahawu yang mengapit Kota Tomohon. Tentu pemandangan akan lebih indah jika naik ke Bukit Inspirasi. Saat berdiri di sana, pemandangan lepas dari bukit itu memungkinkan Anda menyaksikan keindahan Gunung Lokon. Gunung itu memanjang dengan puncak ada di bagian selatan. Di sebelah utara menjulang pasangannya, Gunung Mahawu.

Di antara keduanya terbentang pematang yang berbentuk pelana sepanjang lebih kurang 2 kilometer. Di atas pelana itulah sekarang sedang terjadi letusan-letusan. Kawah di sana menyemburkan abu dan batu-batuan yang berlangsung hampir tanpa henti.

Lokasi puncak gunung

Kawasan Gunung Api Mahawu bahkan kini dapat ditempuh dengan mobil. Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar membangun infrastruktur jalan ke sana. Di samping itu, juga dibangun jalan setapak melewati perkebunan sayuran rakyat.

Masih di Tomohon, pengunjung atau wisatawan dapat pergi ke Desa Langsot yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota. Di tempat itu, dapat dilihat peninggalan orang Minahasa berupa kuburan batu waruga. Kuburan batu peninggalan abad ke-14 dan ke-15 itu posisinya berdiri memakai penutup kepala.

Di dalam kuburan tersimpan benda-benda purbakala, seperti piring dan kelewang. Sayang, obyek wisata itu tidak terpelihara, bahkan benda-benda purbakala banyak hilang dicuri orang. ”Sampai penutup waruga juga diambil orang,” kata Refly Santili, warga Tomohon.

Tak kalah menarik wisata kuliner dengan ragam makanan dari ikan serta sejumlah makanan tradisional dipadu dengan makanan internasional. Di Kota Tomohon, setiap tahun diadakan Festival Gardenia Food yang khusus melombakan makanan dengan cita rasa tradisional, nasional, dan internasional. Festival itu digagas oleh Gardenia Resort dengan mengundang ahli-ahli kuliner dari Jakarta.

Jefferson Rumajar mengungkapkan, Pemerintah Kota Tomohon memang terus menggalakkan pariwisata di Tomohon. Secara geografis, Tomohon memang memiliki keunggulan tersendiri.

Misalnya, wisata kota bunga. Keanekaragaman bunga menjadi keunggulan bagi sektor pariwisata untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Produksi bunga pun terus meningkat karena cukup banyak warga yang menanam bunga. Sebagai gambaran, menurut Jefferson, pada 2003, produksi bunga, yaitu jenis bunga potong, baru mencapai 2 juta tangkai. Namun, pada 2009, produksi bunga mencapai 112 juta tangkai.

Bunga yang dihasilkan saat ini, menurut Jefferson, memang lebih banyak dipasarkan di Sulut. Namun, pada 2013, ditargetkan, bunga yang diproduksi dapat diekspor ke Singapura.

Kota Tomohon yang berpenduduk 100.000 jiwa dan beriklim sejuk memang cocok untuk tanaman bunga. Oleh karena itu, sejumlah festival memberikan daya tarik untuk wisatawan lokal dan asing.

Untuk urusan wisata, Tomohon semakin bergeliat setelah putra daerah, Ronald Korompis, membangun lokasi ”Bukit Doa” di Kakaskasen seluas 70 hektar. Lokasi yang luas dengan pemandangan indah menjadi arena outbond bagi masyarakat.

Dari sejumlah kota pariwisata di Provinsi Nyiur Melambai, Kota Tomohon memang menyatakan keunggulan wisatanya dengan berbagai obyek wisata alam. Di samping dua gunung api, Tomohon juga masih memiliki Danau Linow yang airnya berwarna-warni. ”Setelah Bunaken, Kota (Tomohon) layak dijual,” kata Anton Supit, pengamat ekonomi di Jakarta.

Pariwisata Sulut menjanjikan dari waktu ke waktu. Dari laut, pantai, hingga ke gunung dapat disaksikan panorama alam indah dengan kultur masyarakat yang ramah dan terbuka.

Sulut masih menyimpan Taman Laut Selat Lembeh (wilayah Kota Bitung) yang mulai dikenal dunia pariwisata internasional karena menjadi tempat perkawinan ikan-ikan paus yang spesifik. Selat Lembeh juga diminati karena galaknya sistem arus laut di sana.

Majalah National Geographic pada 2005 sempat membuat laporan khusus tentang keunikan alam bawah laut Selat Lembeh. Bahkan, sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di lingkungan hidup kelas dunia mengklaim wilayah Selat Lembeh sebagai wilayah yang harus dikonservasi dan dilindungi dari kerakusan tangan-tangan jahil.

Selain itu, Sulut juga masih menyimpan Gunung Api Ruang yang terletak di bawah laut di Kabupaten Sitaro. Di lokasi Gunung Api Ruang, para penyelam Jerman dan Perancis seolah-olah lupa terhadap seluruh keramaian dunia pada saat mereka menyelam, mendekati wilayah kawah gunung yang terletak di bawah laut.

Kekayaan alam laut dan bahari Sulut masih dilengkapi dengan Pantai Porodisa di perairan Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud. Orang Talaud menyebut pantai itu sebagai Pantai Porodisa.

Penyebutan nama Porodisa dimulai oleh pelaut Portugis ketika pertama kali mendekati perairan Lirung. Ketika itu, mereka menemukan panorama alam yang sangat indah. Hingga kini, sebutan Porodisa masih saja digunakan setiap warga Talaud. Di Kabupaten Talaud, setiap Mei digelar pesta budaya Mane’e, kegiatan menangkap ikan menggunakan janur kuning.

Pada 2009, pariwisata Sulut mencatat lompatan dari angka kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik yang naik dua kali lipat. Sulawesi Utara memiliki 503 obyek wisata budaya, alam, dan laut.

Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Fredrik Rotinsulu di Manado menyebutkan, angka kunjungan turis asing mencapai 78.203 orang pada 2009. Pada 2008, jumlahnya hanya sekitar 32.760 orang. Rotinsulu mengatakan, kenaikan angka kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik terjadi pada lama tinggal dan jumlah uang yang dibelanjakan. Jika pada 2008 lama tinggal tiga hari, kini menjadi empat hari. Uang yang dibelanjakan turis asing sekitar Rp 1,5 juta setiap hari setiap orang, sedangkan wisatawan domestik Rp 750.000 sehingga total uang yang dibelanjakan para turis asing dan turis lokal Rp 3,7 triliun.

Kenaikan angka kunjungan wisata itu dipicu oleh pelaksanaan konferensi kelautan dunia Mei lalu, dilanjutkan Sail Bunaken pada Agustus.

Rotinsulu merasa yakin angka kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik bertambah lebih banyak pada 2010 dengan sejumlah kalender kegiatan internasional di bidang Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dan wisata. ”Untuk MICE, Manado punya fasilitas tiga gedung convention (konvensi) yang dapat menampung 3.000 hingga 5.000 orang,” katanya.

Akan tetapi, keyakinan Rotinsulu, seorang dokter hewan, tidak didasarkan pada program kerjanya. Ia mengatakan, program pariwisata terbatas pada anggaran APBD. Oleh karena itu, proyek pariwisata diserahkan kepada kabupaten dan kota.

Infrastruktur

Ketua PHRI Sulut Johny Licke mengatakan, percuma potensi besar jika kinerja pelaku pariwisata asal jadi. ”Sesungguhnya banyak turis mengeluh karena obyek-obyek pariwisata menarik tidak dilengkapi dengan infrastruktur jalan ataupun transportasi yang layak. Contohnya Bunaken,” katanya.

Untuk ke Bunaken, banyak turis mengeluh karena mobilitas angkutan laut yang minim sehingga pariwisata menjadi mahal. ”Bayangkan jika setiap ke Bunaken, orang harus mencarter perahu motor Rp 500.000 hingga Rp 1 juta sekali jalan,” katanya.

Yang pasti, pariwisata Sulut mengalami guncangan setelah perusahaan penerbangan Air Asia, yang menerbangi rute Kuala Lumpur-Manado, menghentikan aktivitasnya pada Maret lalu. Sebelumnya, Sriwijaya Air yang menerbangi Manado-Davao juga terhenti.

Untungnya masih ada Silk Air yang terbang ke Manado dari Singapura empat kali seminggu. Namun, terhentinya dua penerbangan internasional itu setidaknya telah menutup pintu keluar masuk Manado secara langsung yang membuat pejabat di sana pusing tujuh keliling.

Sangat disayangkan, potensi pariwisata besar, tetapi pengelolaan potensi sangat lemah.


Editor : made
Sumber: