Rabu, 17 September 2014

/ Travel

Wisata Italia 2

Berburu Souvenir dan Makanan di Firenze

Kamis, 21 April 2011 | 09:40 WIB

KOMPAS.com - Hari terakhir di Firenze! Saatnya wisata bebas. Bagai kami wisata bebas yaitu, cari souvenir, cicipi berbagai makanan khas yang belum sempat mampir ke lidah dan belanja berbagai pasta serta kopi italia yang super enak!

Banyak yang bisa dibawa sebagai souvenir dari Firenze. Dari mulai kerajinan tangan, topeng khas italia hingga pernak pernik kecil seperti piring, bola salju, magnet sampai pinokio dalam berbagai bentuk. Dari mulai pulpen, gantungan kunci hingga untuk dekorasi rumah.

Untuk bisa mendapatkan souvenir hingga produk khas Italia kami memilih tujuan ke pasar, yaitu pasar San Lorenzo. Pasar San Lorenzo adalah sebuah pasar dalam bangunan tua tapi dalamnya sangat moderen. Namun menuju ke pasar ini, sebelumnya kita melewati penjual kaki lima istilah indonesianya. Di sinilah bagi mereka yang senang dengan produk dari kulit, bisa tawar menawar hingga mendapatkan harga miring.

Italia memang terkenal dengan produk dari kulit, menurut penduduk Italia, produk kulit buatan mereka kualitas nomor satu di dunia. Tapi yang menarik perhatian saya justru, para kaki lima ini menjajakan barang bermerk terkenal tapi palsu. Karena dari mulai tas, baju, sepatu hingga asesoris lainnya bisa kita dapatkan. Eh, ternyata turis Jepang pun yang katanya berdompet tebal, ikutan sibuk pilih barang aspal (asli tapi palsu)... he-he-he...

Tapi yang jadi tujuan kami saat itu adalah berburu produk khas Italia bukan aspal. Dan menurut kabar di pasar ini menjual berbagai produk khas Italia, seperti pasta, bermacam-macam saus dan bumbu, manis-manisan, sampai berbagai khas minuman seperti anggur. Memang benar, saat masuk yang menjadi kesan pertama di penglihatan adalah warna-warni yang keluar dari setiap kios. Pasta saja, rame benar, bagaikan hiasan jadinya. Saking berwarna-warni dan bentuknya aneh-aneh, saya sampai bingung memilih! Kalau sudah begitu saya tak terlalu peduli dengan rasanya. Yang penting, lucu!

Hanya memang harga yang ditawarkan, kok ya rada-rada mencekik leher? Tapi kalau mikir terus soal harga kapan jadinya berbelanja. Jadilah empat bungkus pasta saya pilih. Ada yang berbentuk spagheti sangat panjang hingga ukurannya hampir sebadan anak bungsu saya. Ada juga yang seperti kupu-kupu dengan warna bendera Italia tapi ada juga dengan rasa jamur truffe (jamur sangat terkenal karena mahal dan sulit dicari).

Selama di pasar, saya tengok sekeliling saya, lah kok isinya kebanyakan turis? Jadi mulai mikir, jangan-jangan memang pasar tradisional di Firenze ini, memang diperuntukan untuk wisatawan. Kami pun melanjutkan berkeliling pasar, siapa tahu menemukan kembali produk Italia yang menarik perhatian. Antrean panjang terlihat dari kejuhan, saat kami mendekat ternyata, sebuah kios menjual makanan khas daerah sini. Dan memang kebanyakan turis yang ngantre,  karena suara yang keluar dari antrean bahasanya benar-benar dari berbagai penjuru dunia!

Kalau, yang ngantre aja sampai sebegitu panjang, berarti makanannya juga sangat lezat. Cepat-cepat kami cari di buku petunjuk kami, mungkin tercantum nama kios itu. Tak ada memang, hanya dalam buku guide kami disarankan mencicipi makanan khas daerah di pasar San Lorenzo ini. Sayangnya kami tak bisa mencicipi karena suatu alasan. Hanya bagi pembaca yang dapat mencicipi makanan khas Firenze yang diolah dari babat jeroan babi ini, kabarnya sangat enak. Di masak dimakan dengan roti, seperti sebuah sandwich.

Seorang turis Perancis, yang nguping pembicaraan kami mendekat. Dia habis makan, makanan khas  daerah tadi. Hasil obrolan adalah kalau mau beli pasta sebaiknya jangan di pasar ini, karena di sini tempatnya turis dan harga yang ditawarkan pastinya harga turis alias lebih mahal. Saran dia, beli saja produk khas Italia di toko-toko kecil.

Di Firenze banyak sekali terdapat toko kecil yang menjual berbagai makanan dan minuman. Produknya sama dengan produk di pasar ini tapi harganya lebih murah. Saya tanya, Anda yakin? Soalnya memang sepanjang jalan di kota Firenze kami sering melewati toko-toko seperti itu, hanya tak pernah mengintip harga. Sampai mengangguk keras, si orang itu menyakinkan kami, "Ben oui..je suis sûr..crois moi, j'habite à Florence depuis cinq ans!" (iya bener.., saya yakin.., percaya deh sama saya, saya sudah tinggal di Florence selama lima tahun).

Akhirnya yang ada, kami jadi menanyakan macam-macam soal oleh-oleh pada kenalan baru kami itu. Ajakan kami untuk santap siang bareng ditolaknya secara halus, karena dirinya harus segera kembali bekerja. Dirinya di Firenze ini bekerja sebagai artis, yaitu yang memperbaiki lukisan antik.

Waktu menunjukkan pukul 11 pagi, masih ada sekitar dua jam sebelum menyantap makan siang. Menuju ke restoran favorit kami yang memang sangat direkomendasikan dalam beberapa buku petunjuk guide Perancis, kami memutuskan untuk mampir ke beberapa toko-toko yang menjual produk makanan khas italia seperti yang diajukan oleh kenalan baru kami tadi, Hérve.

Drogheria atau alimentari, begitu orang Italia menyebutnya untuk toko yang menjual bahan makanan, lumayan banyak kami temui sepanjang jalan kota. Memang benar, banyak produk yang dijual sama persis dengan di pasar tadi dan harganya sedikit lebih murah. Tapi ada juga yang sampai berbeda hingga setengah harga. Berhubung kami baru membeli empat macam pasta, sementara suami dan anak-anak saya penggemar pasta, jadilah jumlah pasta yang kami beli semakin bertambah. Tapi kali ini, saya menanyakan benar-benar kepada si penjual mengenai rasa. Kebanyakan memang penjual di alimentari ini kerap sudah berusia, jadi tak semuanya lancar berbahasa Inggris. Tapi manusia kan dikasih akal, jadilah bahasa isyarat pun bisa membuat komunikasi sedikit lancar....

Jika saya sibuk, membeli pasta, minyak zaitun dan berbagai sayur yang diawetkan dalam minyak zaitun. Suami saya sibuk dengan titipan dari ayahnya yaitu anggur khas Italia, 'Chianti'. Bagi pembaca yang meminum anggur, di sini di jual anggur khas cianti yang kerap disajikan di setiap restoran. Namun bagi para turis biasanya, anggur cianti yang menjadi oleh-oleh yaitu berbotol gendut dengan anyaman di sekelilingnya. Menarik sekali. Saya sendiri tidak minum anggur ataupun alkohol, namun titipan anggur dari pihak keluarga dan kerabat, tetap kami penuhi. Hitung-hitung menyenangkan hati mereka.

Tadi saya berbicara mengenai sayuran yang diawetkan dalam minyak zaitun, nah di Firenze ini yang menjadi ciri khas, yaitu buncis putih yang diawetkan dalam minyak zaitun dengan rempah-rempah. Di makan nantinya dengan daging bakar atau bisa juga dimakan dengan salad. Bisa juga dimasak dengan sedikit mentega dan cincangan bawang putih... hemmm enak sekali.

Tapi yang sampai sekarang yang menjadi favorit anak-anak yaitu 'gnocchi atau gnocco italia'. Yaitu berupa bulatan kecil-kecil seperti biji kelereng yang terbuat dari tepung terigu dan kentang. Sebenarnya di Perancis pun ada, hanya memang yang dari Italia, lebih imut dan sangat enak dimakan dengan campuran berbagai keju.

Jamur truffe yang sangat terkenal itu, di toko-toko makanan juga banyak ditawarkan, berupa potongan kecil hingga cream-nya. Harganya memang tidak murah. Saran saya, jangan membeli yang berupa cream, sedikit mengecewakan rasanya sedikit hambar di lidah.

Dan tentunya  saya penggemar berat kopi tak lupa mampir membeli kopi bubuk untuk dibawa pulang. Saya tak membeli kopi di toko melainkan langsung di kafenya. Kafe Dini, saya datangi, karena kopi itulah bagi saya yang paling cocok saya teguk selama berada di Firenze. Apalagi, nama kopinya sama dengan yang belinya, klop dong!

