Senin, 22 Desember 2014

/ Travel

Keunikan Desa Wisata Disukai Wisatawan

Jumat, 15 April 2011 | 10:06 WIB

Berita Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Wisatawan yang datang ke desa wisata menginginkan sebuah pengalaman untuk melihat keunikan dan kehidupan penduduk di desa tersebut. Misalnya, Desa Penglipuran atau Desa Tenganan di Bali. Namun, ada pula desa wisata yang berkaitan dengan PNPM Mandiri.

"Turis kalau di Desa Panglipuran melihat desa yang indah, lalu struktur bangunan yang khas, dan kehidupan yang unik. Atau di desa adat Trunyan itu sudah jadi objek wisata yang menarik. Tapi ada juga yang kita kembangkan desa wisata, konsepnya bukan seperti. Tapi desa wisata yang berkaitan dengan PNPM Mandiri," ujar Direktur Pemberdayaan Masyarakat Kemenbudpar, Bakri, Selasa (12/4/2011). Ia menuturkan ada banyak orang miskin yang tinggal di desa yang sebenarnya masuk dalam destinasi wisata.

"Pariwisata harus memihak pada orang miskin. Nah, supaya tidak miskin diberi pekerjaan jadi bisa menaikkan ekonomi. menaikan ekonomi. Selama ini, pariwisata sering dikaitkan dengan hal-hal glamor. Datang, makan-makan, lalu belanja. Padahal banyak desa yang masyarakatnya tidak seperti yang kita harapkan, mereka belum menikmati kue pariwisata," katanya. PNPM Mandiri yang dikaitkan dengan pariwisata mengupayakan masyarakat yang tinggal di desa-desa yang berada di destinasi wisata berperan aktif mengelola pariwisata setempat.

"Anggaran per desa Rp 55 juta. Kami bayar fasilitator yang mendampingi masyarakat untuk melakukan program itu. Juga petugas teknis dari dinas pariwisata lokal untuk dampingi fasilitator. Fasilitator ini penduduk setempat yang harus tahu dan paham tentang pariwisata," jelasnya. Pendekatan pertama tentu saja dimulai dari level bawah yaitu masyarakat itu sendiri.

Bakri menuturkan diperlukan beberapa kali rembuk desa untuk program pengembangan pariwisata dan melibatkan pemerintah daerah maupun industri pariwisata. "Saya tidak tentukan. Mereka yang tentukan sendiri semua," katanya. Sebagai contoh di Alalak Selatan, Kalimantan, Bakri menuturkan salah satu tujuan adalah bagaimana supaya pasar terapung yang merupakan ikon dari Alalak Selatan tetap lestari.

"Setelah rembuk, uang dipakai untuk perbaikan perahu. Lalu diadakan pelatihan suvenir. Kendala para perajin itu ada di modal, kita berikan modal," jelasnya.

Contoh lain adalah di danau yang ada Dieng. Awalnya danau tersebut kosong saja. "Para pemuda sana kemudian membuat perahu. Mereka operasikan perahu wisata. Mereka dapat pekerjaan dan danau juga jadi terawat karena danau memberikan mereka penghasilan," ceritanya.

Sementara itu di Desa Banjar, Buleleng, penduduk setempat menggunakan anggaran untuk mengembangkan wisata spa. "Di sana ada air panas, mereka bangun spa memanfaatkan air panas," katanya.

Selain itu, beberapa desa juga akan dikembangkan homestay. "Konsepnya turis menginap di situ, makan kuliner yang ada di situ. Lalu lihat atraksi di desa atau ikut kegiatan di desa. Uang dari wisatawan bisa dinikmati oleh masyarakat," ungkapnya.

Karena itu, tambahnya, perlu pula pembinaan untuk pengelolaan homestay. "Seperti di Yogyakarta dan Jateng lagi ramai homestay. Di Yogyakarta, wisatawan banyak banget yang masuk homestay," katanya.

Bakri juga menjelaskan bahwa pariwisata bisa berkembang apabila didukung sektor lain seperti pertanian, pekerjaan umum, kelautan, koperasi, kehutanan, dan sebagainya. "Pertanian misalnya untuk desa agro, penduduk perlu dukungan bibit yang baik," ungkapnya.

Karena itu, ia berharap semua instansi dapat ikut berperan aktif dalam mendukung program desa wisata PNPM Mandiri. Sementara untuk monitor keberhasilan, lanjut Bakri, adalah peringkat kemiskinan berkurang dan gairah masyarakat untuk mengelola pariwisata tercipta. Secara fisik juga bisa terlihat yaitu peningkatan di infrastruktur. Di tahun 2009 terdapat 104 desa dan di tahun 2010 terdapat 200 desa. Sementara di tahun 2011 ada 569 desa dari 33 provinsi yang akan dilibatkan.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana