Sabtu, 26 Juli 2014

/ Travel

Pulau Sikuai, Membuai tapi Terbengkalai

Sabtu, 8 Mei 2010 | 16:39 WIB

BUTUH waktu sekitar 50 menit, jika cuaca sedang bagus, untuk menuju ke Pulau Sikuai yang terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. Perjalanan menuju Pulau Sikuai bisa ditempuh dari Dermaga Wisata Bahari dengan menumpang speed boat milik PT Abadi Wijaya yang memiliki dan mengelola satu-satunya resor di pulau itu, yakni New Sikuai Island Resort.

Pengunjung dapat pula menyewa kapal milik nelayan dari Pelabuhan Bungus, yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Padang ke arah selatan. Setiba di Pulau Sikuai, pengunjung tetap harus membayar Rp 50.000 kepada pengelola pulau, yakni New Sikuai Island Resort.

Namun, informasi menuju dan selama berada di pulau itu teramat sulit didapat. Bahkan, petunjuk untuk menuju Dermaga Wisata Bahari pun tidak ada.

Ketiadaan terminal bus dan angkutan kota di Padang menjadi sebab utama. Tempat mangkal bemo di Pasar Raya, Padang, juga sudah tidak ada lagi. Lagi pula, bemo yang beroperasi lebih sering mengangkut barang ketimbang orang. Akhirnya, ojek sepeda motor menjadi satu-satunya alat transportasi dengan tarif Rp 5.000 menuju ke Dermaga Wisata Bahari setelah berputar-putar nyaris selama satu jam di kawasan Pasar Raya yang tidak tertata.

Butuh biaya Rp 250.000 untuk ikut menumpang speed boat milik PT Abadi Wijaya. Biaya itu termasuk tiket pergi-pulang dan jatah makan siang.

Jika menyewa kapal milik nelayan, harganya berkisar Rp 200.000.

Jika hendak menginap, terdapat tidak kurang dari 54 bangunan resor. Tarif semalam Rp 800.000 hingga Rp 4 juta. Ada lima jenis kamar dengan tarif berbeda yang ditawarkan.

”Belum pernah terjadi ada pengunjung datang ke sini dan tidur di tenda,” kata Hadi (20), pegawai New Sikuai Island yang hampir dua tahun bekerja di pulau itu.

Kendala listrik

Namun, listrik menjadi kendala utama bagi pengunjung. Pukul 08.00 hingga 17.00 listrik dari generator dimatikan. ”Semestinya mereka menggunakan listrik tenaga surya dan membangun resor yang atapnya lebih tinggi sehingga tidak perlu AC yang butuh banyak energi. Pengunjung tidak butuh AC. Asalkan ada udara segar masuk, itu sudah cukup,” ujar Neil (32), pengunjung asal Kanada.

Neil juga tidak habis pikir, mengapa pulau seindah itu harus sepi saat liburan akhir pekan panjang, dengan sekitar 15 resor saja yang terisi. Saat itu, Sabtu (3/4), terlihat tidak banyak wisatawan yang datang.

”Semestinya pulau ini bisa jadi tujuan orang-orang saat akhir pekan,” kata Neil tentang pulau yang dipenuhi keanekaragaman biota laut dan koleksi flora serta fauna yang bermacam-macam. Mahalnya biaya dan pelayanan yang tidak seberapa diduga menjadi penyebab sepinya pengunjung.

Pengunjung yang tidak menginap berangkat pukul 10.00 dan sudah harus kembali ke Dermaga Wisata Bahari pada pukul 16.00. Paket wisata sehari yang merupakan tarif termurah menuju pulau itu dinamai One Day Tour.

Selama sekitar lima jam berada di pulau seluas 38,6 kilometer persegi itu, pengunjung bebas berkeliling. Jika berjalan kaki, butuh waktu lebih dari dua jam untuk mengelilingi pulau.

Tiga sepeda motor disediakan pengelola pulau untuk disewa. Tarif sewa sepeda motor buatan China itu Rp 200.000 per jam.

Kano plastik dipasang dengan tarif sewa Rp 50.000 per jam, sedangkan jet ski Rp 150.000 selama 15 menit.

Pengunjung juga dapat berenang atau melakukan aktivitas snorkeling dan diving di sekitar wilayah perairan berkarang itu. Sebagian besar terumbu karang memang terlihat rusak dan tidak bisa lagi dinikmati. Namun, di bagian belakang pulau itu kondisi sebagian terumbu karang tampak lebih baik, dengan macam-macam tumbuhan dan hewan, seperti burung blekok, relatif mudah dijumpai.

Pemilik PT Abadi Wijaya sekaligus New Sikuai Island Resort yang mengelola Pulau Sikuai sejak 2007, Rikwan, mengeluhkan tidak adanya dukungan pemerintah. Investasi Rp 4 miliar yang ditanamkan sejak 2007 hingga kini belum kembali.

Resor di pulau tersebut dibangun sejak 1994 dan sejak membeli hak pengelolaan pada 2007, Rikwan hanya menikmati masa keemasan pada tahun 2008-2009. ”Setelah gempa bumi, tingkat hunian turun jadi sekitar 5 persen hingga 10 persen saja,” katanya.

Wali Kota Padang Fauzi Bahar mengatakan, pengelola Pulau Sikuai saat ini memang memiliki persoalan untuk pengadaan listrik. Ia mengatakan, PLTU Teluk Sirih di Kecamatan Bungus, Teluk Kabung, Padang, akan menjadi solusi kelangkaan listrik itu. ”Investor dari Jerman pada Juli juga akan masuk ke pulau itu,” kata Fauzi.

Belum utuh

Peneliti budaya dari Universitas Negeri Padang, Ady Rosa, menyebutkan, industri pariwisata di Pulau Sikuai dan Sumbar secara keseluruhan belum pernah dikelola secara utuh. ”Jaringan yang ada tidak pernah digunakan dan cenderung berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar James Hellyward menambahkan, pengelolaan Pulau Sikuai yang merupakan wewenang Pemerintah Kota Padang harus dilihat lagi dari aspek kebijakannya. Pengelola saat ini dari pihak swasta tidak bisa disalahkan jika mengutip biaya yang terlampau tinggi dengan pelayanan yang tidak terlalu memuaskan. Pengelola memang mencari untung terlebih dulu. (Ingki Rinaldi)


Editor : made
Sumber: