Jumat, 19 September 2014

/ Travel

Menelusuri Situs Cagar Budaya di Sulawesi Tengah

Minggu, 18 September 2011 | 05:36 WIB

KOMPAS.com - Pagi itu mendung menyelimuti kota Palu, tetapi itu tidak mengurungkan niat kami untuk menelusuri dua situs cagar budaya megalith, yakni situs Tadulako dan Pokekea, yang berada di lembah Besoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Di Sulawesi Tengah terdapat tiga lembah yang menjadi peninggalan benda-benda megalith yaitu, Lembah Besoa, Lembah Napu dan Lembah Bada.

Akhirnya dengan menggunakan kendaraan sewa yang mematok tarif Rp 350.000 per hari, kami putuskan untuk memulai perjalanan ini. Sopir yang membawa kendaraan kami menganjurkan untuk melewati rute Sigi - Palolo - Taman Nasional Lore Lindu, dan singgah di desa Wuasa, untuk menginap semalam, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lembah Besoa.

Perjalanan menuju lembah Besoa di Lore Tengah yang berjarak 157 kilometer dari kota Palu inipun kami mulai pagi menjelang siang. Tidak seperti yang saya perkirakan, akses jalan selama perjalanan ternyata cukup menantang. Jalan yang terjal, menanjak, dan berkelok-kelok, menjadi sarapan pagi kami saat itu. Kami memang memutuskan untuk tidak buru-buru sampai ke lokasi tujuan.

Selama hampir tiga jam, rombongan kami pun tiba di Palolo. Sepanjang perjalanan tersebut, mata kami dimanjakan oleh hamparan kebun coklat yang berada di kanan kiri jalan.

Setibanya di Palolo, saya dan rombongan beristirahat sejenak di sebuah kedai kopi sebelum, melanjutkan perjalanan. Lega, itu perasaan yang saya rasakan saat istirahat di Palolo, karena sepanjang perjalanan perut saya cukup dibuat mual dengan kondisi jalan yang penuh dengan kelokan.

Ternyata rasa mual juga dirasakan oleh teman saya Anton, "Ah lega, akhirnya bisa lepas dari rasa mual selama perjalanan, apalagi kan saya duduk di kursi belakang," ungkapnya.

Setelah satu jam berlalu di sebuah kedai kopi, perjalanan kami lanjutkan menuju desa Wuasa yang berada di Lore Tengah. Perjalanan ini akan ditempuh sekitar empat jam lamanya.

Sebelum sampai di Wuasa, kami melewati hutan Taman Nasional Lore Lindu yang menjadi rumah bagi burung Rangkong. Akses jalannya pun makin terjal, menanjak dan tetap berkelok-kelok, ditambah lagi kondisi jalan yang rusak dan berlubang.

Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti sejenak saat melihat seorang wisatawan asing yang hendak masuk ke hutan Taman Nasional Lore Lindu. Wisatawan asal Jerman itu bernama Manfred. Ia merasa senang dengan kondisi hutan yang ada di Sulawesi, tapi ia menyayangkan adanya penebangan hutan.

"Ya hutan di Indonesia bagus dan masih alami, tapi sayang masih adanya penebangan hutan yang terjadi tanpa memikirkankan ekosistem yang ada," ujarnya.

Usai menghampiri wisatawan asing dan menyempatkan diri berfoto bersama, rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan yang berada di desa Wuasa, karena hari sudah makin larut. Di desa Wuasa terdapat dua penginapan yakni penginapan Sendy dan Monalisa, kedua penginapan tersebut bertarif antara Rp 75.000 - Rp 100.000.

Karena penginapan Sendy penuh, kami menginap di penginapan Monalisa. Patut diketahui juga di desa ini listrik hanya menyala pada jam 6 sore hingga jam 12 malam. Khusus di penginapan Sendy terdapat genset yang dapat digunakan bila listrik mati. Jadi bagi anda yang berwisata ke daerah Lore, gunakan waktu sebaik-baiknya dalam memanfaatkan listrik, dan yang perlu menjadi catatan bahwa sinyal telepon selular hampir tidak ada, hanya ada sebuah provider yang dapat menjangkau kawasan ini, itu pun sinyalnya lemah.

Pagi yang dingin menyambut kami saat akan melanjutkan perjalanan menuju Lembah Besoa di Lore Tengah, Poso. Salah seorang penjaga penginapan mengatakan tempat yang akan kami dituju sudah dekat.

"Lembah Besoa tempat megalith sudah dekat, kira-kira dua jam bila naik mobil," kata Yuli dengan logat bahasa Kailinya.

Dan perjalanan kami lanjutkan ke situs pertama akan kami kunjungi, yakni situs Tadulako, yang berada di Lembah Besoa, tepatnya di desa Doda. Setibanya di sana, kami harus berjalan kaki sekitar 2 kilometer untuk mencapai situs yang menjadi ikon pariwisata provinsi Sulawesi Tengah.

Arca megalith Tadulako berbentuk bulat lonjong terbuat dari batu granit dengan tinggi sekitar 196 sentimeter dan lebar 60 sentimeter. Pada zamannya, arca megalith dianggap sebagai sebuah perwujudan terhadap pemujaan arwah nenek moyang yang dimuliakan masyarakat setempat.

Arca Tadulako sendiri ditempatkan agak tinggi dan menghadap ke arah utara, karena diartikan sebagai hal tempat datangnya arwah nenek moyang. Sampai saat ini belum ada kepastian dari para arkeolog yang menyebutkan kapan awal mula dibuatnya arca ini.

Berdasar penelitian arkeologi, megalith-megalith yang ada di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal dan tahun 3.000 SM, dan yang termuda dibuat pada sekitar tahun 1300 SM. Sangat disayangkan lokasi situs arca megalith Tadulako tampak dibiarkan tidak terawat, bahkan tidak terdapat keterangan yang menjelaskan tentang sejarah arca itu. Hanya ada sebuah papan nama yang menunjukkan arah lokasi arca megalith tersebut.

Setelah puas mengunjungi arca megalith Tadulako, kami lanjutkan perjalanan menuju ke desa Hanggira, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari desa Doda. Di desa Hanggira terdapat situs yang cukup terkenal yakni Pokekea.

Mobil yang kami tumpangi tidak bisa menjangkau secara dekat ke tempat situs megalith itu berada. Beruntung kami bertemu Mandela, seorang siswa sekolah dasar yang bersedia menemani kami menuju ke lokasi situs megalith Pokekea.

Sepanjang perjalanan, kami melewati sungai kecil dan hamparan sawah nan hijau. Tak terasa, meski sedikit lelah karena matahari sangat menyengat kulit, akhirnya kami sampai di lokasi situs megalith Pokekea.

Lagi-lagi situs itu berada di tempat yang agak tinggi. Berbeda dengan Tadulako, kondisi situs ini sudah cukup terawat dengan baik. Pada jalan masuk menuju kawasan situs terdapat Tambi, yakni rumah tradisional yang sengaja dibuat untuk istirahat para wisatawan.

Pada komplek situs megalith Pokekea terdapat berbagai jenis megalith, tetapi di sini lebih didominasi jenis megalith berbentuk tong batu (Stone Vots), yang oleh masyarakat setempat disebut Kalamba, sedang tutupnya disebut Tuatena.

Kalamba berbentuk silinder, yang bagian dalamnya dilubangi menyerupai bentuk tong besar dengan ukuran tinggi bervariasi antara 1,5 meter sampai 2,7 meter, dan memiliki diameter antara 1 meter hingga 1,8 meter. Sama halnya seperti di situs Tadulako, di sini juga tidak terdapat keterangan yang menjelaskan mengenai sejarah dari peninggalan megalith yang ada di Pokekea.

Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, pada situs megalith Pokekea terdapat 8 buah Kalamba, 4 buah arca megalith, 14 buah batu Dokon, 18 buah batu Kerakel, 5 buah Dolmen, 5 buah Altar Batu, 2 buah batu Tetralit, 1 buah batu bergores, dan 2 buah Palung Batu, yang tersebar dalam satu komplek.

Setelah puas mendokumentasikan situs Pokekea, dan menikmati lanskap alam di sekitar situs, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kota Palu. Rute kami pulang ke kota Palu melewati jalur yang berbeda, yakni melewati Poso - Parigi - Palu melalui jalan trans Sulawesi.

Rute inipun masih tetap dengan jalannya yang terjal, menanjak dan berkelok, tetapi udara segar yang berasal dari lukisan alam berupa hutan yang masih asri mengiringi sepanjang perjalanan kami.


Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo