Kamis, 2 Oktober 2014

/ Travel

Barang Loak Banyak Digemari di Perancis

Jumat, 4 Maret 2011 | 08:03 WIB

KOMPAS.com - Di Perancis, penggemar barang loak ternyata lumayan banyak. Bahkan boleh dibilang semakin meningkat setiap tahunnya. Bisa jadi karena faktor mode atau lebih ke arah kepuasaan pribadi. Yaitu bisa mendapatkan barang merk terkenal dengan harga murah tapi masih dalam kondisi baik.

Gelar barang loak ini bahkan menjadi sebuah tradisi bagi suatu kota. Seminggu sekali biasanya di setiap kota diadakan pasar loak. Misalnya di kota saya Montpellier, setiap hari minggu, digelar pasar loak besar sekali! Lapangan parkir stadiun bola sekelilingnya dipakai guna keperluan pasar barang bekas ini.

Penjualnya dari berbagai kalangan dari mulai penjual barang antik hingga pribadi. Pribadi dalam arti, kalangan umum yang hendak menjual beberapa barang milik mereka dengan alasan, tak ada lagi tempat di tempat tinggal mereka.

Saya sendiri pernah tiga kali ikutan gelar barang loak di pasar tersebut! Barang yang saya jual bersama suami macam-macam, pokoknya segala sesuatu yang sudah kami tak gunakan lagi dan bikin penuh isi rumah! Ehh lumayan hasilnya, padahal tujuannya bukan cari untung, asli ngosongin isi gudang. Biarpun kalau soal untung tak bisa ditakar apakah kami mendapatkan laba atau tidak, yang penting bagi kami saat itu adalah, menjual cepat dengan transaksi memuaskan kepada pembeli.

Gelar tikar yang dimulai dari pukul lima pagi, juga merupakan pengalaman yang unik, karena banyak para pengoleksi atau penjual barang antik, mereka datang dini hari untuk melihat-lihat siapa tahu ketemu barang bekas yang bernilai.

Sering kalangan umum tak engah, kalau barang bekas yang dijualnya berharga. Seperti kami ini, sebuah lukisan cetak milik dari nenek David alias kang Dadang, kami jual dengan harga lima euros, itupun karena ibu mertua yang memberi kepada kami untuk dibuang. Eh ternyata seminggu kemudian kami kembali ke pasar loak tersebut, untuk hunting barang bekas, kami dibuat kecut! Karena gambar lima euros yang kami jual menjadi lima puluh euros! Walahhh ternyata, gambar yang mau dibuang itu, bernilai toh, nasib!

Nah bicara soal barang bekas tapi bernilai ini, dekat dengan kota saya tinggal Montpellier ada sebuah kota yang terkenal sebagai tempatnya toko-toko barang antik. Nama kotanya yaitu Pezenas. Kota mungil namun ramai turis.

Begitu sampai di kota ini, sepanjang jalan kita disambut oleh toko-toko barang antik. Pemiliknya pun bukan hanya orang pribumi alias Prancis, tapi ada juga yang berasal dari Inggris, Belgia dan juga Asia. Barang yang di tawarkan kadang memang sering membuat orang geleng-geleng kepala, bagaimana tidak? Banyak barang yang sebenarnya milik nenek-kakek kita yang sudah kita buang karena dianggap sudah tua dan tak berfungsi, di sini malah ditawarkan dengan harga lumayan mahal.

Tapi yang menarik bukan karena banyaknya butik barang antik di kota ini, melainkan gelar pasar loak yang berlangsung satu hari penuh dan hanya dua kali dalam setahun. Minggu pertama di bulan Mei dan minggu kedua di bulan oktober. Pasar loak yang digelar sepanjang jalanan di kota ini, didatangi oleh pengunjung dari berbagai negara.

Begitu pula dengan penjualnya. Ramainya bukan main! Kebanyakan mereka menjual dengan cara gelar karpet di jalanan. Jadi bisa dibayangkan, sepanjang jalan kota isinya hanya para penjual dengan barang loak biasa hingga berharga! Dan kota pun tentunya tertutup bagi kendaraan. Sebisa mungkin, dua kali setahun itu kami datang mengunjunginya.

Kami yang terbiasa datang datang sudah hafal dengan trik untuk mendapatkan barang incaran kami. Tapi bagi pengunjung baru, biasanya mereka sering kalap dan takut menawar. Namun yang jadi masalah utama yaitu, kerap termakan oleh bualan si penjual. Barang tak terlalu berharga dibilang langka, antik dan bernilai tinggi, jadilah si pembeli cepat-cepat mengeluarkan uang takut kehilangan si barang. Ehhh tak tahunya, barang model itu, bisa ditemukan di tempat lain dengan harga lebih murah, karena memang bukan jenis barang yang hampir punah.

Kursi jebol dan besi karatan bernilai

Bicara soal barang, jenis yang di tawarkan memang bermacam-macam. Dari mulai pecah belah seperti perlengkapan makan hingga taplak meja antik. Dekorasi rumah, misalnya tirai jendela jaman dulu, lampu sampai karpet yang bahkan sudah sangat usang dan kadang bolong masih saja ditawarkan, dan anehnya ada saja yang bersedia membayar dengan harga mahal. Boneka atau mainan zaman dulu juga sering menjadi incaran para pengoleksi khusus.

Suatu kali anak sulung kami, Adam sempat tertarik dengan satu mobil miniatur Citroen tahun 50an. Tapi saya sampai tercengang ketika mendengar angka yang disebutkan si penjual. Untuk mobil miniatur itu dipasang harga 65 euros! Tentu saja, langsung saya suruh lepaskan mobil tersebut dari tangan anak saya. Lain lagi ceritanya ketika saya mendatangi penjual yang menggelar berbagai macam besi. Ketika saya dekati ternyata, besi-besi berkarat yang di jualnya itu berupa perkakas tempo dulu.

Sambil penasaran, saya tanyakan kepada bapak penjual, "Excusez-moi monsieur, combien vous vendez ce couteau?" (permisi pak, berapa anda menjual pisau ini?)

"Ah ce couteau…il est à 45 euros, madame" (ah pisau ini, dia berharga 45 euros, nyonya).

Wahhh mahal benar, kata saya dalam hati, padahal pisau yang saya pegang itu benar-benar sudah berkarat dan sudah tidak rata lagi.

Melihat saya tak menjawab apalagi memulai harga penawaran, mulailah bapak penjual itu menceritakan asal usul pisau yang masih saya pegang. Menarik sekali memang, cerita yang dia dongengkan, tapi suami saya bilang kalau dia tidak percaya dengan karangan si penjual, tentunya kami menggunakan bahasa indonesia agar tak dimengerti bapak penjual. Benar saja, ketika saya meneruskan pemantauan barang antik lainnya, ternyata model pisau yang sama, bisa ditemukan di tempat-tempat lainnya.

Tapi jangan salah, ada memang barang yang berkarat habis, tapi memiliki nilai tinggi karena sudah sangat langka dan ada sejarah di baliknya. Bahkan kursi yang sudah jebol pun sering jadi rebutan orang. Memang sering kali meubel antik menjadi hal yang paling menarik di pasar ini, apalagi bila perabotan itu hasil karya perancang di masa itu yang sudah sulit ditemukan.

Tahun lalu saya mengajak orang tua saya yang sedang liburan di kota saya ke pasar antik terkenal ini. Kebetulan sekali mereka berkunjung di bulan Mei. Ibu saya sampai tercengang melihat panjangnya pasar yang di gelar, dan dia sangat menikmati sekali menjelajahi barang pecah belah khususnya yang terbuat dari kristal.

Soal harga menurutnya, sangat masuk akal bila dilihat kualitasnya, saya yang awam soal kristal percaya saja dengan dirinya yang memang mengincar barang berkilau ini selama bertahun-tahun. Malah ketika saya pulang untuk berlebaran, mangkok kristal dari pasar loak Pezenas itu terlihat anggun sekali di pajang dalam ruang tamunya.

Buku-buku bekas juga menjadi sasaran para pengunjung, sering saya menemukan komik bacaan saya ketika masih di sekolah dasar. Biasanya penjual buku bekas menjual juga kartu pos lama. Saya memang hobi sekali mengumpulkan kartu pos jaman dulu, selain gambarnya unik tanggal dicetaknya sangat penting bagi saya.

Tapi kartu pos yang saya beli selalu yang masih kosong tentunya. Nah di sini lain lagi, justru banyak yang sengaja membeli yang sudah di isi. Pada mulanya saya heran, tapi lama kelamaan saya baru mengerti, ternyata tanggal penulisan yang tertera dan juga isi suratnya yang masih dengan gaya tempo dulu mempunyai nilai tertentu, bagi para pengkoleksi.

Sejauh ini memang setiap kali saya mengujungi pasar antik itu, hanya barang kecil yang kami beli, tidak pernah barang besar seperti perabotan rumah. Karena bila membeli di penjual yang menggelar di jalanan, harus di ambil saat itu juga. Biasanya mereka yang benar-benar berniat sudah menyiapkan mobil khusus untuk mengangkutnya.

Empat tahun belakangan ini, seorang penjual yang ikut meramaikan pasar loak Pezenas menjual khusus barang antik dari Indonesia. Terus terang, saya sempat di buat tercengang karena kelenengan sapi yang sebenarnya tidak ada nilainya di daerah Kalimantan, dipajang bagaikan barang unik yang bermakna tinggi. Saat itu dia membawa sekitar sepuluh kelenengan sapi. Dan saya lihat beberapa mulai lenyap dibawa oleh pembeli.

Kang Dadang mulai ribut, karena baginya kelenengan itu memang unik. Karena si penjual tahu saya dari Indonesia, maka harga yang dilepasnya sangat masuk akal. Sekarang kelenengan yang harusnya melingkar di leher sapi, menjadi hiasan di pintu masuk kami.  Padahal terus terang mungkin sudah beribu-ribu kali saya bertemu pandang dengan barang itu setiap kali pulang kampung kerumah nenek ketika masih kecil. Ahhhh, malah sekarang saya harus membelinya dari orang asing.

Dan mata saya sempat bersinar saat melihat sebuah becak dipajang di depan toko antik. Saya panggil anak-anak kami, tapi begitu mendekat ternyata becak, transportasi saya waktu kecil itu sudah laris dijual di tangan orang Perancis, seharga 350 euros. Becak bekas itu berkali-kali menjadi daya tarik para pendatang di pasar loak tersebut.

Saya perhatikan dari tahun ke tahun, pengunjung yang datang ke pasar loak ini semakin ramai oleh peminat dari kalangan muda, bahkan kebanyakan dengan anak-anak mereka yang masih balita. Di suruhnya anak mereka, melihat berbagai mainan tempo dulu, ada bahkan yang dibelikan sepeda kayu zaman dahulu, tentunya masih layak dipakai.

Mereka bahkan begitu senang dapat membeli seperai, taplak hingga barang yang tak terpikirkan oleh saya untuk digunakan kembali karena sudah usang. Bagi mereka, barang loak lebih memiliki cerita dibaliknya. Kisah dari suatu barang menurutnya lebih berharga dan mereka sangat bangga memiliki barang bekas yang memberikan makna bagi si pemiliknya. (DINI KUSMANA MASSABUAU)


Editor : I Made Asdhiana