Jumat, 28 November 2014

/ Travel

KULINER KHAS

Sensasi Sayur Daun Belimbing

Rabu, 23 Juni 2010 | 04:33 WIB

KOMPAS.com - Datang ke Pulau Dewata sebagai orang yang tinggal lama di Jawa membuat saya agak terbelalak kala bertemu kuliner asli Bali. Bayangan saya, daun belimbing buah (Averrhoa carambola), seperti lazimnya di Jawa, bakal berhenti nasibnya di bawah pohon yang buahnya berbentuk bintang ini. "Dianggap sampah, daun belimbing cuma naik pangkat jadi pupuk hijau," gumam saya.

Namun, gara-gara mencicipi sendiri sensasi sayur daun belimbing khas Bali, sedikit banyak, wawasan saya pun ikut-ikutan meluas. "Kalau di Bali, daun belimbing memang biasa dibuat sayur," kata Kadek Berata, warga Nuansa Barat, Jimbaran.

Pengalaman pertama menikmati sayur daun belimbing terwujud pekan lalu di Pullman Bali Legian Nirwana, Kuta. Daun majemuk yang panjangnya bisa mencapai sekitar 50 cm itu tersaji dengan kuah santan kental. Rasanya kesat seperti sayur daun singkong dan agak pahit. Tapi, sajian berwarna hijau tua pekat itu, tidak sepahit sayur buah pare (Momordica charantia L). "Ditambah sambal, rasanya lebih enak," kata Kadek.

Lebih lanjut, Kadek, pria bertubuh agak gemuk itu, mengatakan, daun belimbing yang muda dipetik dari pohonnya kemudian dirajang kasar. "Daun direbus hingga setengah matang," imbuhnya.

Setelah ditiriskan agar lebih cepat dingin, barulah bumbu sayur itu dibuat. Komposisi bumbu terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabe merah, daun salam atau lazim disebut jangar ulam, kencur, serta sedikit lengkuas dan jahe. Tak lupa, taburan garam secukupnya.

Seluruh bumbu kemudian diulek halus. Selanjutnya, bumbu halus itu digoreng dengan sedikit minyak goreng. Langkah yang tak kalah penting adalah menyiapkan santan kelapa.

Lalu, bumbu dan santan matang itu tinggal dicampurkan dengan daun belimbing tadi. Diaduk-aduk hingga merata, sayur daun belimbing pun siap dinikmati.

Cuma, menariknya, sayur daun belimbing ternyata lazim pula disantap dalam bentuk urap. Cara pembuatannya dengan versi kuah relatif sama. Ada tambahan kacang merah rebus di dalam urap tersebut. "Hanya, kelapa untuk santan justru harus diparut kasar. Kemudian, kelapa itu dicampurkan ke bumbu dan daun belimbing setengah matang tadi," pesan Kadek sembari menambahkan, biar lebih nikmat, saat masih melekat di batok, kelapa tersebut harus dibakar terlebih dahulu.

Baik versi sayur maupun urap, makanan ini biasa disantap dengan nasi hangat plus lauk ayam opok atau ayam bakar yang dikeprek hingga bentuknya lebih melebar. "Pakai sambah matah juga enak," kata Kadek.

Bagi yang belum mafhum, sambal matah adalah sambal khas Bali. Seluruh bahan untuk sambal ini, seperti cabe merah, cabe rawit, bawang merah, dan bawang putih, tidak diulek tapi dipotong tipis-tipis. Bahan-bahan itu kemudian dicampur dengan air jeruk nipis. Kalau ingin lebih asin, tinggal tambahkan agak banyak garam. Kalau Anda suka yang lebih asam, silakan bubuhkan air jeruk nipis porsi lebih.

Kadek lebih lanjut menuturkan, sayur daun belimbing atau dikenal pula sebagai sayur kalas belimbing, kini, memang jarang dijumpai dalam menu keseharian di Bali. "Biasanya, sayur ini justru cuma muncul saat upacara-upacara adat Hindu," terang Kadek yang mengaku berhasrat makin membuat populer kembali sayur daun belimbing ini menjadi sajian sehari-hari.

 

 


Editor : Josephus Primus