Rabu, 20 Agustus 2014

/ Travel

Hari Ini Puncak Seren Taun di Bogor

Minggu, 23 Januari 2011 | 09:34 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Acara puncak tradisi Seren Taun Guru Bumi di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, dilangsungkan hari ini, Minggu (23/1/2011). Tradisi Sunda yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen hasil bumi ini diselenggarakan dalam berbagai acara yang dimulai pada pukul 08.00.

Pagi hari diawali dengan helaran dongdang atau arak-arakan hasil bumi dihiasi aneka bentuk yang diikuti masyarakat desa setempat. Pawai ini diikuti oleh barisan pembawa rengkong (padi) hasil panen, para sesepuh adat atau kokolot, serta rombongan kesenian. Lalu dilanjutkan dengan acara berbau sakral yaitu memasukkan padi ke lumbung Ratna Inten (majiekeun pare ayah) di kawasan Kampung Sindang Barang.

Hasil bumi yang dibawa tersebut akan diperebutkan oleh warga sambil diiringi pertunjukkan kesenian berupa rampak silat, parebut se'eng, tutunggulan, serta tari-tarian adat.

Sedekah Kue

Enam hari lamanya Seren Taun berjalan hingga sampai pada puncaknya hari ini ditandai dengan memasukkan padi ke dalam lumbung. Tradisi suku Sunda ini telah berlangsung sejak Selasa (18/1/2011) lalu. Tidak hanya diisi dengan kegiatan seni dan budaya, tapi juga dilaksanakan bakti sosial dan siraman rohani.

Kemarin, Sabtu (22/1/2011), sudah digelar sedekah kue yang diikuti masyaratat setempat. Sejak pagi mereka memenuhi Kampung Sindang Barang, mengikuti selamatan atau doa oleh para kokolot atau sesepuh adat lalu berebut kue yang disiapkan di tengah lapangan. Warga dari berbagai usia rela berdesakan berebut kue berharap berkah.

Setelah berebut kue, warga mengikuti arak-arakan atau helaran dari kampung budaya menuju lapangan SDN Pasir Eurih 5. Arak-arakan diikuti barisan para kokolot dengan kelompok kesenian. Mereka berbaris mengusung nasi tumpeng, aneka kue melintasi kawasan persawahan di desa setempat.

Menutup arak-arakan ini dilakukan pemotongan kerbau di lapangan. "Kerbau kita bagi-bagikan kepada fakir miskin karena membelinya dengan uang dari masyarakat juga," kata Sang Rama, Maki Sumawijaya.

Foto lengkap di: KOMPAS IMAGES


Editor : Tri Wahono