Kamis, 28 Agustus 2014

/ Travel

Food Story

Makan Bakso di Pinggir Rel

Selasa, 23 November 2010 | 16:04 WIB

Berita Terkait

Oleh: Yulia Sapthiani dan Sarie Febriane
 
BAGI Anda yang baru pertama kali datang ke warung Bakso President di belakang pertokoan Mitra II, Malang, jangan kaget kalau tiba-tiba merasakan getaran di dalam ruangan. Maklum, warung ini berada di pinggir rel kereta api yang masih digunakan.

Senin (15/11/2010), misalnya, saat kami tengah menikmati makan siang di warung tersebut, kereta barang dari arah Stasiun Malang melintas di rel yang hanya berjarak sekitar satu meter dari halaman.

Namun, lokasi di pinggir rel inilah yang antara lain membuat Bakso President begitu terkenal. Orang yang datang dari arah Jalan Batanghari bahkan harus menyeberang rel untuk masuk ke warung yang berdiri di tempat tersebut sejak tahun 1983.

”Saya sendiri heran, tempatnya seperti itu kok bisa terkenal,” kata Abdul Ghoni Sugito (52), pendiri Bakso President.

Bakso President tak hanya dikenal publik Malang dan sekitarnya, tetapi juga di kalangan artis Ibu Kota. Ini bisa dilihat dari foto-foto pesohor yang dipajang di dinding warung, seperti Inul, Uya Kuya, Rudy Hadisuwarno, Nugie, dan puluhan foto artis lainnya.

”Sebenarnya sudah dari dulu artis datang ke sini, seperti zamannya Farid Hardja. Tapi, kan, waktu itu belum terpikir untuk didokumentasikan,” kata Endah Suryaningsih, salah satu anak Ghoni, yang siang itu berada di warung.

Dengan lokasi yang berada di pinggir rel, Endah bercerita, tempat tersebut juga menjadi tempat wisata bagi keluarga yang datang, terutama bagi anak-anak yang ingin melihat kereta api. ”Kadang suka ada pembeli yang bertanya jadwal kereta karena anaknya ingin melihat kereta yang lewat,” kata Endah.

Selain menjadi kasir, Endah dibantu pekerja lainnya membuat sendiri bakso dan ”kawan-kawannya”. Jumlahnya mencapai 15 macam, mulai dari berbagai jenis bakso (yang disebut pentol oleh Endah dan para langganannya), seperti bakso halus, bakso urat, bakso udang, bakso isi telur ayam, dan bakso yang berisi jeroan sapi, hingga tahu, siomay, dan sejumlah jenis pangsit yang dibedakan berdasarkan bentuknya, seperti pangsit goreng yang berbentuk seperti kembang atau yang bentuknya panjang.

Bakso, tahu, pangsit, dan siomay ini bisa dinikmati dengan atau tanpa mi. Uniknya, tempat ini juga menyediakan lontong untuk disajikan bersama bakso, sebagai pengganti nasi.

Harga satuannya bervariasi, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 5.500. Pembeli diperbolehkan memilih sendiri jenis dan jumlah yang mereka inginkan atau memilih berdasarkan paket yang sudah disediakan.

Anda yang ingin makan kenyang, bisa memilih paket spesial. Dengan harga Rp 17.500, Anda bisa menikmati bakso halus dan urat, tahu, siomay, pangsit, dan berbagai jenis jeroan.

Adapun bagi pembeli dengan anggaran terbatas, ada paket hemat berharga Rp 6.000 yang isinya bakso urat, bakso halus, siomay rebus, dan siomay goreng.

Kreativitas Endah dan kedua saudaranya bahkan menghasilkan keripik bakso untuk camilan. ”Bahannya sama seperti bahan membuat bakso udang. Hanya saja, untuk jadi keripik, baksonya diiris-iris lalu langsung digoreng,” tutur Endah.

Selain variasi, kuah dari rebusan tulang sapi yang konon rasanya tak berubah sejak pertama kali dibuat menjadikan tempat ini memiliki banyak pelanggan setia. Endah mengatakan, resep yang saat ini dipakai adalah resep saat ayahnya berjualan dulu.

Dipikul

Sambil sesekali menghitung dan memberi kembalian uang kepada pembeli, Endah bercerita bagaimana warung tersebut dirintis oleh ayahnya. Dengan modal pengalaman bekerja pada seorang penjual bakso, Ghoni kemudian berjualan bakso sendiri di tahun 1977. Beberapa bumbu dari resep majikannya diubah sesuai selera Ghoni.

Cara jualannya bukan di warung, melainkan dagang keliling kampung dengan cara dipikul. Ghoni menjajakan dagangan yang semangkuknya hanya terdiri dari mi/bihun, bakso, dan tahu ini dari rumahnya di kawasan Jodipan ke berbagai tempat, termasuk ke daerah Lowokwaru di sekitar pinggiran rel, tempatnya pertama kali membuat warung.

Setelah dipikul, Ghoni berganti memakai gerobak dorong. ”Suatu kali saat berjualan di sini, ada yang menawari bapak tempat untuk bikin warung. Akhirnya, tahun 1983 dibukalah warung ini,” kata Endah.

Seiring berjalannya waktu, bisnis bakso yang dijalani Ghoni kian sukses. Dia membuka tiga cabang di area Malang yang dikelola anak-anaknya. Tak hanya itu, bisnis dengan sistem waralaba pun dipakai.

Hasilnya, sejak tahun 2008, Bakso President bisa dijumpai di Palembang. Untuk menjaga kesamaan rasa dengan yang asli, Bakso President di Malang mengirimkan bumbu sebagai bahan baku bakso kepada pengelola waralaba di Palembang, lengkap dengan resep.

”Saya berikan resepnya hanya kepada orang yang membeli waralaba. Namun, mungkin rasanya tidak akan terlalu sama karena menurut saya iklim di tempat kita berada juga memengaruhi rasa bakso. Makan bakso di tempat dingin kan biasanya lebih nikmat dibandingkan di tempat panas,” kata Ghoni.

Betul juga. Makan bakso di Malang, kota dengan hawa udara yang sejuk, memang terasa nikmat. Bahkan, Presiden Barack Obama pun memuji kelezatan bakso ketika Jakarta sedang diguyur hujan bukan?


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: