Sabtu, 20 Desember 2014

/ Travel

Pisang Goreng Sekering Pasir, Renyah!!

Kamis, 26 Mei 2011 | 10:55 WIB

KOMPAS.com - Telah lama saya mengenal Pisangku Pisang Pasir, yaitu tepatnya pada tahun 2006. Namun, selama itu saya hanya menikmatinya secara hangat yaitu “Beli dan Langsung Habis”. Sekali pun saya tidak pernah mencoba untuk dimakan dingin. "Takut sudah tidak renyah dan kelezatannya akan hilangm," pikir saya. Namun!!! Ternyata khayalan saya itu salah!!! Kenyataanya, Pisang itu tetap renyah bahkan setelah nyaris 4 jam berlalu.

Beginilah ceritanya. Saat itu pukul 10.30 saya mendatangi gerai Pisangku di kawasan Taman Jajan Babe, Tanjung Barat Jakarta Selatan. Siapa sangka, antrean cukup panjang dan pisang yang dipajang habis sama sekali, sehingga harus menunggu untuk digoreng. Oh My God… saya bisa membayangkan ketika pisang panas langsung dari penggorengan dan dimasukkan ke dalam kardus, yang terjadi adalah kardus menjadi berkeringat dan pisang pun akan basah, kemudian tak lagi renyah. Apalagi saya membeli pisang tersebut untuk jamuan snack peserta gathering pada pukul 15.00 di Bogor Jawa Barat.

Hmm,… dengan perasaan pasrah, saya tetap membeli pisang tersebut karena beberapa teman benar benar ingin mencoba kelezatan pisangku yang selalu kugembor-gemborkan. Dengan keadaan panas mengepul, betul dugaan saya. Tak hanya kardusnya berkeringat, bahkan ketika saya sampai di Bogor pukul 12.30, kondisi kardus tersebut sudah sobek dimana mana saking uapnya telah berubah menjadi cairan.

“Cepat mas tolong dikeluarkan pisangnya dan diletakkan di piring," kata saya kepada karyawan resto tempat kami akan melakukan gathering.

Alhasil dalam sekejap 40 pieces pisang sudah berada di atas piring. Namun, karena banyak kerjaan yang mesti saya lakukan, saya belum sempat melihat kondisi pisang pasca dikeluarkan dari kardus yang hancur lebur oleh air tersebut.

Tepat pukul 15.00, keluarlah Pisangku ke hadapan peserta gathering sebagai snack. Dengan ragu-ragu kuhampiri salah satu meja dan ikut mencicip pisang dengan perasaan was was … ‘Oh My God!!! Pisangku ini masih tetap renyah dan kriuk!!!’ Luar Biasa … sementara kardusnya hancur karena uap yang menjadi air, ternyata pisangnya tetap garing sekering pasir.

Dan pujian teman teman terhadap lezatnya Pisangku ini mengalir deras sekali, “Yun, ini pisang apa? Enak banget”, “Ini pisangku ya? Beli dimana? Emang di Bogor ada?”, “Hm,…. tepungnya crunchy banget ya. Beli dimana ini?” dan komentar positif lainnya.

Tentang Rasa Pisangku Pisang Pasir

Wah jujur kalau saya sendiri suka karena pisang buatan Pisangku sangat minim minyak. Ya, kalau biasanya kita makan pisang goreng tepung, minyaknya sampai menetes netes, pisang-nya Pisangku sama sekali tidak meneteskan minyak. Bahkan ketika kita makan dengan menggunakan tisu, kadar minyak yang menempel sangat tak berarti alias bisa dibilang hampir tak ada. Kering dan Gurih sekali.

Kelezatan Pisangku ini juga ternyata memikat suamiku. Setiap ke Jakarta ia tak pernah alpha untuk membeli Pisangku. Saking jatuh cintanya, ia memaksaku untuk menemui pemiliknya, Wildan, supaya mau buka di Purwokerto atau kalau boleh di Franchise di Purwokerto supaya bisa makan tiap hari. Ternyata, tidak boleh, “Saya sementara ini belum ada niat untuk Franchise, takut kualitasnya turun nanti jadi senjata makan tuan”.

Hm,… tapi saya sungguh penasaran akan rahasia kelezatan Pisangku, kali aja ntar saya bisa ngebuat yang agak agak mirip hehehe … jadi saya bertanya pada Pak Wildan, apa sih rahasianya??? Dia menjawab, “Api yang dapat memanaskan minyak dengan suhu maksimal”. Hm, …??? Ya ya ya, kalau diperhatikan kompor yang digunakan di pisangku memang adalah kompor rakitan yang mungkin gak akan anda jumpai di tempat lain. Karena kompor ini memang didesain sendiri oleh Wildan, sehingga dapat menghasilkan panas api yang maksimal namun dapat menghemat gas hingga 50 persen dibanding dengan kompor biasa.

Jadi, dengan memasak menggunakan kompor rakitan ini, memasak pisang pun tak memerlukan waktu yang lama. Hanya dicelup sebentar langsung di angkat. Hasilnya? Suatu pisang kering yang sangat masir atau gurih benar benar seperti pasir.

Nah, selain tak berminyak, rasa juga menjadi pilihan saya berikutnya. Pisangku menggunakan pisang lampung yang memiliki tingkat manis yang cukup kuat namun dengan tekstur pisang tak mudah lembek. Sehingga ketika disandingkan dengan adonan tepung rahasia asli racikan Wildan, yang muncul adalah sebuah pisang goreng pasir yang kokoh tidak lembek, namun memiliki rasa manis seperti pisang dengan tekstur lemas.

Adonan tepungnya sendiri sampai saat ini masih menjadi teka teki bagi para pegawai apalagi pembeli. Hehehe, karena Wildan memang kokoh mempertahankan resep yang ia racik sepenuh hati selama 5 bulan penuh uji coba gagal dan gagal hingga akhirnya bertemu dengan formula yang tepat. Yang jelas ide awal Wildan menemukan resep ini adalah berkat, Chicken Katsu.

Dimana chicken katsu ini merupakan makanan yang terdiri dari ayam berbalut tepung yang sangat gurih dan renyah. Bentuknya pun besar, kering dan menggoda. Hm… luar biasa yach … akhirnya selama 5 bulan, sukses juga … dan resep pisang pasir Wildan tetap bertahan disukai dan selalu dikangenin lidah ribuan warga Jakarta.

Ribuan??? Yaiii … pada hari pertama buka pada 2006, Pisangku sudah berhasil menjual 500 pisang. Lalu hanya dalam tempo tak sampai 1 bulan, sempat mencatat penjualan tertinggi hingga 5.500 pisang dalam sehari. Wow … kini atas permintaan para pelanggan yang tersebar di Jabotabek, gerai Pisangku yang semuanya dimiliki pribadi oleh Wildan, total mencapai 12 gerai. Oya, harga pisangku per biji Rp 2.500.

Sekilas Tentang Pisang Bertepung

Tahun 2006 merupakan masa kejayaan pisang pontianak di Jakarta. Hampir tiap sudut kota, ada saja penjual pisang goreng yang berbalur tepung ini. Namun kalau diperhatikan tampaknya tahun 2008 merupakan masa akhir keemasan jajanan khas Kalimantan Barat tersebut.

Mengapa jajanan merakyat tersebut dapat sedemikian singkat umur kepopulerannya??? Menurut saya, karena banyak orang tiba tiba ‘Mendadak jadi Pengusaha Pisang’ yang resep-nya ngasal jadi pisang model Pontianak aja. Alhasil, masyarakat kan punya lidah yang bisa menilai, so cuma beberapa gerai pisang aja yang benar benar pas di lidah warga Jakarta kebanyakan yang dapat tetap bertahan. Salah satu yang bertahan dan bahkan justru bertambah besar adalah Pisangku Pisang Goreng Pasir. (Catur Guna Yuyun Angkadjaja)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: