Sabtu, 2 Agustus 2014

/ Travel

Gunung Kidul Gelar 150 Pesta Adat

Rabu, 24 November 2010 | 19:30 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com - Setiap desa di wilayah Kabupaten Gunung Kidul masih mengukuhi pelestarian adat tradisi. Dalam satu tahun, minimal terdapat 150 titik pelaksanaan pesta adat. Pelestarian budaya diyakini bisa memperkokoh persatuan serta menanamkan jiwa gotong royong di tengah kehidupan bermasyarakat.

Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunung Kidul, Supriyanto, pelestarian pesta adat tersebut merupakan wujud penghormatan terhadap tradisi peninggalan leluhur. Tiap desa di Gunung Kidul memiliki perhitungan waktu yang berbeda-beda untuk pelaksanaan pesta adat sehingga tidak serempak.

Beragam pesta adat yang masih dikukuhi antara lain adalah bersih desa, labuhan laut, hingga ruwatan. Hingga kini, hanya sekitar 10 agenda budaya dari total lebih 150 agenda yang telah dikemas menjadi sajian pariwisata dalam wujud desa budaya. Kekayaan desa budaya Gunung Kidul yang telah dikemas menjadi obyek wisata antara lain di Desa Karangrejek, Kemadang, dan Nglanggeran.

Acara adat di Gunung Nglanggeran, Desa Nglanggeran, Patuk, misalnya, akan digelar selama tiga hari sejak Sabtu (27/11/2010) dengan acara seperti kirab budaya, kesenian tayup, dan campursari. Pada saat yang bersamaan, warga di Desa Pundungsari, Semin juga menggelar upacara sadranan. "Tingginya biaya dikesampingkan demi pelestarian budaya," ujar Supriyanto, Rabu (24/11/2010).

Sebelumnya, nelayan di Pantai Gesing juga menggelar upacara labuhan di laut selatan Gunung Kidul. Menurut Nelayan Pantai Gesing Supadiono, upacara labuhan tersebut digelar demi keselamatan nelayan ketika melaut. Apalagi, saat ini nelayan di Pantai Gesing sedang memasuki masa paceklik ikan.

Pada awal Desember ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunung Kidul berencana akan membuka pameran adat budaya di Pantai Kukup. Pameran selama tiga hari ini menampilkan kekayaan adat budaya dari 50 desa di Gunung Kidul dengan target 5.000 pengunjung. Pameran sengaja digelar di kawasan pantai untuk semakin menarik minat wisatawan.

"Semarak kegiatan budaya jelang akhir tahun semakin meriah dengan pagelaran budaya adat ruwatan pada malam tahun baru. Beragam upacara adat digelar, termasuk pagelaran wayang kulit semalam penuh. Agar adat tradisi tidak diabaikan di tengah kemajuan zaman," tambah Supriyanto.


Editor : I Made Asdhiana