Jumat, 24 Oktober 2014

/ Travel

Pantau Jalur Mudik

Gowes Jakarta-Surabaya Bersama Eiger

Jumat, 15 Juli 2011 | 10:45 WIB

Berita Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Kompas.com mencoba cara unik dalam memantau jalur mudik untuk memberi panduan kepada para perantau yang akan pulang ke kampung halaman pada Lebaran 2011 nanti. Bukannya memakai mobil, tapi Kompas.com melakukannya dengan bersepeda dari Jakarta sampai Surabaya, mulai 15 hingga 24 Juli 2011, didukung produsen alat petualangan, Eiger.

"Kegiatan ini bertema Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik 2011. Ini bukan sekadar unik, tapi juga agar rutin. Selain itu kami juga ingin mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi yang sehat, irit energi, ramah lingkungan, dan mengurangi kemacetan serta polusi. Lihat saja Jakarta dan di kota-kota besar. Polusi dan kemacetan sudah parah," ujar Ketua Panitia Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik 2011, Hery Gaos.

"Kalau saja semua perusahaan dan instansi pemerintah mendukung, kota-kota akan indah. Karyawan tak perlu membawa mobil setiap hari. Tapi, perusahaan harus menyediakan mobil operasional, tempat mandi dan parkir layak buat sepeda. Bayangkan, berapa polusi dan kerugian akibat kemacetan yang akan berkurang? Lagi pula, bersepeda terkadang lebih lancar daripada kendaraan bermesin dalam konteks kota besar yang macet. Para penggowes pun juga bisa sambil olahraga," tambahnya.

Menggowes Jakarta ke Surabaya jelas perlu manajemen lebih baik, plus alat yang layak, fungsional, dan representatif. Eiger kebetulan bersedia menyediakannya.

Perusahaan Eiger selain memberi tas pannier depan di stang, juga panniers belakang, sarung tangan, lampu kepala, jersey, sendal gunung, hydropack, tas kecil, jaket anti hujan, rain coat, juga topi.

Menurut Chief of Marketing Communication Eiger Arif Rachman Husen, alat-alat itu sangat membantu tur panjang dan representatif. "Panniers depan bisa untuk HP, dan alat-alat lainnya karena memiliki satu ruang besar, dua saku samping, dan satu saku depan. Sedangkan panniers belakang memiliki enam ruang yang bisa menampung banyak barang, baik pakaian atau peralatan lain. Selain itu juga ada dua kantong untuk botol minuman.  Sehingga, bawaan tur sudah bisa dimasukkan ke kedua panniers tersebut. Satu tas kecil di frame sepeda juga bisa menampung alat-alat kecil," jelasnya.

Eiger juga menyediakan dua rain coat. Jika hujan, rain coat itu bisa untuk menutup panniers, sehingga pesepeda bisa tetap melanjutkan perjalanan.

Untuk lampu kepala, katanya, punya banyak fungsi. Selain bisa untuk para pesepeda di malam hari, juga untuk caving atau menyusuri goa. "Apalagi baterainya bisa di-charge lagi," kata Arif.

Untuk hydropack atau tas punggung tempat minuman, juga lebih besar dan bisa menampung tiga liter air. "Ini terutama untuk tur panjang, sehingga tak terlalu sering mengisi. Sedangkan topi bisa juga dipakai sebelum memakai helm. Topi itu kami buat ringan, tapi menyerap keringat. Sehingga, saat bersepeda keringat tak jatuh ke mata atau wajah," katanya.

"Kami juga memberikan sendal gunung untuk dipakai sepanjang perjalanan, terutama jika hujan. Sendal juga bisa dipakai saat santai," lanjutnya.

Tentang jersey, selain menyerap keringat, juga didesain agar bisa dipakai untuk bergaya.

Sebelum tur, alat-alat itu sudah dicoba oleh dua pembalap yang mengikti tur, Marta Murfeni dan Devino Oktavianus. Bahkan, Marta sempat memamerkan kepada komunitas sepeda.

"Enak, tak menyulitkan, tapi akan memudahkan perjalanan. Kami bisa membawa segala keperluan selama tur di panniers tanpa ribet. Banyak yang pengen memilikinya, tak sedikit pula yang ingin memintanya seusai tur," jelas Marta yang pernah juara MTB di Australia, Singapura, Brunei Darussalam, dan di beberapa negara lain.

Marta dan Devino sengaja mengikuti Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik 2011, karena tertarik. "Saya dan Devin ingin merasakan juga bersepeda sambil melakukana aktivitas jurnalistik. Alat-alat dari Eiger saya kira sangat membantu dan memuaskan," jelas Marta.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Tri Wahono