Senin, 22 Desember 2014

/ Travel

Wisata Onrust 3

Pulau Kelor, Cipir dan Onrust

Senin, 18 April 2011 | 19:32 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Usai berkeliling Pulau Cipir, para peserta perjalanan peserta wisata sejarah "Historical Island Adventure (HIS)" yang diadakan oleh Komunitas Historia Indonesia (KHI) menuju Pulau Onrust. Sebelumnya, mereka menjelajahi Pulau Kelor dan Pulau Cipir. Pulau Kelor, Pulau Cipir, dan Pulau Onrust adalah pulau-pulau kesatuan yang disatukan oleh sejarah mulai dari masa awal kedatangan orang Belanda hingga masa kolonial Belanda. Para peserta HIS berpetualang menelusuri pulau-pulau tersebut.

Di Pulau Onrust terdapat museum dan pusat informasi mengenai Onrust dan pulau-pulau bersejarah di sekitarnya. Memang, Pulau Onrust dan pulau lainnya kini tengah dikelola sebagai wisata sejarah. Pulau Onrust sebenarnya tidak hanya berjaya di masa Belanda. Bahkan sebelum kedatangan Belanda di abad ke-17, pulau ini dijadikan tempat istirahat oleh raja-raja Banten. Tak terbayangkan bagaimana pulau tersebut kala itu. Pasir putih dan pohon rindang yang cocok untuk tempat pelesir.

Pulau kecil ini menjadi saksi sejarah awal nasib nusantara berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Di sinilah VOC menggalang kekuatan. Kejatuhan Jayakarta adalah permulaan perputaran nasib itu. Ironis, karena Pangeran Jayakarta sendiri yang memberi izin pada VOC untuk menggunakan Onrust sebagai galangan perbaikan kapal.

Dari tahun ke tahun, VOC mengembangkan pulau tersebut dengan membangun dermaga, benteng, gudang mesiu, bastion, dan kincir angin untuk penggergajian kayu. Tak terlupa pula rumah sakit, tempat dokter, sampai kantor. Ibarat kota kecil di sebuah pulau. VOC pun membangun dengan penuh pertimbangan. Kincir angin dibangun di sisi utara karena anginnya kuat. Sementara di sebelah selatan dibangun galangan kapal yang menghadap ke Pulau Cipir. Karena angin di sebelah selatan tidak terlalu kuat, sehingga aman untuk kapal.

Pulau Onrust berfungsi hanya sebagai galangan kapal. Arkeolog tidak menemukan indikasi bahwa pulau tersebut juga digunakan sebagai tempat pembuatan kapal. Gergaji kayu yang digerakan angin kincir dipakai untuk memperbaiki kapal. Setelah kejatuhan Jayakarta, Gubernur Jendral Hindia-Belanda Jan Pieterzoon Coen kemudian menjadikan Onrust sebagai zona pertahanan utara bagi kantor pusat VOC di Batavia. Onrust pernah porak poranda dilanda serangan Inggris dan juga tsunami akibat letusan Krakatau di tahun 1883.

Ternyata, Pulau Onrust terkenal di daratan Eropa. Beberapa catatan para penjelajah laut dari Eropa menceritakan kehidupan di Onrust bahkan melukisnya. Salah satunya adalah pelaut Inggris legendaris James Cook yang menemukan benua Australia. Ia singgah di Onrust untuk untuk memperbaiki kapal. Salah satu yang menarik adalah catatan Francois Valentijn yang datang di antara tahun 1724-1726. Dalam catatan tersebut, terpapar kisah pejabat Onrust kala itu yang korup dan hidup bagaikan raja.

Pendiri KHI Asep Kambali yang juga sering menjadi pemandu wisata sejarah, mengatakan di Pulau Onrust terdapat makam pemimpin Darul Islam (DI) Raden Sekar Maji Kartosuwiryo. Ia dihukum mati di Pulau Onrust dengan tuduhan pemberontakan dan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Di komplek pemakaman, terdapat dua kuburan. Hingga kini masih misteri, yang kuburan mana yang merupakan makam Kartosuwiryo.

"Atau malah kedua kuburan ini bukan makam Kartosuwiryo. Malah ada yang bilang, jenazahnya setelah dihukum mati lalu dibuang ke laut. Sampai kini tidak ada yang tahu," kata Uci, pemandu dari KHI. Di Onrust juga terdapat komplek pemakaman Belanda.

Salah satu makam yang terkenal adalah Maria van de Velde. Ia adalah istri dari perwira VOC. Masih di area yang sama, Anda juga akan menemukan makam anak dari Maria. Jika dilihat dari beberapa nisan yang tersisa di pemakaman tersebut, tampak orang-orang Belanda tersebut meninggal di usia muda. Kemungkinan besar karena mereka terkena berbagai penyakit-penyakit tropis.

Jangan lupa untuk menengok ke lubang nan gelap yang ada di kawasan Onrust. Saat pertama kali ditemukan, lubang tersebut disangka sebagai bungker. Ternyata, penelitian selanjutnya, di dalam tanah tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan air. Menurut Uci, konon beberapa sumber menyebutkan dari bawah lubang tersebut ada jalan semacam terowongan yang menembus hingga ke Fatahillah.

Pulau Kelor, Pulau Cipir, dan Pulau Onrust yang menyimpan sejarah kini tinggal sisa-sisa reruntuhan. TNI pernah menggunakan kawasan ini sebagai tempat latihan militer saat pembebasan Irian Barat. Tak hanya itu, pulau-pulau tak berpenghuni pun selama bertahun-tahun tak terurus.

Puncak peristiwa, di tahun 1968 masyarakat menjarah material bangunan secara besar-besaran. Pada akhirnya ulah manusia yang menghancurkan pulau-pulau yang mencerminkan perjalanan nasib sebuah bangsa. Kini, pulau-pulau tersebut di bawah pengelolaan UPT Taman Arkeologi Onrust Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Taman Arkeologi Onrust adalah kawasan pelestarian peninggalan sejarah budaya yang meliputi empat pulau di Teluk Jakarta. Pulau-pulau tersebut meliputi Onrust, Cipir, Bidadari, dan Kelor. Pulau-pulau ini dipandang sebagai satu kesatuan kawasan yang bersama-sama telah mengarungi sejarah yang membawa nasib bumi nusantara.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana