Kamis, 27 November 2014

/ Travel

Wisata Finlandia

Menemukan Kebahagiaan di Finlandia

Kamis, 8 September 2011 | 18:51 WIB

KOMPAS.com - Seorang teman kerap keliru merujuk Finlandia sebagai "Findland", layaknya sebuah teritori tak dikenal menunggu peradaban untuk menemukannya. Memang, negara Eropa di pengujung lingkar kutub satu ini masih dianggap awam dibandingkan dengan destinasi wisata seperti Italia, Jerman, dan Perancis.

Bahkan negara tetangga di daerah Skandinavia, seperti Swedia, Norwegia, dan Denmark, terdengar lebih familiar. Namun tanpa disadari, Finlandia sudah menemukan kita sejak lama melalui keseharian kita berkomunikasi dengan menggunakan telepon selular Nokia, menonton Heikki Kovalainen berpacu kecepatan di ajang Formula One, atau terpaku bermain Angry Birds sambil menunggu kemacetan.

Itu belum semua, ternyata banyak sekali hal menarik yang dapat ditelusuri dari negara mungil berpenduduk lima juta orang dan berhamparan belasan ribu danau itu. Sebut saja mulai dari iklim yang superdingin dengan pijaran cahaya bintang utara, matahari yang hampir tak terbenam saat musim panas, hingga mempelajari filosofi dan etos kerja Nordik di dalam sauna. Maka mari bersama menemukan Finlandia!

Menemukan kebahagiaan di Finlandia Kebahagiaan bagi tiap orang relatif sifatnya. Kenikmatan meminum kopi tubruk di sebuah kedai di Aceh yang bernama “De Helsinki” tentunya memiliki ciri khas tersendiri dibanding meminum espresso sebagai pembuka sarapan di ibu kota Finlandia, Helsinki.

Tetapi meski terbelah lautan dan benua, kedua tempat menyandang nama yang sama dan kerap berkonotasi sebagai tempat yang menyenangkan dan mengusung perdamaian. Begitulah Helsinki beberapa tahun ini secara konsisten diganjar penghargaan oleh berbagai institusi dan media sebagai salah satu kota paling layak huni dan membuat Finlandia sebagai salah satu negara terbahagia.

Majalah Monocle tahun ini mengklaim Helsinki sebagai kota terbaik di dunia. Lalu diikuti oleh survei kelayakan hidup oleh The Economist yang menempatkan Finlandia sebagai destinasi ideal dengan kualitas hidup terbaik ketujuh di dunia. Indikator yang mereka gunakan antara lain kemudahan akses bagi warga terhadap barang dan jasa, rendahnya risiko keselamatan, infrastruktur yang efektif, dan tingginya geliat inovasi dalam kehidupan urban.

Tidak berhenti di situ saja, pada laporan tahunan 2010, Finlandia menjadi negara paling bahagia kedua di dunia menurut survei Gallop, ranking pertama dalam Indeks Kebebasan Pers. Belum lagi predikat salah satu sistem pendidikan terbaik menurut Newsweek.

Rapor dengan prestasi yang menakjubkan ini mendorong saya berkeliling pusat Kota Helsinki untuk membuktikan langsung atmosfer urban yang hangat saat warga dengan mudah berjalan kaki menikmati kerindangan taman kota. Menemukan mereka asyik berdiskusi di kedai kopi dan bar terdekat mengenai ide-ide inovasi kewirausahaan dalam bidang jasa seni dan teknologi untuk menyaingi fenomena Rovio, pencipta aplikasi Angry Birds.

Tata kota jantung Helsinki yang teratur dan arsitektur yang intim melebur batas antara situs universitas ternama dengan sentra bisnis dan berbagai gedung bersejarah, memudahkan kita untuk menelusuri kemegahan minimalisme Katedral Putih Lutheran di Senate Square sehabis kuliah atau membaca buku di perpustakaan nasional.

Selanjutnya menembus deretan toko dan butik menuju kedai kopi Esplanade yang legendaris untuk menjalin relasi bisnis dan sosial. Lalu, sambil menikmati makan siang sebelum mengunjungi pameran seni terkini di Museum Seni Kontemporer Kiasma atau menonton film eklektik di bioskop tua Biorex. Kemudian, jalan sore bisa ditutup dengan berbelanja ikan herring segar di pasar terbuka dekat pelabuhan untuk persiapan makan malam.

Gambaran sehari di Helsinki ini mencerminkan bagaimana kebahagiaan atau hidup berkualitas perlu didukung oleh sistem yang efektif dan pandai menyesuaikan diri. Sistem transportasi publik yang aman, tepat waktu, dan cerdas memudahkan warga untuk membuat rencana dan merealisasikannya.

Ditambah lagi, mengikuti tren global di berbagai kota besar lainnya, Helsinki mendorong warganya untuk mengadopsi gaya hidup urban berbasis komunitas swadaya yang inovatif alias bergotong royong untuk berwirausaha bersama di mana saja dan kapan saja. Organisasi wirausaha seperti Hub Helsinki menyediakan fasilitas kerja mobile dengan akses internet di berbagai sudut kota yang memudahkan warga untuk tetap produktif dan memiliki hidup berkualitas.

Gross National Happiness Hidup berkualitas juga menjadi tema utama yang diusung pemerintah daerah Helsinki dalam kampanyenya menjadi Ibu Kota Desain Dunia 2012. Kolaborasi sosial antara masyarakat dan industri kreatif lokal untuk menciptakan ruang publik berkualitas dan sejalan dengan alam juga semakin mengukuhkan kultur desain Finlandia. Seorang jurnalis wisata Sally McGrane menyebutnya sebagai, “Indah, fungsional dan terjangkau (secara ekonomi).”

Tetapi kata “terjangkau” seperti halnya tingkat kebahagiaan bisa sangat relatif. Dengan tingkat pendapatan lebih dari 45.000 dollar AS per kapita pada tahun 2010, uang tentunya merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup meskipun bukan satu-satunya.

Setidaknya dari cerita beberapa warga muda Helsinki, uang bukanlah barometer utama pencipta kebahagiaan. Helinä Siivinen, mahasiswi Universitas Helsinki menjelaskan dengan lugas apa arti kebahagiaan. "Ini bukan soal uang, lebih kepada keseimbangan. Bagaimana kamu mengimbangi antara keluarga, teman, dan pendidikan yang baik. Saya pikir saat ini kami memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik," ujarnya. Layaknya para pemuda Finlandia pada umumnya, dia telah menjelajah dunia dan masih merasa Finlandia sebagai rumahnya dan tempat terbaik di dunia.

Leni Pennanen, pengajar kelas ekstrakurikuler di sekolah menengah atas di Helsinki, juga mengungkapkan sentimen senada. "Lebih mudah mendapatkan pekerjaan di sini dan memperoleh uang untuk berwisata. Ya, kami sudah melihat dunia tetapi bagi kebanyakan pemuda saat ini, mereka kembali ke Helsinki karena kota ini terus bertumbuh dan semakin hidup," katanya.

Kebajikan alternatif inilah yang berusaha ditularkan oleh pakar ekonomi global Jeffrey D Sasch dalam artikelnya, “Ekonomi Kebahagiaan”. Ia mengajak dunia untuk mengubah parameter kebahagiaan dari hanya berdasarkan Tingkat Pendapatan Bruto Nasional (Gross Profit National/GNP) menjadi Tingkat Kebahagiaan Nasional (Gross National Happiness/GNH) yang memerhatikan keseimbangan hidup dan jaminan sosial serta kesehatan. Inilah yang membuat Finlandia sangat mengasyikan dan sekaligus menantang kita untuk "menemukan" tak hanya keunikan negeri ini, tetapi juga GNH kita sendiri. (Imy Ferica dari Helsinki, Finlandia)

Wisata Finlandia akan tayang setiap hari Kamis di www.travel.kompas.com.

 

 


Editor : Laksono Hari W