Selasa, 23 Desember 2014

/ Travel

Kopi Es Tak Kie, Kedai Kopi Tempo Dulu

Senin, 7 Maret 2011 | 06:54 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Kedai Kopi Tak Kie inilah yang membuat dahi saya berkerut-kerut karena heran dan takjub. Jujur saja, baru kali saya menginjakkan kaki ke Jalan Pintu Besar Selatan, Glodok. Dan saya tidak pernah menyangka kalau di sebuah gang kecil seperti ini terdapat begitu banyak makanan dan sangat terkesan tempo doeloe alias jadul (jaman dulu). Apalagi ketika kami sampai di kedai kopi es Tak Kie, wuih.... jadul abis. Sebuah tempat yang cukup kuno tapi sangat ramai, padahal disitu hanya ada kopi; tampak beberapa meja bulat memenuhi ruangan kedai kopi es Tak Kie ini.

Ada sekelompok keluarga yang sedang menikmati kopi susu dan menikmati makanan yang mereka pesa dari luar, dan ada juga sekelompok bapak-bapak keturunan Tionghoa  sedang bercengkerama sambil menikmati kopi es mereka. Ada pula anak kecil yang sedang menikmati bubur ayam. Dan di salah satu dindingnya terpampang sebuah frame yang menceritakan sebuah syuting film yang di lakukan di kopi es Tak Kie ini, film berjudul Dewi-Dewi. Salut euy....

Wah saya menjadi semakin penasaran dengan rasa kopinya, sehebat apakah rasa kopi Tak Kie ini sehingga banyak orang merekomendasikan tempat ini untuk saya liput. Menurut mereka kopi es Tak Kie ini unik dan legendaris. Bahkan sampai dijadikan sebuah tempat syuting film.

Hmm... di benak saya ini seperti  Starbucks Jadul he-he... Iya karena ternyata banyak orang-orang yang duduk di sana hanya untuk berkumpul bersama teman-teman sambil menikmati kopi Tak Kie yang sangat khas itu. Saya dan teman saya pesan Kopi Es dan Kopi Susu yang sudah menjadi andalan mereka. Pelayan-nya segera meracik kopi di sebuah gelas bening, sangat sederhana sekali pembuatannya, hanya di campur dengan air panas dan gula pasir, diaduk-aduk dan diberi bongkahan es batu.

Yup, ini memang kopi yang sangat sederhana.... rasanya sangat jujur, rasa kopi yang sebenarnya. Bukan seperti kopi-kopi fancy zaman sekarang yang dicampur dengan sirup vanilla, mocha dan lain sebagainya.  Saya suka sekali dengan Kopi Es-nya, segar, manis, dan rasa kopinya benar-benar khas. Sangat wangi. I like it. Sekarang kita coba Kopi Susu-nya. Rasanya lebih legit dari yang Kopi Es, lebih manis karena ada campuran susunya. Teman saya sangat menyukai Kopi Susunya, tapi kalau saya lebih suka Kopi Es-nya.

O iya saya juga memesan Bubur Ayam ala Tak Kie, karena perut saya masih keroncongan. Bisa saja sih kita pesan di luar Tak Kie, tapi penjual makanan yang diluar kebanyakan non-halal. Jadi saya putuskan untuk pesan bubur ayam di Tak Kie ini saja. Tentu saja buburnya seperti bubur ala Chinese lengkap dengan cakwe dan daun bawang.  Rasanya lumayan enak juga koq buburnya dan harganya juga lumayan murah.

Dan ada satu hal lagi yang membuat saya senang sekali menemukan Kopi Tak Kie ini, yaitu... mereka menjual kopi bubuknya. Saya langsung pesan kopi bubuknya untuk saya minum di rumah. Tapi ketika Sena; teman saya berkunjung ke rumah dan saya suguhkan kopi ini, ... dia kaget dengan aroma kopinya yang sangat kuat dan wangi. Dia langsung bertanya mereknya he-he... Dia sangat tertarik dengan kopi satu ini, dan akhirnya kopi bubuk tersebut saya berikan ke dia untuk dia bawa pulang ke negaranya, Korea.

Saya senang sekali dengan Kopi Tak Kie ini, karena hasilnya diluar imajinasi saya. Saya setuju lho kalau Tak Kie menjadi salah satu tempat wisata kuliner tempo dulu kota Jakarta yang harus tetap di lestarikan. Sayangnya disitu hanya buka dari pagi sampai jam 2 siang saja, jadi jangan sampai kesiangan ya kalau Anda ingin mencobanya. (Ita)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: