Selasa, 2 September 2014

/ Travel

Satu Malam di Raja Ampat

Jumat, 20 Mei 2011 | 09:12 WIB

KOMPAS.com - Siapa pun pasti akan merasa kurang puas jika hanya menghabiskan satu malam di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Dan memang benar, kalau bukan karena keterbatasan biaya serta misi survei pekerjaan, rasanya ingin berminggu-minggu tinggal di kepulauan ini. Banyak yang beranggapan kalau Raja Ampat adalah destinasi paling unreachable, luar biasa dan lain lain karena biaya yang harus dihabiskan sangat tinggi.

Siapa juga yang tidak takut, melihat price list harga resort disana berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per malam, per orang. Bukan per kamar. Untuk resort di pinggir laut milik lokal yang paling murah pun sekita Rp 500 ribu per malam, per orang. Untungnya ayah saya memiliki kenalan orang Raja Ampat asli, yang saat ini tinggal di pantai Waiwo Waisai, salah satu wilayah selatan di pulau terbesar Raja Ampat, Waigeo.

Homestay Bapak Ahmad

Bapak Ahmad namanya, memilih untuk tinggal di pantai itu sejak beliau pensiun dari pekerjaannya di perusahaan-perusahaan minyak. Bersama keluarga serta anak cucunya, beliau menjalani hidup layaknya orang pesisir. Bergantung dari menangkap dan menjual ikan ke Paisai, kota kabupaten di pulau  Waigeo. Dengan rumah yang cukup sederhana, beliau sangat terbuka menerima tamu-tamu untuk menginap di rumahnya.

Beliau bercerita, beberapa waktu yang lalu, sempat juga ada turis asing dari Norwegia dan India yang menginap di tempatnya hingga 3 minggu. Selain itu, kawasan rumahnya yang cukup teduh dan luas, juga kerap digunakan tamu-tamunya untuk menginap menggunakan tenda, atau sekadar tidur di saung-saung sekitar rumahnya. Alhasil, biaya yang harus saya keluarkan lebih banyak di bensin untuk kapal menuju Kepulauan Raja Ampat dan pulau-pulau sekitarnya.

Pantai Waiwo di Pulau Waigeo sepertinya sangat tepat bagi mereka yang hanya sempat beberapa hari bermain ke Raja Ampat, dengan modal yang pas-pasan. Sedikit info tambahan, saat ini di kawasan rumah bapak Ahmad, sedang ada wacana akan dibangun beberapa homestay kecil yang nantinya bisa disewakan kepada para tamu. Tentunya harga homestay itu, akan sangat jauh dibawah harga penginapan yang telah ada disana, dan dengan fasilitas yang diharapkan cukup memenuhi keinginan banyak budget traveller indonesia yang saat ini penasaran akan keindahan Raja Ampat.

Jika ingin ke Raja Ampat, kita dapat menggunakan kapal umum dari Sorong menuju Waisai yang berangkat tiap jam 2 siang, menempuh perjalanan kurang lebih 2-3 jam. Tarif kapal ini kalau tidak salah berkisar Rp 120 ribu perjalanan pulang-pergi. Sesampainya di Waisai, kita bisa meminta Nyong, anak dari pak Ahmad, untuk menjemput kita di pelabuhan menggunakan kapal kecil menuju rumah mereka.

Penginapan-penginapan lain di Raja Ampat

Sedikit melakukan survei dengan mendatangi beberapa penginapan di kepulauan ini (saya sempat mendatangi 3 penginapan yang ada disana), saya penasaran seperti apa bentuk asli penginapan yang harganya jutaan itu. Terdapat dua buah penginapan milik orang belanda yang menempati sebuah pulau dengan pemandangan yang sangat bagus.

Seperti yang saya bayangkan, harga memang tidak bohong. Beliau nampaknya telah melakukan survei dengan sangat baik, sehingga bisa menemukan pantai dengan gugusan karang yang sangat apik. Dari penginapan ini, pengunjung dapat melihat juga pemandangan sebuah pulau kecil di depan, yang terhubung dengan hamparan pasir putih serta laut berwarna biru toska menuju dermaga mereka.

Selain penginapan itu, saya juga mendatangi penginapan yang tadinya dikelola sebagai pusat penelitian. Tetapi dialihkan menjadi penginapan komersial. Terletak bersebelahan dengan tempat saya menginap, penginapan ini memiliki konsep berbeda dengan resort di Pulau Kri, milik warga negara asing itu. Penginapan ini memiliki beberapa bangunan diatas tanah, ditutupi rimbunan pohon serta bangunan yang tampak solid. Berbeda jauh dengan konsep resort di Pulau Kri yang berada di atas air, menggunakan kayu-kayu layaknya rumah penduduk lokal.

Gerombolan Ikan di bawah dermaga

Apa yang bisa saya lakukan di Raja Ampat hanya dalam satu malam, cukup memberikan kesan bahwa saya harus kembali lagi ke tempat ini. Sore hari setelah membereskan barang, kami diajak untuk sedikit berkeliling di depan teluk kabui, melihat perkampungan serta dermaga yang biasa penduduk kampung sapokrem gunakan untuk memancing. Bukan dermaga biasa, penduduk disana bisa dikatakan “memelihara ikan” di sekitar dermaga. Sehingga ada banyak jumlah ikan yang berkeliaran di bawahnya.

Dilihat dari atas air, nampak warna kehitaman seperti lumut bergerombol di bawah dermaga. Ketika saya mencoba snorkeling (karena penasaran tentunya), ternyata benar gerombolan berwarna hitam itu adalah ikan-ikan berbagai ukuran, berenang dengan gerakan dan arah yang berirama, berjumlah sangat banyak.

Saya bayangkan, kalau saja penduduk ini menangkap mereka dengan jaring, pastinya bisa ratusan ikan yang langsung tertangkap. Akan tetapi mereka sepertinya memang lebih memilih menangkap ikan dengan cara ramah lingkungan. Yaitu dengan tidak menggunakan jaring, sehingga hanya sejumlah kecil ikan yang tertangkap, bukan seperti pukat harimau yang menangkap seluruh jenis hewan laut.

Memancing sendiri untuk makan malam

Selanjutnya di sore hari, sambil menunggu matahari terbenam, saya dan kakak saya memilih ikut Nyong naik sampan ke tengah laut, untuk sedikit ber-snorkeling dan memancing makan malam kami. hanya berlayar sedikit dari tepi pantai, kami sudah mencapai tempat snorkeling. Sangat indah, dan sangat jernihnya air, sehingga dari atas laut pun sudah tampak ikan warna-warni berkeliaran.

Setelah itu, kami mulai memancing dengan hanya modal tali nilon dan umpan berupa daging ikan yang dipotong-potong. Tidak perlu menunggu lama, begitu tali dicelupkan ke dalam air, langsung saja ada ikan yang menyambar. Seperti sistem tebang pilih pohon, nampaknya Nyong sudah terbiasa juga sistem pilih-pilih ikan yang dipancing, untuk menjaga kelestarian makhluk hidup disana. Jenis ikan hias atau ikan yang masih kecil ukurannya, akan dia kembalikan ke laut.

Matahari sudah mulai tenggelam, akhirnya kami kembali ke tepi pantai. Bersiap-siap untuk mandi sore, rupanya kamar mandi di rumah bapak ahmad ini semi terbuka dan cukup eco-friendly. Dalam arti, tidak ada atap dan air harus menimba sendiri untuk dipakai secukupnya.

Raja Ampat bagi Non-Diver tetap surga

Saya ingin memberikan sedikit saran bagi yang ingin ke Raja Ampat. Untuk yang sudah bisa menyelam terutama dengan level advanced, tentunya ini adalah surga bagi kalian. Mendengar dari teman saya yang telah menyelam di Raja Ampat, satu minggu sama sekali tidak cukup untuk mencicipi banyaknya titik penyelaman di daerah ini.

Oleh karena itu, pilihlah resort yang memang menyediakan fasilitas penyelaman dengan guide yang memang berpengalaman dan tahu dimana letak titik penyelaman yang diinginkan. Tetapi jika ingin kesana dengan harga miring, bisa saja datang ke homestay-homestay seperti yang dimiliki Bapak Ahmad, dan menggunakan jasa menyelam saja ke resort-resort yang telah memiliki fasilitas bagi penyelam.

Untuk yang belum bisa menyelam (termasuk saya), tidak benar kalau kita tidak bisa menikmati perjalanan di Raja Ampat (karena saya sempat berpikir bahwa, rugi kalau ke Raja Ampat tetapi tidak bisa menyelam). Banyak lanskap-lanskap unik yang hanya bisa dilihat di kepulauan ini. Teluk Kabui yang menyerupai labirin dengan dinding-dinding karang yang eksotis, serta Kepulauan Wayag dengan banyak pasir putih dan pantai biru muda yang merupakan icon utama Raja Ampat, hanyalah sebagian kecil dari keindahan yang dapat kita lihat tanpa perlu menyelam atau masuk ke dalam laut.

Jika kita sedikit masuk ke dalam laut seperti ber-snorkeling, dari yang sudah saya alami sendiri, keindahan bawah laut yang ditawarkan memang sangat indah dan masih asri dibandingkan tempat-tempat lain yang sudah menjadi tujuan umum bagi para turis.

Jadi, siapa bilang untuk berlibur ke Raja Ampat kita harus menghabiskan dana hingga belasan juta. Termasuk dengan biaya pesawat ke Kota Sorong (kurang lebih Rp 2,5-3 juta pulang-pergi), sebetulnya bisa saja dengan dana Rp 6-8 juta untuk berlibur ke Raja Ampat selama satu minggu. Tentunya dengan catatan harus mau share kapal dengan minimal 7 orang untuk keliling di Kepulauan Raja Ampat, dan menginap di homestay-homestay atau rumah penduduk di sana.

Jangan dibandingkan harga Rp 6-8 juta berlibur di Raja Ampat dengan berlibur ke luar negeri. Pengalaman yang didapat akan jauh berbeda dan justru membuat kita ketagihan untuk kembali lagi ke sana, atau mengeksplor tempat-tempat lain di Indonesia.

Selain itu, kita juga dapat membantu penghasilan bagi para penduduk setempat. Para turis internasional pun ikut mengantre untuk dapat datang ke Raja Ampat. Oleh karena itu, tunjukkan bahwa kita memang mencintai alam indonesia dan sambangi salah satu destinasi wajib ini bagi mereka yang mengaku petualang dan traveler. (Hasna Afifah)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: