Sabtu, 26 Juli 2014

/ Regional

Korban Lahar Dingin

Magelang Butuh 38 Unit Huntara Lagi

Senin, 14 Maret 2011 | 00:50 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com — Jumlah kebutuhan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir lahar dingin di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terus bertambah. Jika sebelumnya mengusulkan 309 unit, kali ini jumlahnya bertambah 38 unit sehingga menjadi 347 unit.

Asisten III Bidang Administrasi Kabupaten Magelang, Endra Wacana, Minggu (13/3/2011), mengatakan, tambahan kebutuhan 38 unit huntara ini akan diusulkan ke pemerintah pusat.

"Kendati demikian, ini dimungkinkan bukan usulan yang terakhir. Dengan intensitas hujan yg masih tinggi, kebutuhan akan huntara dimungkinkan masih akan bertambah," ujarnya.

Tambahan huntara tersebut dibutuhkan karena 38 rumah warga yang rawan hanyut atau rusak berat karena lokasinya kini tepat di bibir sungai.

Hal ini terjadi karena dalam tiga pekan terakhir, material lahar dingin telah menggerus tepi sungai dan membuat rumah yang sebelumnya berada dalam radius 5-10 meter, kini tidak lagi berjarak dengan sungai.

Sebanyak 38 rumah yang terancam banjir lahar dingin ini tersebar di Kecamatan Salam, Dukun, dan Ngluwar.

Dari 309 unit huntara yang diusulkan sebelumnya, sebanyak 103 unit huntara kini masih dalam proses pengerjaan di Lapangan Jumoyo dan Lapangan Nglarangan, Kecamatan Salam, dengan alokasi dana pembangunan Rp 1,7 miliar.

Untuk membangun 206 unit huntara lainnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru saja memberikan dana pembangunan Rp 3,2 miliar kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. "Saat ini, kami pun masih mencari lokasi yang cocok untuk membangun 206 unit huntara tersebut," ujarnya.

Tanah yang dipakai sebagai lokasi huntara digunakan Pemerintah Kabupaten Magelang dengan sistem sewa kepada aparat pemerintah desa setempat.

Dari hasil pendataan terakhir yang dilakukan Pemkab Magelang, banjir lahar dingin yang berlangsung sejak akhir Desember hingga saat ini telah menyebabkan 607 rumah rusak.

Dari jumlah itu, sebanyak 427 rumah di antaranya berada dalam kondisi rusak berat, namun hanya 344 keluarga yang bersedia pindah dan menghuni huntara, sedangkan 83 keluarga lainnya memilih memperbaiki rumah atau menumpang di rumah kerabat.  

 

Huntara untuk korban erupsi

Pemkab Magelang pada Minggu meresmikan sembilan unit huntara siap huni bagi korban erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Srumbung yang berlokasi di Lapangan Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun.

Bangunan yang berdinding bambu ini juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti peralatan dapur dan kasur. Setiap orang yang menghuni huntara ini juga mendapatkan uang jaminan hidup Rp 5.000 per orang per hari.

Sekretaris Kabupaten Magelang Utoyo mengatakan, huntara ini setidaknya dapat menjadi tempat tinggal para korban serupsi hingga satu tahun ke depan. "Sembari mereka tinggal di sini, kami dari pihak Pemkab Magelang masih akan terus memikirkan langkah selanjutnya termasuk kemungkinan untuk merelokasi warga," ujarnya.

Sutarsih, seorang korban erupsi dari Desa Ngargosuko, Kecamatan Srumbung, mengaku lega dapat menghuni huntara.

Sebelumnya, sekitar tiga bulan, terhitung sejak pulang dari pengungsian pada pertengahan Desember hingga pertengahan Maret ini, dia dan keluarga terpaksa tinggal di rumah yang kondisi separuh bangunan dan atapnya rusak karena tertimpa pohon dan terkena abu.

Total rumah rusak akibat terdampak erupsi di Kabupaten Magelang mencapai 368 rumah, namun hanya sembilan keluarga yang bersedia menghuni huntara.

 


Editor : yuli