Minggu, 21 Desember 2014

/ Travel

Museum Seharusnya Hidup, Bukan Kaku!

Jumat, 1 Juli 2011 | 03:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Museum seharusnya hidup, bukan suatu bangunan kaku. Oleh karena itu, sebaiknya di dalam museum terdapat aneka aktivitas. Hal tersebut diungkapkan Okke Hatta Rajasa selaku Ketua Panitia Penyelenggara Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011.

"Museum tidak harus yang kaku tapi juga pusat informasi dan ilmu. Jadi museum itu harus hidup sesuai kebutuhan masa kini. Apalagi bangunan Lawang Sewu luar biasa, jadi kita ingin ubah image ini," katanya pada jumpa pers mengenai Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (30/6/2011).

Ia menyebut Gedung Lawang Sewu di Semarang, karena Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011 akan diselenggarakan di lokasi tersebut pada 5-10 Juli 2011. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) bekerja sama dengan Pemda Provinsi Jawa Tengah dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Pameran tersebut bertujuan untuk memperkenalkan berbagai potensi kerajinan dari setiap daerah di tanah air.

Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Jawa Tengah. Gedung tersebut dibangun oleh Belanda dan menyimpan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Menurut UU tentang Cagar Budaya, gedung yang telah berusia lebih dari 100 tahun dapat dimanfaatkan selama tidak mengubah keasliannya dan sesuai fungsi awalnya.

Gedung Lawang Sewu memiliki keunikan dan keindahan arsitektur yang dapat difungsikan sebagai living museum. Gedung dapat dimanfaatkan untuk mendukung industri kreatif, ruang pamer hasil kerajinan, pergelaran seni, seminar dan perkantoran.

Pihak penyelenggara pameran berharap dengan memanfaatkan Lawang Sewu sebagai lokasi pameran kerajinan, dapat merubah citra Lawang Sewu yang menyeramkan. Sekaligus menjadikan Lawang Sewu ikon wisata Kota Semarang.

"Kami harap ini dapat menginspirasi daerah dan instansi lain. Mungkin bentuknya berbeda, tidak harus menjadi tempat pameran. Bisa dengan menjadikan museum sebagai gedung pertemuan atau pameran sejarah dari gedung itu. Yang penting mendayagunakan cagar budaya tapi tetap dengan mengingat peraturan yang berlaku untuk cagar budaya," kata Trisna Wacik selaku Ketua Bidang Promosi dan Pariwisata untuk penyelenggaraan Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011.

Ia menambahkan pemugaran yang dilakukan di Gedung Lawang Sewu pun sebelumnya telah disesuaikan dengan aturan yang berlaku. "Jadi tidak bisa langsung main pasang AC atau maku di sana-sini. Apa memang tidak boleh Cagar Budaya dikomersialisasikan? Asal sesuai aturan mengenai Cagar Budaya saja," tambahnya.

Memang, sebelumnya Lawang Sewu sempat dipugar. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pameran akan dilakukan peresmian Purna Pugar Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono selaku Pembina Dekranas, didampingi Herawati Boediono sebagai Ketua Umum pada Selasa (5/7/2011). Pameran Kriya Unggulan Nusantara memamerkan produk kerajinan unggulan dari seluruh daerah di Indonesia. Selain itu, akan digelar demo kerajinan, penjualan langsung, kompetisi produk kerajinan, peragaan busana, dan pemberian penghargaan kreasi cipta karya.

Pameran didukung enam kementerian yaitu Kemendagri, Kemendustrian, Kemendag, Kemenbudpar, Kemenkop dan UKM, dan Kementerian BUMN. Juga didukung Dekranas Pusat dan Daerah, serta instansi lainnya. Acara peresmian juga akan dimeriahkan oleh tari tradisional anak dari Kabupaten Wonogiri yang pernah memenangkan Festival Seni Tari Tingkat Nasional tahun 2009.


Editor : I Made Asdhiana