Setelah kedua tangan tak bisa lagi membawa barang belanjaa, saatnya mengajak anak-anak untuk mencari souvenir bagi mereka. Maka  Nuovo Mercanto (pasar baru) kami pilih, karena disanalah berbagai macam souvenir bisa didapatkan.

Pasar terbuka ini, menawarkan segala rupa!! Berbagai barang dari bahan sutra, selendang, sarung bantal pokoknya komplitlah. Lalu topeng khas Italia yang digunakan untuk acara karnaval, namun cocok juga sebagai dekorasi rumah, kerajinan dari benang emas, piring, perlengkapan rumah tangga, benar-benar di sini kita istilahnya tidak akan kehabisan ide untuk dapatkan oleh-oleh. Soal harga hampir sama dengan di tempat lainnya.

Anak-anak yang biasanya heboh kalau soal belanja souvenir, hanya bengong saja melihat-lihat barang. Saya tanya kenapa, jawabannya, "Habis oleh-olehnya untuk emak-emak semua..! serba emas melulu...!" Walahhhhh ada-ada saja! Setelah saya bawa ke salah satu kios yang isinya pinokio dengan berbagai bentuk dan model baru deh itu anak dua pada nyengir... ahhh dasar, anak-anak memang nggak jauh dari mainan. Dan pinokio pun mereka pilih sebagai kenangan dari Italia.

Sebenarnya ada satu pasar yang bisa membuat wanita betah berlama-lama. Mungkin tepatnya bukan pasar, lebih kepada satu jalan dimana kanan kirinya hanya terdapat toko perhiasan. Jalanan yang merupakan jembatan terkenal itu, yaitu Ponte Vecchio, padat dengan butik-butik bling-bling! Alias bersinar, karena perhisan emas, berlian dan batu berharga lainnya, begitu cantik dipajang. Para pembaca yang gemar dengan perhiasan pasti bisa satu harian keluar masuk toko hanya sepanjang jembatan ini!

Daging steak terpopuler di Firenze

Tak terasa, waktu sudah menunjukan hampir pukul 14.00. Kami pun segera menuju ke restoran favorit kami yaitu Ristorante Pizzeria I Ghibellini yang berada di Piazza San Pier Maggiore. Restoran Italia ini menyajikan masakan sangat lezat dengan harga jujur! Makanya tak heran tidak saja turis dari mancanegara yang datang tapi penduduk setempat pun rupanya memilih restoran ini sebagai tempat favorit mereka.

Makanan apa saja yang sudah kami cicipi? Di sini yang disarankan adalah bistecca fiorentina (tuscan steak). Kata orang setempat, belum syah datang ke Firenze kalau tak mencicipi daging yang dimasak ala firorentina. Yang jadi masalah daging ini besar dan tebal sekali, kalau tak biasa memakan daging banyak pasti serasa perut akan meledak. Namun berhubung saya ini, kata suami karnivor kelas berat, maka daging tebal pun habis saya lahap... maklum, kecil-kecil isinya besar he-he-he...

Lalu apa lagi yang bisa kita cicipi? Sup ikan juga disarankan, kang Dadang yang mencicipi sup ikan  di restoran ini, saya tak terlalu menyukainya, tapi menurutnya sangat gurih. Si bungsu dan si sulung, setiap kali datang ke tempat ini tak pernah berubah, pizza pilihannya. Memang benar, pizza di rumah makan ini, kulitnya sangat kering... dan kejunya juga saus tomatnya hemmm lezat sekali. Tapi yang menjadi favorit saya dan suami adalah, pasta dengan jamur cepes dan risoto!! Istilahnya maknyus! Begitu kan orang Indonesia menyebutnya?

Lalu dessert apa yang nikmat sebagai penutup santapan kita? Kalau menurut saya, hanya satu yaitu tiramisu sementara anak-anak, yaitu gelato rasa vanila dan coklat! Gelato yaitu ice cream Italia sangat terkenal. Bagi mereka gelato tak sama dengan ice cream kebanyakan. Tapi kalau menurut saya bentuknya ya seperti ice cream, hanya memang lebih lembut terasa di lidah.

Itu adalah hari yang terakhir kami mengunjungi restoran kesayangan kami. Esok kami sudah harus pergi meninggalkan kota cantik Firenze menuju kota Pisa, untuk melihat menara miring yang jadi buah bibir dunia.

Saatnya berjalan-jalan santai, menikmati kembali kota tua Firenze menaruhnya dalam pandangan mata dan menyimpannya secara lekat di hati. Selalu terasa berat meninggalkan sebuah tempat yang telah memberikan kesenangan dan kenangan. Adieu Firenze...  (Bersambung) (DINI KUSMANA MASSABUAU)


Editor : I Made Asdhiana