Sabtu, 20 Desember 2014

/ Regional

Ragam Hias Tenun Lombok

Kamis, 14 Juli 2011 | 20:45 WIB

MATARAM, KOMPAS.com - Tenunan Lombok, Nusa Tenggara Barat, memiliki kekhasan seperti teknik pembentukan ragam khasnya yang menunjukkan adanya perpaduan antara Indonesia bagian b arat dan Indonesia bagian timur, yang sulit ditemukan di daerah lain.  

Karenanya desain produk dan desain tenun Lombok harus dijaga, dilestarikan, kemudian produknya mampu mengangkat kehidupann perajin menjadi lebih baik, ujar Sjamsidar Isa, Project Officer Cita Tenun Indonesia (CTI), usai pembukaan acara Pembukaan Pelatihan dan Pengembangan Tenun Masyarakat Perajin Lombok, Kamis (14/7) di Mataram.

Mengutarakan hasil survei Tim CTI pada beberapa sentra industri tenun di Lombok, 10-14 Juni lalu, Sjamsidar menilai, teknik pembentukan ragam hias Indonesia Barat lebih banyak mengenal pembuatan dekorasi kain pada pengolahan benang pakan, seperti teknik ikat pakan dan songket (supplementary weft). Tenunan Indonesia Timur lebih banyak menampilkan teknik menghias pada benang lungsi, seperti ikat lungsi dan lungsi tambah (supplementary warp).

Sedang tenunan Lombok secara tradisional mengenal pembuatan dekorasi pada dua arah benang, baik benang lungsi maupun benang pakan. Ciri khas terlihat pada kain Subahnala yang menggunakan teknik songket, dan Sabuk Anteng yang menampilkan teknik lungsi tambah. Dua kain adat ini merupakan tenunan khas Lombok yang tidak ditemui di wilayah lain, dan berpot ensi untuk dikembangkan, ujar Sjamsidar.

Karena itu, didukung pendanaan dari PT Garuda Indonesia, Tim CTI menggelar pelatihan yang diikuti 20 perajin dari beberapa sentra industri tenun Lombok, guna meningkatkan kemampuan perajin menghasilkan tenunan berkualitas, mengem bangkan produknya menjadi produk busana, interior dan mengikuti tren masa kini.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, drs Imam Maliki, menyambut baik kepedulian Tim CTI, karena dari pelatihan itu perajin memperoleh ilmu pengetahuan sekaligus daerah pemasaran tenun Lombok menjadi lebih luas.

Saat ini di NTB, tercatat ada 33 sentra industri tenun, dengan 861 unit usaha yang menyerap 1.086 tenaga kerja (70 persen perempuan), dengan nilai investasi Rp 4.782.460.000 , kata Imam. 

 


Editor : Robert Adhi Kusumaputra