Sabtu, 1 November 2014

/ Travel

Delapan Jam dari Jakarta, Menikmati Ski Menelusuri Kurcaci

Rabu, 7 September 2011 | 13:26 WIB

MOUNT Buller di negara bagian Victoria, Australia, menjadi resor ski yang relatif dekat dan mudah diakses dari Jakarta. Kawasan itu bisa ditempuh dengan lima jam perjalanan udara dari Jakarta menuju Melbourne, disambung tiga jam perjalanan darat dari bandara Melbourne.

Pada musim dingin seperti sekarang ini, Juni-September, Mt Buller bisa dikunjungi sekitar 300.000 orang. Sebagian besar dari Australia, tetapi juga ada pengunjung Asia, termasuk Indonesia. Sementara pada musim panas, November-Mei, pengunjungnya berkisar 150.000-180.000 orang. Mereka biasanya menjajal bersepeda gunung atau lintas alam.

Kompas berkesempatan mengunjungi Mt Buller sebagai bagian Media Familiarization Trip, kerja sama Garuda Indonesia dan dewan pariwisata negara bagian Victoria dan New South Wales, Australia.

Setelah menempuh penerbangan Jakarta-Melbourne dan perjalanan darat, sekitar 2,5 jam, kami tiba di pintu gerbang resor Mt Buller. Ketika menuju Mount Buller Village, terlihat satu pohon besar dengan pintu merah kecil di bawahnya. Konon, di rumah pohon itu tinggal Gnome, sang kurcaci.

Warga Mt Buller Village percaya Gnome ”membangun” rumah pohon pertamanya di Mt Buller sekitar delapan tahun lalu. Kurcaci itu datang untuk melindungi Pygmy-possums, hewan berkantong (marsupial), asli Australia yang bertubuh kecil seperti tupai. Possums yang berhabitat di pegunungan itu mulai sukar ditemukan, termasuk di Mt Buller.

Selain di rumah pohon, Gnome bisa ditemukan di sejumlah lokasi di Resor Ski Mt Buller. Tingginya berkisar 15-30 sentimeter dengan berat hampir sama dengan sepatu ski, berkisar 2-3 kilogram. Kira-kira Gnome bisa digambarkan seperti para kurcaci Putri Salju dalam kisah Disney.

Sebetulnya, Gnome sekadar ”legenda kecil” di Resor Ski Mt Buller. Namun, manajemen resor mengemas kisah kurcaci itu sebagai daya tarik. Mereka membuat panduan kisah Gnome, ditambah peta di mana saja bisa menemukan Gnome, yang tak lain patung kecil kurcaci.

Selain Mt Buller, di Australia, sebetulnya ada beberapa resor ski lain, seperti Mt Hotham, Lake Mountain, Baw Baw, dan Falls Creek, tetapi Mt Buller memiliki keunggulan aksesibilitas karena bisa ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari Bandara Melbourne.

Resor ski di ketinggian 1.600-1.800 meter dari permukaan laut ini berada di lahan seluas 300 hektar. Konon nama Mt Buller berasal dari Major Thomas Mitchell, seorang penjelajah, merujuk pada nama temannya di kantor urusan kolonial tahun 1800. Penduduk asli Aborigin mengenal gunung itu dengan nama ”Marnong” yang berarti tangan.

Sebagai resor ski, Mt Buller tidak terlepas dari peranan sejumlah imigran Austria yang mengembangkan lift ski puluhan tahun silam. Salah seorang di antaranya Hans Grimus (71), kini pemilik salah satu hotel ternama di kawasan itu, yakni Pension Grimus.

Selain Pension Grimus, di resor itu juga ada hotel lainnya, seperti Mt Buller Chalet dan Arlberg, dengan tarif ratusan dollar Australia. Namun, ada pula hotel dengan tarif separuhnya, di Mansfield, kota terdekat dari Mt Buller, 45-60 menit perjalanan dengan mobil.

Ski dan main salju

Sebagai resor ski, sudah tentu berski merupakan daya tarik utama di lokasi ini. Di resor tersedia penyewaan ataupun penjualan beberapa perlengkapan ski, termasuk jaket dan celana parasut tahan air. Juga ada instruktur yang siap melatih pengunjung.

Carli, perempuan asal Italia yang murah senyum dengan perawakan ramping, serta Rod pria asal Australia, selama dua jam, sempat mengajari beberapa wartawan Indonesia dasar-dasar ski. Mulai dari cara mengaitkan ski bot (sepatu ski) dengan blades, dua bilah papan tipis untuk berseluncur, kemudian cara melepas kait ski blades dan sepatu dengan bantuan pole (tongkat ski).

Susah-susah gampang berurusan dengan peralatan ski. Sepatu ski yang beratnya sekitar empat kilogram membuat susah melangkah. Setelah mengenal alat, mereka melatih keseimbangan dan belajar meluncur perlahan.

Mereka juga mengajarkan cara melangkah ke samping, lalu cara mengerem laju luncuran dengan membuat ski blades berbentuk huruf ”V” terbalik dengan menggunakan daya dorong tumit, lutut, dan paha. Awalnya menyulitkan dan membuat frustrasi karena sukar mengendalikan otot di tengah suhu udara 1 derajat celsius. Terpeleset lalu jatuh menjadi pengalaman biasa bagi pemula.

Namun, begitu dapat ruhnya, ski jadi menyenangkan sehingga membuat kursus dua jam itu terasa singkat. ”Sebetulnya, kalau mau cukup mahir, setidaknya perlu tiga kali sesi latihan dua jam,” tutur Rod, yang sudah enam tahun menjadi instruktur di beberapa resor ski di Australia.

Jika tak suka dengan permainan ski, pengunjung Mt Buller juga bisa menjajal tobogganing, berseluncur di atas salju dengan papan seluncur. Bisa juga sekadar membuat boneka salju atau sekadar menikmati lanskap gunung salju, melihat tumpukan salju perlahan mencair di bangku-bangku taman, atau pemandangan malam hari saat pendar lampu terbias salju.

Menjaga lingkungan

Dengan tingkat kunjungan yang tinggi, pemerintah ataupun pemangku kepentingan di Mt Buller sadar betul betapa kelestarian ekosistem dan lingkungan di kawasan cagar alam itu begitu penting. Sebab, mereka tahu betul eksploitasi berlebih akan menyebabkan degradasi lingkungan yang bisa menyebabkan pengunjung enggan datang dan perputaran uang menyurut.

Mereka memulai kesadaran itu dari hal kecil hingga besar. Di kamar mandi, Hotel Mt Buller Chalet, misalnya, terpasang plastik kecil bergambar Pygmy- possums, berisi pengakuan sekaligus imbauan bahwa Mt Buller merupakan kawasan rentan sehingga pengunjung diminta peduli dengan berhemat air.

”Hotel-hotel di kawasan ini memperhatikan lingkungan. Ada penanganan limbah cair terpadu. Air dari kamar mandi, laundry, dan dapur diolah hingga bisa menjadi air berkualitas minum, kemudian dipompa ke mesin pembuat salju,” tutur Adrian Beer, Manajer Hotel Pension Grimus.

Pengelolaan limbah itu berada di bawah naungan Mt Buller and Mt Stirling Alpine Resort Management Board. Gillian Dobson, Media and Marketing Officer dari lembaga semipemerintah itu, menuturkan, selain pengelolaan limbah cair dengan alat bernilai jutaan dollar, pihaknya juga mengatur pengelolaan sampah dan kelistrikan. Sampah organik diproses menjadi kompos.

Lembaga itu juga mengawasi ketat pertumbuhan di kawasan itu. Bangunan baru di kawasan itu sangat dibatasi, termasuk menebang pohon untuk mengembangkan lintasan ski.

Mereka juga tengah bekerja keras menyelamatkan Pygmy- possums, yang habitatnya terganggu. Mereka membuat rencana pemulihan dengan menumbuhkan kembali habitat hewan kecil itu di Mt Buller dan mengedukasi pengunjung, terutama anak-anak yang gemar legenda kurcaci dengan menelusuri jejak Gnome yang cinta lingkungan dan melindungi possums.

Keseriusan ini, selain untuk kesinambungan lingkungan, tentunya juga untuk menjaga legenda kecil kurcaci pelindung possums dan permainan salju tetap saling menjalin sebagai daya tarik wisata. (Antony Lee)


Editor : Heru Margianto
Sumber: