Selasa, 2 September 2014

/ Kolom

CitraLand Surabaya, Kebanggaan Ciputra di Indonesia

Rabu, 27 April 2011 | 06:47 WIB

oleh Robert Adhi Kusumaputra

Pekan lalu, saya diajak melihat-lihat CitraLand Surabaya, proyek hunian kebanggaan Ciputra di Indonesia. Ketika melintas di jalan utama kota baru itu, Harun Hajadi, Managing Director Grup Ciputra mengatakan pada saya, “Lihatlah jalan di sini, lebar-lebar, seperti highway di Australia.”

Memang, infrastruktur jalan di Citraland Surabaya dibangun dengan terencana. Harun, salah satu menantu Pak Ciputra, terlibat sejak awal pembebasan lahan dan pembangunan proyek hunian, yang memiliki izin lokasi seluas 2.000 hektar ini.

Wajar kalau Harun bangga. Hunian yang dibangun sejak tahun 1993 ini memiliki tagline “The Singapore of Surabaya - Living a Clean, Green, and Modern City”. Citraland Surabaya ingin menjadi kawasan hunian yang bersih, hijau, dan modern, seperti Singapura. Klaster-klasternya pun dibuat dengan nama-nama berbau Singapura, seperti Sommerset, Raffles, Fullerton.

Strategi mengubah tagline ini berhasil memikat pembeli. General Manager Citraland Surabaya, Andy Soegiardjo mengungkapkan, pada tahun 2003-2004, mereka mencetak rekor penjualan di Grup Ciputra dengan meraih pendapatan Rp 850 miliar.

Melhat sukses luar biasa, Citraland Surabaya pun mengembangkan klaster dan penunjuk jalan dengan model Singapura. Bukan hanya pernak-pernik yang dibuat mirip negeri Singa, pencanangan kampanye tanam pohon, gerakan kebersihan dan penghijauan pun dilancarkan. Inilah kunci sukses Citraland Surabaya mengambil hati calon pembeli rumah. Implementasi tagline “The Singapore of Surabaya” yang sungguh-sungguh diwujudkan secara nyata ini berdampak positif pada penjualan.

Penghuni diedukasi untuk selalu cinta kebersihan, meski pengelola tak punya otoritas memberlakukan denda. Dan setelah “clean” tercapai, masuk ke tahap “green”. Penghuni diajak peduli penghijauan dan ikut lomba taman. Dan kini Citraland Surabaya masuk ke tahap modern. Penghuni menikmati akses internet broadband dan TV kabel. Juga ada zona wifi gratis di sejumlah tempat publik.

Sampai tahun 2010, dari 2.000 hektar, yang sudah dikembangkan 850 hektar dengan jumlah penghuni 5.000 KK atau sekitar 24.000 jiwa. Mayoritas penghuninya adalah usia produktif, kombinasi pebisnis dan profesional. Umumnya mereka tak hanya membeli rumah, tapi juga fasilitas dan infrastruktur. Sampai April 2011, sudah dibangun 30 klaster, dan klaster termahal adalah Bukit Golf.

Salah satu penghuni Citraland, Vonny mengaku hampir sepanjang hari ia berada di kawasan itu. Dari mulai berolahraga, bekerja, makan dan tinggal. Gaya hidup baru kelas menengah atas pun terbentuk. Bahkan gaya hidup bersepeda terbentuk secara alami. Banyak penghuni memanfaatkan jalan yang lebar-lebar itu untuk bersepeda dan ber-jogging.

Salah satu keunggulan Citraland Surabaya adalah City Management, yang mengelola infrastruktur dan fasilitas di Citraland. Memang ada pengembang lain yang memiliki manajemen kota, namun yang bersertifikat ber-ISO 9001-2000 hanya Citraland Surabaya, demikian kata Andy Soegiardjo.

Seperti halnya kota mandiri lainnya, fasilitas Citraland Surabaya relatif lengkap, mulai dari supermarket, pasar tradisional, kafe dan restoran, waterpark, kolam renang, sinema, ruang pamer Honda, sampai kantor pajak dan kantor pertanahan. Lapangan golf di Citraland Surabaya terlengkap di Jawa Timur dengan 27 hole. Dan ke depan, dibangun hotel butik dan rumah sakit. Tempat makan bernuansa alfresco dining, GWalk berkembang seiring tren gaya hidup. Banyak pengunjung dari luar Citraland, menikmati hidangan resto, foodcourt dan pedagang kali lima di sepanjang kawasan sepanjang 1,5 km itu.

Sekolah pun banyak, mulai dari Sekolah Internasional Ciputra, Surabaya International School, Cita Hati, Masa Depan Cerah, Taipei School, Mimi School, dan Universitas Ciputra yang dibuka sejak tahun 2007 bertujuan menciptakan wirausaha kelas dunia (world class entrepreneur).

Ke arah Surabaya Barat
Pengembangan hunian menengah atas di Surabaya mengarah ke wilayah barat. Tren ini sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 1993. Ini terlihat pada Graha Famili yang dikembangkan Intiland, Citraland Surabaya yang dibangun Grup Ciputra, Pakuwon, Bukit Mas yang dibangun Sinarmas, Bukit Darmo Golf, Dian Istana, Royal Residence, sampai The Prambanan. Lingkungan hunian ditata dan terkonsep dengan baik.

Awalnya pembangunan lebih banyak di wilayah timur Surabaya. Masuknya pengembang-pengembang besar yang masing-masing membawa konsep perencanaan yang matang, akhirnya membuat wilayah barat berkembang pesat. Infrastruktur jalan yang dibangun lebar-lebar. Jalan utama CitraLand Surabaya selebar 30 meter dalam dua tahun mendatang, akan menjadi West Ring Road Surabaya Barat, yang menyambung ke Gresik. Kendaraan dari tol Waru, tol Satelit, masuk CitraLand menuju Gresik. West Ring Road ini bertujuan memecah jalur tengah kota.

Pesatnya wilayah Surabaya Barat membuat harga tanah juga terus melesat. Jika pada tahun 1993 saat CitraLand Surabaya dibangun harga tanah berkisar Rp 400.000 per meter persegi, sekarang di harga tanah di klaster Bukit Golf sudah Rp 5 juta per meter persegi. Rata-rata harga tanah di CitraLand Rp 3 juta - Rp 3,5 juta per meter persegi.

Di Surabaya Barat, harga tanah termahal di Graha Famili Rp 4 juta - Rp 5 juta per meter persegi. Ini karena lokasi Graha Famili berada di depan dan pangsa pasar menengah atas. Sedangkan Citraland menjangkau semua kalangan, mulai dari kelas menengah, menengah atas, sampai kelas atas. Harga rumah mulai Rp 700 juta (tanah 135 m2 dan bangunan 93 m2), Rp 1,5 miliar (tanah 210 m2, bangunan 247 m2), sampai Rp 5 miliar (tanah 800 m2, bangunan terserah konsumen, didesainkan).

"Brand" Ciputra
Mengapa Grup Ciputra relatif sukses saat membangun proyek-proyek properti di berbagai kota di Indonesia? Salah satu jawabannya tentu karena brand Ciputra yang sangat kuat. Begitu orang mendengar nama Ciputra, yang ada di benak adalah perumahan yang hijau, bersih dan berkualitas. Itulah sebabnya rumah-rumah dengan brand CitraLand, CitraGarden, CitraIndah, CitraHarmoni, CitraGrand City ataupun proyek superblok Ciputra World selalu sukses.

Brand ini dibangun Ciputra sejak tahun 1961 ketika memulai Grup Jaya bersama Pemda DKI Jakarta, dilanjutkan bersama Grup Metropolitan tahun 1971. Dan Ciputra membuat namanya menjadi brand saat mendirikan perusahaan yang dikelola keluarga tahun 1981.

Pada usianya yang ke-30 tahun 2011 ini, Grup Ciputra mencanangkan membangun perumahan di 30 kota di Indonesia. Sampai April 2011, Ciputra sudah hadir di 23 kota. Brand Ciputra makin kokoh karena setelah itu, ada Mal Ciputra, Hotel Ciputra, Universitas Ciputra, rumah sakit Ciputra Hospital, superblok Ciputra World.

Dari sekian banyak proyek perumahan, CitraLand  Surabaya adalah proyek kebanggaan Grup Ciputra, hunian yang terlengkap dan termodern. Dan di antara provinsi di Indonesia, Jawa Timur adalah daerah di mana Grup Ciputra menanamkan investasi paling besar. Selain CitraLand Surabaya, Grup Ciputra juga memiliki tiga proyek properti di Sidoarjo dan proyek terbaru superblok Ciputra World Surabaya.

Iklim investasi yang kondusif dan dukungan pemerintah yang kuat, membuat Grup Ciputra "jatuh cinta" pada Jawa Timur. Dan kata Harun Hajadi, Grup Ciputra akan tetap membangun proyek properti yang bersih, hijau, dan modern di Jawa Timur, dan pada gilirannya menciptakan lapangan kerja dari proyek-proyek properti, dan memberi kontribusi pajak ke pemerintah daerah. ***

*) Robert Adhi Kusumaputra adalah editor Kanal Properti Kompas.com


Editor : Robert Adhi Kusumaputra