Selasa, 23 Desember 2014

/ Travel

Makanan

Inilah "Partai" Bubur Ayam

Minggu, 29 Mei 2011 | 08:35 WIB

KOMPAS.com — Bubur ayam menjadi makanan rakyat dari berbagai lapisan. Bubur dari beras dengan taburan suwiran daging ayam itu juga menafkahi rakyat: para penjajanya.

"Mau ke bubur hostes?” tegur seorang tukang parkir di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, Senin malam pekan lalu.

Malam sudah hampir berganti hari. Beberapa meter setelah persimpangan Jalan Mangga Besar Raya, di muka gang kecil terpampang papan mungil bertulisan ”Bubur Olimo”. Inilah yang dimaksud si tukang parkir sebagai bubur hostes.

Bubur Olimo termasuk salah satu bubur ayam legendaris di Jakarta. Usaha itu dirintis oleh Tjhin Saoe Soe sejak era 1950-an. Pengelola saat ini, Harjo (64), adalah generasi ketiga dari (alm) Saoe Soe.

Menyantap hangatnya bubur ayam berusia lebih dari setengah abad itu, kita juga bisa menikmati sejarah sosial. Betapa tidak, predikat sosial ”bubur hostes” itu bagai bercerita tentang sebuah masa ketika bisnis kelab malam (night club) dan kasino marak di Jakarta, zaman Gubernur Ali Sadikin pada era 1960-1970-an. Tersebutlah seperti Blue Ocean dan Latin Quarter di sekitar Jalan Majapahit dan Gajah Mada.

”Orang-orang malam dari night club dan kasino itulah yang banyak menjadi pelanggan kami ketika itu. Dulu, hostes yang menemani tamu dari Blue Ocean, misalnya, setelah selesai jam kerja dibawa tamunya yang bos-bos untuk makan di sini,” cerita Harjo.

Itu mengapa Bubur Olimo dijuluki bubur hostes hingga kini. Meski begitu, nama ”resmi” tetap Bubur Olimo yang diambil dari nama toko mobil di sekitar lokasi mangkal saat ini.

Kisah Bubur Olimo menjadi bukti bahwa bubur ayam telah menjadi bagian dari kehidupan kota besar, seperti Jakarta. Bubur ayam dikonsumsi rakyat dari bos-bos sampai anak balita di kampung-kampung. Abang-abang menjajakan bubur ayam di kampung-kampung dengan gerobak dorong atau sepeda motor. Bubur ayam juga dijual di kaki lima sampai hotel bintang lima.

Perhatikan juga kantor-kantor di gedung-gedung tinggi di kawasan Jalan Gatot Subroto dan Sudirman, Jakarta, misalnya. Pada salah satu sudutnya kerap didapati gerobak bubur ayam, terutama pada pagi hari. Mereka mencegat karyawan yang wangi dan berdasi yang belum sempat sarapan di rumah.

Kampung dan hotel berbintang

Mari kita lihat pemandangan di Kampung Utan, Tangerang Selatan, Banten. Suatu siang, gerobak bubur ayam berhenti di samping sebuah masjid. Saat itu sedang berlangsung pengajian yang dihadiri ratusan orang. Belum genap lima menit mangkal, tukang bubur ayam bernama Iri Permana (44) sudah sibuk melayani pembeli, mulai dari para ibu sampai murid-murid Madrasah Ibtidaiyah Jamiyyatul Khair yang berada di samping masjid. Mereka lahap menyantap bubur ayam. Iri pun dengan senyum ramah melayani.

Iri, lelaki asal Tasikmalaya, Jawa Barat, itu mematok harga ”resmi” Rp 5.000 untuk semangkuk bubur ayam. Namun, harga itu rupanya bisa di-nego. Pembeli bahkan boleh membeli dengan harga Rp 2.000 per mangkuk. ”Kalau belinya Rp 2.000, ayamnya sedikiiit.... Kalau beli Rp 5.000 ayamnya banyak. Buburnya tetap sama banyak,” ujar Iri yang berpenghasilan bersih sekitar Rp 75.000 per hari. Itu setelah ia mendorong gerobak sejauh 10 kilometer.

”Lumayan buat bayar kontrakan rumah dan makan,” ujar Iri yang menghidupi istri dan dua anak.

(artikel selengkapnya bisa dibaca di Kompas Cetak edisi Minggu (29/5/2011) halaman 1, cetak.kompas.com)


Editor : Inggried
Sumber: