Kamis, 24 Juli 2014

/ Travel

Patung Tuan Ma Diarak Keliling Larantuka

Jumat, 22 April 2011 | 21:20 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Umat dan peziarah di Larantuka, Flores Timur, NTT, memadati Gereja Kathedral untuk melakukan prosesi puncak Jumat Agung, Jumat (22/4/2011). Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) akan diarak keliling Larantuka yang diwakili oleh 8 armida (tempat perhentian).

Sekitar pukul 19.00, umat mulai bergerak dari Gereja Kathedral mengantar Patung Tuan Ma dan Patung Tuan Ana menuju setiap armida. Armida-armida tersebut menyimbolkan kehidupan Yesus mulai dari masa Bunda Maria mengandung hingga wafatnya Yesus.

Delapan armida melambangkan 8 suku yang sebelumnya, pada pukul 18.00, Lakademu atau petugas yang akan menandu patung Tuan Ana melakukan jalan kure. Jalan kure adalah memeriksa situasi keamanan di sepanjang rute yang akan dilewati patung Tuan Ma dan patung Tuan Ana. Lakademu menggunakan baju khas Portugis dengan busana tertutup hingga ke wajah.

Sementara itu, di sore hari warga mulai menempatkan gambar dan patung Bunda Maria di muka rumah yang akan dilewati Patung Ma dan Patung Ana. Armida-armida pun dirias. Malam saat iring-iringan, ribuan umat dan peziarah baik penduduk Larantuka maupun pengunjung dari luar kota dan mancangera berbaur turun ke jalan.

Sambil berjalan, mereka terus melantunkan Salam Maria dan kidung-kidung. Masing-masing membawa lilin. Di Gereja Kathedral dan di setiap armida dilantunkan kidung "O Vos" atau ratapan derita Yesus.

Semana Santa adalah pekan suci yang dimulai dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah. Ritual puncaknya pada saat Jumat Agung. Semana Santa merupakan perayaan Katolik khas masyarakat Larantuka, Flores Timur, NTT. Ritual ini sudah berlangsung selama 500 tahun dan merupakan ritual peninggalan Portugis.

Semua tradisi, ornamen, dan perlengkapan yang digunakan dalam pelaksanaan prosesi Jumat Agung adalah warisan Portugis. Bahkan untuk doa dan kidung pujian menggunakan bahasa Portugis.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana