Sabtu, 1 November 2014

/ Travel

Wisata Sejarah

Surabaya Kaya Peninggalan Sejarah

Rabu, 17 November 2010 | 16:59 WIB

Berita Terkait

SURABAYA, KOMPAS.com - Dengan mulusnya, tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mendompleng tentara Inggris (sekutu) saat masuk Indonesia pascakemerdekaan 17 Agustus 1945. Kedatangan tentara ini bertujuan untuk melucuti tentara Jepang yang menyerah pada Amerika Serikat setelah peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Selain itu, tentara sekutu dan NICA ini pun berusaha agar Indonesia kembali menjadi jajahan Belanda. Tujuan para tentara ini pun menggerakkan perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya perlawanan rakyat paling bersejarah adalah peristiwa 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Jika Anda berkesempatan mampir ke Surabaya, tempat terjadinya peristiwa 10 November 1945, tidak ada salahnya Anda melakukan wisata sejarah menyusuri daerah-daerah yang berhubungan dengan Hari Pahlawan. Kompas.com berkesempatan ikut dalam program Surabaya Heritage Track untuk menelusuri beberapa bangunan bersejarah.

Gedung Internatio Jika mendengar kisah tentang Hari Pahlawan, momen paling melekat dalam ingatan adalah peristiwa perobekan bendera Belanda yang terjadi di Hotel Yamato. Namun ada kisah bersejarah penting lainnya, yaitu tewasnya pimpinan tentara Inggris, Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby. Banyak orang yang mengira bahwa Mallaby tewas di Jembatan Merah, tapi sebenarnya peristiwa ini terjadi di sekitar area Gedung Internatio yang dibangun tahun 1920.

Tempat inilah yang menjadi markas bagi tentara sekutu. Hingga kini sosok pemuda Indonesia yang menembak Mallaby masih misteri. Kematian Mallaby menjadi awal meletusnya pertempuran 10 November 1945. Gedung Internatio berdekatan dengan Gedung Cerutu dan Gedung Polwiltabes Surabaya.

Gedung Cerutu Gedung ini dibangun pada tahun 1916. Retno, pemandu program Surabaya Heritage Track, menjelaskan bahwa Gedung Cerutu dulunya adalah kantor perusahaan gula. Karena bentuk menaranya yang seperti cerutu, gedung ini pun dijuluki sebagai Gedung Cerutu.

Gedung Polwiltabes Surabaya Gedung Polwiltabes Surabaya sangat unik. Karena dari awal dibangun, tempat ini adalah kantor kepolisian, baik pada masa kolonial Belanda, masa Jepang, hingga saat ini. Hanya namanya saja yang berubah-ubah. Bangunan ini berdiri pada tahun 1850. Di bawah bangunan terdapat penjara bawah tanah. Konon, ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan gedung ini dengan penjara Kalisosok.

Jembatan Merah Siapa yang tak kenal lagu keroncong "Jembatan Merah"? Tentu lagu yang sangat familiar. Jembatan yang melintas di atas Kali Mas ini mulanya dibangun untuk menghubungkan Surabaya sebelah timur dengan sebelah barat. Sebelah timur merupakan area pedagang dan pelaut asing.

Saat ini, kawasan tersebut menjadi area pecinan dan di sebelahnya terdapat kawasan komunitas Arab. Sementara itu di sebelah barat dulunya merupakan kawasan pemerintahan kolonial Belanda. Jadi menurut Retno, Jembatan Merah dibangun bukan untuk kepentingan militer. Saat pertempuran melawan tentara Belanda dan Sekutu, para arek-arek Suroboyo bertahan di kawasan Jembatan Merah.

Tugu Pahlawan Tugu Pahlawan merupakan ikon kota Surabaya. Monumen ini dibangun untuk memperingati Hari Pahlawan. Tugu Pahlawan terletak di tengah Taman Kebonrojo, di seberang kantor Gubernur Jawa Timur. Saat memasuki kawasan monumen ini, Anda akan disambut dengan patung Soekarno dan Hatta, lengkap dengan tulisan-tulisan perjuangan seperti "Merdeka atau Mati". Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952.

Di dekat tugu ada piramida dari kaca. Di bawah piramida ini terdapat museum. Untuk masuk ke bagian museum Anda cukup merogeh kocek Rp 2.000. Di museum ini Anda dapat menyaksikan patung peraga dan ukiran yang menggambarkan peristiwa 10 November 1945. Selain itu ada pula koleksi pidato Bung Tomo dan rekaman suara Bung Tomo saat menolak ultimatum tentara sekutu yang mengharuskan rakyat Surabaya menyerah. Menurut Abdullah, pegawai museum ini, akan ada penambahan koleksi berupa mobil Bung Tomo.

Selain tempat-tempat di atas, Anda juga dapat mengunjungi Hotel Majapahit, yang sejak awal dibangun dan melewati masa Belanda, Jepang, hingga kini selalu berfungsi sebagai hotel. Saat hotel ini bernama Hotel Yamato, terjadi peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda hingga menjadi merah putih, bendera Indonesia.

Anda juga bisa mendatangi kawasan Jalan Kali Sosok untuk melihat penjara Kalisosok yang ditakuti dan dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Williams Daendels. Bangunan yang tembok-temboknya kini dipenuhi mural termasuk saksi sejarah peristiwa 10 November 1945. Para tahanan Kalisosok ikut serta dalam pertempuran ini.

Untuk mendapatkan pengalaman napak tilas yang lebih komprehensif, Anda bisa menggunakan bantuan biro wisata yang banyak terdapat di Surabaya. Anda juga bisa mengunjungi Balai Pemuda Surabaya di persimpangan Jalan Pemuda, yang merupakan tempat Pusat Informasi Pariwisata untuk mendapatkan panduan pengetahuan sejarah mengenai tempat- tempat ini.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana