Sabtu, 29 November 2014

/ Travel

Liburan Musim Dingin di Perancis

Kamis, 13 Januari 2011 | 08:53 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Bila kemarin saat tiba di tempat liburan kami di kota Villefranche-de-Rouergue, kami disambut oleh hujan dan malamnya diterpa salju, pagi ini kami bangun tidur dengan pemandangan serba putih sekeliling kami. Dari jendela kamar, pemandangan pagi itu bagaikan karpet dari kapas menutupi seluruh daerah pegunungan. Lahan perternakan tempat kami menginap tak terlihat lagi warna hijau rerumputan dan tanahnya, semua tertutup oleh salju!

Hidup di negara empat musim kehidupan boleh dibilang berwarna. Karena setiap musim berganti, berubah pula pola hidup hingga warna yang tersaji oleh alam. Perubahan bisa terjadi secara tiba-tiba, seperti saat itu. Ketika kami datang, daerah yang kami kunjungi masih terlihat berwarna-warni namun esok harinya bagaikan tertumpah cat menjadi putih merata.

Seperti yang saya selalu ceritakan, saya tinggal di daerah Perancis selatan, daerah lebih hangat di negara Perancis. Maka salju pun jarang sekali mampir ke kota kami. Misalnya di musim dingin, saat daerah utara suhunya minus dan badai salju, di kota kami bisa mencapai 19°C dengan matahari tersenyum hangat. Aneh tapi nyata!

Maka setiap kali melihat salju, setiap kali saya kegirangan. Bagi saya bertemu salju sesekali di musim dingin adalah hal yang menyenangkan, asalkan tidak setiap musim dingin, sudah pasti saya akan ngungsi dari daerah tersebut!

Saat kami keluar dari kamar kami yang berada di luar rumah, hampir saja saya tergilincir, karena tangganya penuh salju dan sebagian menjadi es, sangat licin. Pemilik chambres d'hotes sudah menunggu kami untuk sarapan bersama, terlihat kecemasan di wajah mereka.

Kalimat pertama keluar dari mulut mereka adalah, "Saya harap kalian membawa rantai khusus salju untuk ban mobil kalian...!"

Dengan sangat menyesal kami menjawab, "Sebelum pergi kami sudah memikirkan untuk membawanya entah mengapa, kami kelupaan".

"Oh la la....lalu bagaimana kalian bisa keluar hari ini, lihat saljunya begitu tebal dan jalanan sangat licin karena salju menjadi es!" jawab mereka sambil geleng-geleng kepala.

Saya yang tadinya santai jadi ikutan cemas. Tapi seperti biasa, suami saya kang Dadang alias David mencoba menenangkan saya dan mencoba berpikir positif. Dia merasa jika jika kami hati-hati tak akan bermasalah, apalagi menurutnya jika mobil penyingkir es datang untuk membuka jalan maka tak akan ada masalah.

"Jika memang jalanan terlalu bahaya untuk berjalan-jalan hari ini, ya sudah kembali saja ke penginapan dan bikin manusia salju atau perang bola salju," katanya sambil nyengir.

Benar seperti perkiraan suami saya, mobil penyingkir salju terlihat melewati jalanan utama. Yang berarti jalanan yang tadinya tertutup salju sudah dibebaskan, namun tak berarti juga aman. Karena yang jadi masalah utama biasanya salju yang membeku menjadi es, licin dan berbahaya. Hal inilah yang menyebabkan kerap terjadinya kecelakaan.

Dalam mobil sebelum berangkat, kami jadi geli sendiri melihat cuaca alam. Bukannya apa-apa sebelum pergi liburan, beberapa kenalan kami terheran-heran karena kami memilih liburan di daerah yang kaya akan pemandangan alam. Yang mana biasanya dinikmati di musim panas bukan di musim dingin!

Karena daerah yang kami pilih di musim itu cuacanya sering buruk, dan bila cuaca buruk maka pemandangan yang tersaji tak akan bisa kami nikmati. Tapi dasar sifat kami berdua sering ngeyel, maka saran teman-teman tak terlalu kami gubris, dan yang ada sekarang kami jadi terjebak salju, persis seperti dugaan mereka!

Sekarang sudah terlanjur, kami sudah berada di sini dan tak akan menyesali. Malah mungkin liburan kami berdua menjadi dua kali lipat lebih asyik! (dalam arti repotnya).

Figeac Kota Champollion

Seperti rencana semula, hari kedua kami akan mengunjungi Kota Figeac. Kota abad pertengahan yang kaya dengan peninggalan sejarah budayanya. Kota yang berada di daerah Lot ini memiliki museum terkenal bernama Mussée Champollion. Museum sejarah budaya khususnya mengenai  lahirnya tulisan.

Dari lima penjuru dunia, Jean-François Champollion tanpa mengenal batas mencoba menyingkap tulisan pertama yang lahir di dunia dengan latar belakang sejarah dan budayanya. Pria kelahiran Figeac tahun 1790 inilah yang pertama yang dapat mengartikan simbol atau tulisan mesir kuno. Rasa ingin tahunya yang sangat luas membuat dirinya mencari dan menjelajahi banyak negara untuk mengungkap sejarah dari tulisan kuno. Beberapa benda dan tulisan kuno yang ditemukannya dipamerkan di museum ini. Karena dirinyalah maka Perancis bisa mengenal alphabet dan sebagai penghormatan kepadanya maka dibangunlah museum yang menyandang namanya.

Museum ini cukup besar dan sangat indah. Dua jam adalah waktu yang tepat untuk bisa menyibak isi keseluruhan dari bangunan yang berdekorasi tulisan mesir kuno. Sedikit saran kecil, belilah gantungan kunci dengan simbol tulisan kuno di museum ini, sebagai cendera mata. Selain kecil dan ringan namun cukup untuk memberikan kenangan kepada kita.

Apa saja yang bisa dikunjungi di Kota Figeac ini? Selain museum Champollion, bangunan abad pertengahan yang masih berdiri kokoh dan indah di kota ini patut menjadi sasaran turis. Bila saja saat itu udara tidak terlalu beku, mungkin jalan kaki terasa lebih menyenangkan. Sayang sekali salju kecil masih saja turun... dan jari kaki saya rasanya beku. Padahal salju yang turun di kota ini tak terlalu banyak tapi  udaranya dinginnya bukan main.... kuping saya sampai terasa bebal dan ngilu.

Sebenarnya rencana kami adalah menghabiskan malam hari di kota ini dengan santap malam romantis. Sekali lagi, kami tak terlalu beruntung. Hari itu tanggal 24 Desember dan malam hari semua restoran tutup.

Kota Figeac kami kelilingi dengan buku guide kami yang berisikan informasi beberapa restoran yang patut dikunjungi. Namun hingga restoran tanpa rekomendasi dari buku guide pun menyatakan malamnya mereka tutup. Kesimpulannya tak ada satu pun rumah makan yang buka malam harinya. Di Perancis, memang malam natal merupakan acara makan malam natal keluarga. Maka mereka pun memilih bersama keluarga menghabiskan santap malam natal.

Letih juga kaki berjalan selama berjam-jam di udara dingin. Akhirnya sebelum meninggalkan kota yang juga terkenal sebagai kota transportasi udara karena di sinilah pertama kalinya pesawat baling-baling dari kayu dibuat, kami mampir ke satu cafe untuk menghirup minuman hangat dan mencoba beberapa kue manis yang kami beli di toko kue.

Cafe yang berada dalam bangunan kuno dengan dinding bebatuan, bisa menghibur hati kami berdua yang sedikit kecewa karena tak bisa menghabiskan malam romantis sesuai rencana. Tapi jalan kaki kami boleh dibilang sangat memuaskan, bangunan kota tua abad pertengahan memang selalu memberikan kekayaan pandangan mata dan kenangan.

Malam itu kami kembali ke kota Villefranche-de-Rouergue. Berharap paling tidak di kota ini ada satu restoran yang buka. Nihil sama saja dengan kota lainnya. Baru kali ini kami liburan kelaparan dan kedinginan. Mau kembali ke tempat nginap tidak mungkin, karena malam itu pemilik tak menyajikan makan malam karena acara keluarga. "Horeeee...!!!" teriak kang Dadang tiba-tiba, bikin saya jantungan. "Lihat tuh ada lampu nyala tulisan cina, kayanya restoran!" katanya.

Benar saja, rupanya hanya satu-satunya restoran yang buka dimalam itu. Selamat deh kita..! bukannya apa-apa, selain rumah makan, semua supermarket tak ada yang buka, dan kami tak lagi memiliki persediaan apa pun, sepotong roti pun tak ada! Kalau sedang lapar dan situasi seperti kami saat itu, tumis sayur pun rasanya jadi sepuluh kali lebih lezat dari biasanya. Makanan penutup pisang goreng ala cina pun, terasa gurih dan manis dikunyah. manusia, dalam keadaan serba terbatas memang rasa bersyukur jadi berlipat ganda....

Najac

Di hari ketiga liburan kami yang juga jatuh di hari natal, pagi itu ruangan makan sudah penuh dengan pengunjung lain saat kami memasukinya. Rupanya satu keluarga besar menyewa tiga kamar di penginapan ini. Kebiasaan kami berdua adalah bila ada orang lain yang terlalu dekat dengan meja kami, lebih senang memilih bahasa indonesia dalam percakapan kami. Terkadang beberapa teman atau keluarga sering mengeluh karena mereka tak mengerti atau curiga sedang kami gosipin...

Rupanya percakapan kami menarik perhatian mereka, dan suasana yang tadinya sedikit beku karena kami tak saling kenal dan ada rasa enggan menjadi cair, dimulai dari pertanyaan salah satu tamu yaitu, "Permisi.. bahasa apa yang kalian gunakan? Indah sekali terdengarnya". Maka sarapan pagi dengan berbagai selai buah buatan pemilik penginapan dengan roti bakar menjadi semakin marak dengan obrolan kami.

Setelah sarapan dan mengucapkan natal kepada pemilik dan tamu penginapan, kami menyiapkan tas untuk tujuan wisata di hari itu yaitu mendatangi Kota Najac. Salju masih saja turun dan menuju ke Kota Najac jalan yang ditempuh sangat curam karena harus melewati lembah berkelok lalu menanjak.

Suami saya yang tadinya percaya diri melihat curamnya jalan memilih meminggir dan berhenti. Karena selama perjalanan kami terasa sekali licinnya jalanan, dan menyetir dijalan yang licin oleh salju tak boleh mengerem karena bisa membuat mobil tergelincir dan berputar, berbahaya. Penduduk yang terbiasa dengan iklim salju ban mobil mereka biasa khusus atau dengan cara ban dipakaikan rantai khusus. Kami tak ada keduanya.

Selang lima menit, sebuah mobil dari arah berlawanan datang. Suami saya memberikan aba-aba meminta agar mobil tersebut berhenti. Setelah mobil tadi berhenti di tempat aman, suami saya menanyakan mengenai jalanan menuju ke arah Najac, apakah memungkinkan dengan mobil tanpa ban khusus.

Rupanya pengemudi itu juga tak mengunakan ban khusus, malah mobilnya sangat kecil dan lebih tua dari mobil kami. Dengan terkekeh-kekeh si pengendara yang ternyata penduduk kota Najac menyatakan, "Tenang saja, jalanannya tak terlalu bahaya kok. Mobil kalian kokoh begitu pasti tak ada masalah".

Maka perjalanan kami lanjutkan, tapi rupanya tak ada masalah bagi si pengendara tadi merupakan masalah bagi kami. Saya sampai menahan napas selama mobil berjalan, saya lihat suami saya seperti mencengkeram setirnya. Maklum saja, kami benar-benar tak biasa dengan kondisi jalan seperti ini.

Setelah jalan mulai menanjak dan jalanan mulai terlihat sedikit bersih dari salju, baru saya bisa menyandarkan punggung di kursi mobil. Dan mata kami segera beradu dengan panorama magnifique...! Sebuah benteng besar tinggi menjulang di atas bukit. Benteng yang sangat terkenal di kota abad pertengahan itu.

Saat memasuki kota, seorang petugas sedang menyirami jalanan dengan garam yang berguna untuk mencairkan salju yang membeku. Mobil kami pun tak bisa lagi meneruskan perjalanan karena jalanan semakin licin, bahkan saat mobil kami mencoba untuk parkir sempat tergelincir, untung tak sampai menabrak apa pun.

Inilah yang dinamakan liburan lucu. Saat saya keluar dari mobil, gubrak! Saya langsung jatuh! Sakitnya itu bukan main pantat saya. Rupanya jalanan benar-benar licin. Sepatu khusus yang pakai pun tak terlalu membantu, apalagi saya ini punya masalah dalam kesimbangan, tak licin saja seringkali tergelincir apalagi licin begini...!

Menuju benteng Najac harus berjalan sekitar 1 km. Jalanannya turun naik. Saya berjalan dengan berpegangan pundak suami. Berkali-kali saya menjerit karena terpeleset. Antara kesal, takut dan juga lucu. Saat suami saya jatuh terpeleset, ya istrinya ikut terbawa yang ada kesal saya jadi berlipat. Tapi kalau mengingat hal itu sekarang saya jadi geli sendiri, pasti saat itu kami menjadi tontonan penduduk setempat, karena berjalan tertatih-tatih dan terjatuh.

Satu kilometer yang biasanya kami tempuh hanya sekitar 10 menit menjadi perjalanan seperti tak berujung. Udara dingin tak terasa lagi, saya berkeringat stres! Jalan di salju tak terlalu sulit malah empuk bagaikan es serut tapi berjalan di salju yang membeku bagaikan berjalan di atas es, licin!

Seorang kakek dari arah berlawanan meminta tolong kami karena dirinya tak bisa lagi maju dengan sepatunya. Dia meminta untuk dibelikan roti di toko roti. Kang Dadang yang sebenarnya sudah kesusahan untuk berjalan tak tega menolak permintaan si kakek. Maka saya menunggu suami bersama si kakek di tengah jalan  tak bergerak takut kepeleset. Saran saya, bila ingin berlibur ke daerah ini, hindari datang di musim dingin seperti yang kami lakukan. Nelangsa di jalan. He-he...

Si kakek girang sekali rotinya berhasil didapat dan kami pun melanjutkan perjalanan.

Benteng Najac tutup di bulan desember! Tertulis papan pengumuman. Entah kesal atau kecewa yang membuat kami sampai berlinang air mata mentertawakan diri sendiri. Terbayang ketegangan selama di mobil dan berjalan kaki dengan terjatuh beberapa kali, demi si benteng! Nasib, rupanya kami memang harus kembali. Namun benteng Najac yang dibangun ditahun 1253 oleh Aphonso de Poitiers ini, bisa kita lihat dari luarnya. Tak memasuki tak mengapa guman kami saat itu. Karena benteng yang pada awalnya merupakan kastil kerajaan dan berubah menjadi benteng di masa perang ini, merupakan maha karya.

Dari atas bukit panorama keindahan alam yang saat itu bagaikan kapas putih bertaburan membuat kami menghela napas. Pantas saja bila kota Najac terpilih sebagai salah satu kota terindah di Perancis....Keindahan alam memang merupakan karunia tak ternilai yang kerap membuat haru hati manusia.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana