Jumat, 28 November 2014

/ Travel

Kehangatan Teh Gunung Mas

Rabu, 22 Juni 2011 | 14:24 WIB

Berita Terkait

CAIRAN coklat keemasan tembus pandang mengucur dari teko porselen putih memenuhi cangkir-cangkir kecil. Asap mengepul menebar wangi aroma teh hitam yang menenteramkan. Nun di sana, hamparan kebun teh membentang berbatasan dengan kaki langit. Duhai segarnya. Pikiran, tubuh, dan jiwa serasa dibawa ke kedamaian surga.

Teh hitam yang disajikan panas itu merupakan menu utama di kafe sederhana di tengah Perkebunan Teh Gunung Mas di Jalan Raya Puncak Kilometer 87, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kafe ini hanya dikelilingi dinding kayu setinggi satu meter, selebihnya dibiarkan terbuka.

Bersandar di kursi ditemani secangkir teh, merasakan semilir angin menerobos tanpa halangan menyentuh tubuh. Jangan lupa pesan kudapan pendamping. Di sini ada pisang goreng, talas bogor geprak goreng, dan tahu goreng yang pas untuk menenteramkan lambung seusai berkendara 2-3 jam dari Jakarta menuju Gunung Mas.

Teh hitam asli hasil pemrosesan pucuk-pucuk daun teh di perkebunan ini merupakan ciri khas Gunung Mas. Dikemas dan diberi nama Black Tea Walini, teh ini merupakan produk unggulan di samping teh hijau, teh organik, teh dengan aroma lemon ataupun jahe, dan produk dengan label merek Teh Gunung Mas, Teh Goalpara, dan Teh Sedap. Inilah teh asli Indonesia dengan cita rasa dan aroma kuat.

Masih merasa asing dengan teh produksi kebun Gunung Mas? Mungkin sebagian masyarakat mengenalnya ketika menyesap Teh Lipton atau Sara Lee. Dua produk teh asing itu sudah sejak lama menggunakan bahan baku dari Gunung Mas.

Mungkin pula belum banyak orang tahu soal teh hitam. Di China, Taiwan, Korea, dan Jepang, masyarakatnya biasa menyebut teh hitam sebagai teh merah atau kocha/hongcha dalam bahasa setempat. Penyebutan ini sesuai dengan warna merah yang terjadi ketika teh hitam diseduh dengan air panas.

Teh hitam dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi.

Dari berbagai sumber disebutkan, teh hitam jika dikonsumsi rutin efektif menurunkan kadar kolesterol hingga 69 persen. Ia pun bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.

Puaskan diri

Mumpung sedang berada di Gunung Mas, tidak ada salahnya memuaskan diri menikmati teh hitam. Setidaknya ada dua kafe yang menyediakan teh hitam siap minum sepanjang pagi sampai menjelang malam. Makanan ringan hingga berat pun tersedia.

Agar lebih lama menikmati teh hitam, bermalamlah. Menurut petugas umum Agrowisata Gunung Mas, Yuskoswara, di antara hamparan kebun teh, disediakan kamar-kamar seharga Rp 400.000-Rp 500.000 per malam. Ada juga tipe bungalo untuk 4-28 orang seharga Rp 605.000-Rp 1,5 juta per malam. Kalau memilih lebih dekat dengan alam, Gunung Mas memiliki lahan khusus kemping.

Rombongan besar lebih dari 50 orang pun dilayani. Mulai dari aula, sistem suara, sampai panggung sudah ada. Biar tidak kecewa, ada baiknya memesan kamar, bungalo, atau aula jauh hari sebelum mengunjungi Gunung Mas.

Baju santai, sepatu olahraga, pakaian berenang, dan sepeda jangan sampai tak dibawa. Gunakan waktu luang untuk bermain bola, tenis, atau voli di lapangan yang ada dan manfaatkan kolam renang Tirta Mas.

Di pagi hari, daripada berselimut mengusir dingin, coba saja paket tea walk. Ada juga jalur sepeda di jalan setapak di antara hamparan teh. Tersedia beberapa pilihan, lintasan pendek di sekitar kompleks Gunung Mas atau rute panjang yang menembus sampai ke dekat Taman Safari.

Seusai sarapan, waktu yang tepat untuk menjelajah. Rasakan pengalaman berbeda dengan mengunjungi pabrik teh. Bisa dilihat proses pemilahan daun teh hingga memasak dan mengemasnya menjadi teh siap seduh. Begitu keluar pabrik, masih tercium aroma teh di baju. Duh, harumnya.

Kenangan

Dalam situs resmi PT Perkebunan Nasional VIII yang mengelola Perkebunan Teh Gunung Mas disebutkan, perusahaan perkebunan milik negara di Jawa Barat dan Banten berasal dari perusahaan perkebunan milik Pemerintah Belanda. Pasca-kemerdekaan, perkebunan diserahkan secara otomatis kepada Pemerintah Indonesia.

Antara tahun 1957 dan 1990-an dilakukan beberapa kali reorganisasi dan restrukturisasi pengelola perkebunan. Di Jawa Barat, sedikitnya terdapat 68 kebun aneka tanaman, termasuk teh, yang harus dikelola pemerintah. Hingga pada 11 Maret 1996, PT Perkebunan XI, XII, dan XIII dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Panjangnya sejarah keberadaan kebun teh di Puncak ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Selasa (31/5/2011), sekelompok turis asal Belanda dibantu seorang pemandu wisata berpuas diri berkeliling perkebunan, mengikuti tur ke dalam pabrik teh Gunung Mas dan tak lupa menyesap teh hitam panas sembari beristirahat.

”Turis asing, khususnya dari Belanda dan negara-negara Eropa lain yang kebetulan berkunjung ke Jawa Barat, selalu dibawa ke sini sebagai salah satu tempat pemberhentian dalam paket tur wisatanya,” kata Endang, pemandu wisata.

Baru-baru ini, wisatawan asing asal Timur Tengah, Jepang, China, dan Afrika mulai sering mampir di Gunung Mas. Tak jarang turis asing yang datang sendiri, tidak mengikuti tur wisata, memutuskan menginap.

Wisatawan asing, khususnya dari Belanda, menurut para pengurus Agrowisata Gunung Mas memang tak sekadar cuci mata. Banyak wisatawan yang kakek neneknya dulu ternyata pernah tinggal, bahkan bekerja, di perkebunan ini.

Di bawah pengelolaan orang-orang Belanda, pada awal hingga pertengahan 1800-an, hutan lebat di Puncak dibabat diganti dengan kebun teh. Tenaga kerja berbondong-bondong didatangkan dari luar daerah.

Seiring berkembangnya perkebunan, jalan serta permukiman dan perkantoran tumbuh subur. Keberadaan perkebunan teh di Puncak menandai perubahan sosial masyarakat di kawasan tersebut.

Konon, sejak itu di Puncak mulai bermunculan vila karena kesejukan udara dan keindahan panoramanya. Kini, Puncak makin terbuka. Perkebunan yang awalnya menjadi urat nadi kehidupan sekarang menjadi salah satu dari sekian banyak daya tarik wisata di kawasan ini.

Di tengah hiruk-pikuk Puncak yang padat dengan tempat wisata baru, restoran, hingga kemacetan lalu lintasnya, berada di dalam kompleks Agrowisata Gunung Mas serasa membawa kita kembali ke masa lalu. Ke suatu masa di mana hanya ada hamparan hijau kebun dikelilingi hutan dan gunung. Satu-satunya bunyi yang terdengar di pagi hingga siang hanyalah kicau burung dan langkah perempuan merambah labirin kebun memetik pucuk-pucuk daun teh. (Neli Triana/Antony Lee)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: