Sabtu, 22 November 2014

/ Travel

Sensasi Bermobil ke Flores

Senin, 10 Mei 2010 | 15:28 WIB

MENGAPA tidak mencoba berkendaraan terus ke timur? Berlibur dengan mobil ke Denpasar, Bali, sudah bukan sebuah kejutan. Seiring dengan tampilnya mobil-mobil anyar dengan kemampuan mesin hebat, perjalanan hanya ke Denpasar bukan lagi sebuah sensasi besar. Semakin ke timur dari Bali, sampai ke ujung timur Pulau Flores, jelas sebuah cerita tersendiri.

Berkendaraan dari Denpasar untuk tiba di Labuhan Bajo, Flores Barat, hanya memerlukan waktu satu setengah hari. Jarak yang ditempuh kendaraan hanya sekitar 738 kilometer. ”Jarak yang tertera di odometer ini juga setelah kami sempat salah jalan sejauh 70 kilometer selepas Sumbawa Besar,” ujar Medci Djogo, yang ditemui di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, awal April 2010.

Medci dan keluarganya menggunakan mobil Pregio keluaran KIA dari Jakarta untuk menghadiri perayaan Paskah ala Portugis di Larantuka. Mobil bermesin diesel dengan silinder mesin 2.700 cc ini membawa enam penumpang dari Jakarta. Tiga penumpang lain bergabung di Denpasar.

Jarak 738 kilometer dari Denpasar hingga Labuhan Bajo memerlukan waktu tempuh satu setengah hari karena mobil harus tiga kali menumpang feri, yakni feri antara Pulau Bali dan Pulau Lombok, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, serta Pulau Sumbawa dan Pulau Flores.

”Perjalanan dari Denpasar ke Flores harus memperhitungkan feri antara Sumbawa dan Flores yang hanya beroperasi satu kali sehari setiap pagi sekitar pukul 09.00 Wita,” ujar Steven, warga Jimbaran, Denpasar, yang ditemui di Labuhan Bajo. Agar bisa tiba pada pagi hari berikutnya di Sape, pelabuhan penyeberangan di Sumbawa, perjalanan dari Denpasar harus dimulai pada pagi hari.

Perjalanan hari Sabtu, 27 Maret lalu, dimulai pukul 10.00 Wita. Start pagi hari ini dilakukan mengingat waktu tempuh feri pada setiap penyeberangan. Feri beroperasi setiap setengah jam di Pelabuhan Padang Bai, di sisi timur Pulau Bali. Diperlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai di pelabuhan feri Lembar, Pulau Lombok.

”Biaya penyeberangan per mobil Rp 555.000, sudah termasuk semua penumpang,” ujar Medci. Perjalanan dari Lembar hingga pelabuhan penyeberangan feri di Khayangan di ujung timur Pulau Lombok memerlukan waktu satu setengah jam. ”Perjalanan siang hari jadi harus ekstra hati-hati dengan kendaraan roda dua,” ujarnya. Pulau Lombok tidak terlalu panjang sekitar 80 kilometer.

Feri di Khayangan beroperasi reguler setiap satu jam. Muatan, termasuk mobil, yang semakin sepi membuat sejumlah feri hari itu tidak beroperasi. Dengan membayar tiket feri Rp 392.000, perjalanan feri siang itu sangat nyaman. Pulau-pulau kecil tak berpenghuni seperti muncul dari laut. Perjalanan sepanjang sekitar satu setengah jam pun terasa lebih cepat.

Pelabuhan feri Poto Tanos di ujung barat Pulau Sumbawa menjadi awal perjalanan sejauh sekitar 400 kilometer melintasi Sumbawa. Waktu pukul 18.00 Wita membuat pemandangan Pulau Sumbawa yang penuh teluk berair tenang tanpa gelombang praktis dilupakan.

Jurang dan tanjakan menghadang, terutama selepas Sumbawa Besar menuju Dompu, Bima, dan Sape. Pemandangan dengan laut di bawah jurang tidak terlihat. ”Jalan jelek sejauh puluhan kilometer selepas Sumbawa Besar. Mobil tidak bisa dipacu di atas 40 kilometer per jam,” ujar Medci. Terlihat ada upaya perbaikan dan pelebaran jalan.

Karena jalan jelek, ditambah sempat nyasar selepas Sumbawa Besar, mobil tiba di Sape lebih lambat dari jadwal feri. Beruntung, feri milik PT Dharma Lautan Utama yang sudah dikontak bersedia menunggu empat-lima menit. Perjalanan dengan feri selama delapan jam menuju Labuhan Bajo pun dimulai. Pemilik mobil kecil harus membayar tiket feri Rp 1,4 juta per mobil.

Sensasi perjalanan

Menyeberangi Selat Sape selama delapan jam sebenarnya tidak membosankan. Ada sejumlah pulau eksotik di sana. Pulau Sangiang dengan gunung api Sangiang setinggi 1.950 meter terlihat anggun. Juga Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan belasan pulau kecil membentang. Feri berlayar di antara pulau-pulau yang berserakan. Lumba-lumba mengantar di depan feri.

Feri juga diisi belasan wisatawan mancanegara yang hendak melihat komodo, naga raksasa di Pulau Komodo. Mereka biasanya menyewa perahu motor mewah yang banyak bersiap di Labuhan Bajo, Manggarai Barat, untuk membawa mereka ke Pulau Komodo.

Tujuan perjalanan adalah Larantuka. Pekan Paskah atau Semana Santa yang penuh ritual peninggalan bangsa Portugis yang tahun ini genap 500 tahun menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi, perjalanan ke Larantuka sejauh 500 kilometer menjanjikan banyak cerita.

Pulau dengan sekitar 10 gunung api ini membuat perjalanan tak pernah sepi dari tanjakan ekstrem, jurang dalam, dan tikungan tajam. Kondisi ini sudah ditemui di Roe, hanya 20 kilometer dari Labuhan Bajo. Mesin mobil meraung karena hanya bisa menggunakan persneling satu dan dua sepanjang 5 kilometer.

Syaril, pengemudi mobil ekspedisi asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengakui beratnya medan perjalanan di Flores. ”Tanjakan-tanjakan jalan di Flores sungguh berat, terutama antara Labuhan Bajo dan Ruteng,” ujar Syaril yang ditemui di atas feri saat balik dari Labuhan Bajo ke Sape.

Syaril baru saja membawa muatan keperluan pembangkit listrik tenaga uap di utara Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Medan jalan di Jawa dan Sumatera pernah dijalaninya. ”Tetapi, di Flores sungguh menantang. Mobil dan sopir harus semuanya sehat,” ujarnya. Namun, justru tanjakan, tikungan, dan jurang menjadi sensasi tersendiri. Mobil tak hanya mengandalkan rem semata. Pengereman dengan mesin (engine brake) mutlak. Mobil harus sehat, pengemudinya juga harus awas. Dan di sinilah sensasi mengemudi di medan jalan seperti di Flores.

Jurang, gunung, dan tikungan tajam menjadi pemandangan tersendiri. Tanjakan dan tikungan sejauh 31 kilometer dari Aimere ke Bajawa di Kabupaten Ngada menjadi kisah tersendiri. Di sisi kanan Gunung Inerie yang tinggi menjulang menjadi pemandangan menakjubkan lainnya. Juga Gunung Ebulebo di Kabupaten Nagekeo, dengan asap tipis dari puncaknya.

Nilai berharga dari semua ini adalah melihat Gunung Kelimutu dengan danau tiga warnanya yang kini menyajikan warna hijau tua, hijau muda, dan hijau gelap. Tak lagi merah tua, hijau, dan hitam seperti sebelumnya. Hanya perlu menyimpang 12 kilometer dari jalan raya Ende dan Maumere, mendaki menuju ketinggian 1.650 meter.

Selepas Moni, desa dengan tempat penginapan bagi para wisatawan, jalan berliku dengan sawah diputarnya, sebelum mencapai kawasan hutan pinus. Kali kecil tak berjembatan menjadi sensasi tersendiri. Mobil tak bisa sampai ke puncak melihat danau. Perlu jalan sejauh 3 kilometer pergi-pulang. Berada di puncak pada pagi hari sangat dianjurkan karena minim kabut.

Sebelum sampai ke Larantuka, bisa juga melihat gereja tua buatan Portugis di Sikka. Juga bisa mampir ke Nilo, melihat patung Bunda Maria ukuran raksasa, sebelum masuk kota Maumere. Sensasi Semana Santa di Larantuka menjadi cerita religius lainnya.

Apabila perjalanan berlangsung dari Jakarta hingga Larantuka, odometer memperlihatkan jarak 5.513 kilometer pergi dan pulang. Biaya bahan bakar solar sebanyak Rp 2 juta, sekitar 450 liter. Biaya penyeberangan pergi-pulang sekitar Rp 5 juta, termasuk feri Jawa-Bali. Untuk perjalanan sembilan penumpang termasuk cukup murah. Apalagi bisa mampir ke Kelimutu dan mengalami sensasi jurang, tanjakan terjal, dan tikungan tajam. Silakan mencoba sensasi jalan ke Flores. (Pieter P Gero)


Editor : made
Sumber: